Strategi Marketing Mix Bantu UMKM Kuliner Chickinku Tasikmalaya Tingkatkan Daya Saing
Strategi pemasaran berbasis marketing mix terbukti membantu UMKM kuliner Chickinku di Kota Tasikmalaya meningkatkan daya tarik konsumen dan memperluas jangkauan pasar. Temuan ini dipublikasikan dalam penelitian yang dilakukan oleh Rida Parida Ramdani dan Ernawati dari Politeknik LP3I Tasikmalaya pada Februari–Maret 2026 dan dimuat dalam jurnal International Journal of Applied Economics, Accounting and Management (IJAEAM). Studi ini penting karena memberikan gambaran praktis bagaimana strategi pemasaran sederhana seperti 4P—produk, harga, tempat, dan promosi—masih efektif meningkatkan daya saing UMKM kuliner di tengah persaingan yang semakin ketat.
Pertumbuhan industri kuliner di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkuat strategi pemasaran. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan jumlah usaha penyediaan makanan dan minuman mencapai sekitar 5,28 juta unit pada 2024. Di Kota Tasikmalaya sendiri, jumlah UMKM meningkat dari 17.512 unit pada 2023 menjadi 28.248 unit pada 2024. Lonjakan ini menciptakan persaingan yang semakin intens sehingga strategi pemasaran menjadi faktor kunci keberhasilan usaha.
Penelitian Ramdani dan Ernawati menyoroti praktik strategi marketing mix pada UMKM Chickinku, sebuah usaha kuliner yang berdiri sejak 2020 dan memiliki tiga cabang di Tasikmalaya. Studi ini memberikan gambaran nyata bagaimana strategi pemasaran diterapkan secara langsung di lapangan serta tantangan yang masih perlu diperbaiki.
Pendekatan penelitian langsung di lapangan
Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam dengan pemilik dan karyawan, serta dokumentasi aktivitas pemasaran. Salah satu peneliti bahkan terlibat langsung dalam kegiatan operasional usaha sehingga memperoleh data yang lebih kontekstual dan detail tentang strategi pemasaran yang dijalankan.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti memotret secara nyata praktik pemasaran yang dilakukan UMKM, bukan hanya berdasarkan angka statistik, tetapi juga pengalaman operasional sehari-hari.
Produk beragam menjadi kekuatan utama
Dari sisi produk, Chickinku menawarkan variasi menu yang cukup luas, mulai dari ayam Drakor sebagai menu utama hingga 15 varian dimsum dan 7 jenis minuman. Strategi variasi produk ini terbukti menjadi salah satu kekuatan utama dalam menarik minat konsumen.
Kualitas bahan baku juga menjadi perhatian utama pelaku usaha. Konsistensi rasa dan inovasi menu dilakukan secara berkala agar produk tidak terlihat monoton di tengah persaingan bisnis kuliner yang sangat dinamis.
Strategi ini menunjukkan bahwa diferensiasi produk tetap menjadi kunci penting dalam mempertahankan loyalitas pelanggan.
Harga terjangkau menjangkau segmen luas
Strategi harga menjadi faktor kedua yang berkontribusi terhadap daya tarik Chickinku. Produk ditawarkan dengan harga yang relatif terjangkau bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Selain itu, Chickinku rutin memberikan potongan harga pada momen tertentu, seperti peluncuran menu baru atau promosi melalui platform layanan pesan antar. Kemudahan pembayaran juga diperkuat melalui sistem tunai dan non-tunai menggunakan QRIS, sehingga mempercepat transaksi sekaligus meningkatkan kenyamanan pelanggan.
Menurut Ramdani dan Ernawati dari Politeknik LP3I Tasikmalaya, kombinasi harga kompetitif dan sistem pembayaran fleksibel menjadi strategi efektif dalam meningkatkan minat beli konsumen.
Promosi digital dan bazar memperluas jangkauan pasar
Strategi promosi Chickinku memanfaatkan kombinasi pemasaran tradisional dan digital. Pada tahap awal, promosi dilakukan secara langsung dari mulut ke mulut dan door-to-door. Seiring perkembangan usaha, strategi promosi diperluas melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp.
Konten visual berupa foto produk, video aktivitas usaha, serta testimoni pelanggan menjadi alat promosi utama untuk menarik perhatian calon konsumen. Selain itu, Chickinku aktif mengikuti berbagai kegiatan bazar kuliner seperti Pasar Mambo, bazar Ramadan, dan event SunThai sebagai sarana memperkenalkan produk secara langsung kepada masyarakat.
Promosi juga diperkuat melalui platform layanan pesan antar digital seperti GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood yang membantu memperluas jangkauan pasar tanpa bergantung pada lokasi fisik usaha.
Strategi promosi berbasis digital ini menunjukkan bahwa transformasi pemasaran UMKM semakin mengarah pada integrasi antara kanal offline dan online.
Lokasi masih menjadi tantangan utama
Meski strategi produk, harga, dan promosi berjalan cukup baik, penelitian menemukan bahwa aspek lokasi masih menjadi tantangan utama bagi Chickinku.
Beberapa kendala yang diidentifikasi antara lain:
- keterbatasan area parkir bagi pelanggan
- ruang usaha yang relatif sempit
- posisi lokasi yang kurang terlihat dari jalan utama
- area tunggu dan makan yang terbatas
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kenyamanan pelanggan dan mengurangi daya saing usaha dalam jangka panjang jika tidak segera diperbaiki.
Menurut Ramdani dan Ernawati, optimalisasi aspek lokasi menjadi prioritas penting untuk meningkatkan pengalaman pelanggan sekaligus memperkuat posisi usaha di tengah persaingan industri kuliner.
Strategi 4P tetap relevan bagi UMKM modern
Penelitian ini menegaskan bahwa strategi marketing mix 4P masih relevan digunakan oleh UMKM kuliner di era digital. Kombinasi inovasi produk, harga terjangkau, promosi aktif, dan distribusi berbasis platform digital terbukti mampu meningkatkan daya tarik pasar.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan UMKM tidak selalu bergantung pada teknologi kompleks, tetapi dapat dimulai dari penguatan strategi pemasaran dasar yang dijalankan secara konsisten.
Bagi pelaku UMKM kuliner lainnya, pendekatan yang dilakukan Chickinku dapat menjadi contoh praktik sederhana namun efektif untuk meningkatkan daya saing usaha.
0 Komentar