Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Manado - Trading Halt Tak Banyak Ubah Return Saham LQ45, Tapi Pengaruhi Aktivitas Transaksi saat Pasar Naik. Penelitian yang dilakukan oleh Jordan Jastrib Janis, Joubert B. Maramis, dan Ferdinand J. Tumewu dari Universitas Sam Ratulangi dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 2 Tahun 2026 menyoroti bahwa Kebijakan penghentian sementara perdagangan saham atau trading halt di Bursa Efek Indonesia (BEI) ternyata tidak banyak mengubah tingkat keuntungan saham (return), namun berdampak pada aktivitas transaksi khususnya saat pasar sedang naik.
Penelitian yang dilakukan oleh Jordan Jastrib Janis, Joubert B. Maramis, dan Ferdinand J. Tumewu dari Universitas Sam Ratulangi menyoroti bahwa gambaran nyata tentang efektivitas kebijakan intervensi pasar dalam meredam gejolak ekstrem sekaligus membantu investor memahami dinamika pasar saham Indonesia.
Mengapa Trading Halt Perlu Dikaji?
Penelitian yang dilakukan oleh Jordan Jastrib Janis, Joubert B. Maramis, dan Ferdinand J. Tumewu dari Universitas Sam Ratulangi menyoroti bahwa gambaran nyata tentang efektivitas kebijakan intervensi pasar dalam meredam gejolak ekstrem sekaligus membantu investor memahami dinamika pasar saham Indonesia.
Mengapa Trading Halt Perlu Dikaji?
Pasar modal sering mengalami fluktuasi tajam akibat sentimen investor dan ketidakpastian ekonomi. Dalam kondisi krisis, pergerakan harga bisa menjadi tidak rasional dan memicu kepanikan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, BEI menerapkan kebijakan trading halt menghentikan sementara perdagangan agar investor memiliki waktu mencerna informasi secara lebih rasional. Namun, efektivitas kebijakan ini masih menjadi perdebatan. Apakah trading halt benar-benar mampu menstabilkan pasar? Atau justru tidak berdampak signifikan? Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan pendekatan yang lebih spesifik: membandingkan kondisi pasar saat bullish (naik) dan bearish (turun).
Metode Sederhana, Fokus pada Reaksi Pasar
Tim peneliti menggunakan metode event study, yaitu pendekatan yang melihat reaksi pasar sebelum dan sesudah suatu peristiwa penting. Data yang dianalisis berasal dari saham-saham dalam indeks LQ45 kelompok saham unggulan dengan likuiditas tinggi di BEI.
Metode Sederhana, Fokus pada Reaksi Pasar
Tim peneliti menggunakan metode event study, yaitu pendekatan yang melihat reaksi pasar sebelum dan sesudah suatu peristiwa penting. Data yang dianalisis berasal dari saham-saham dalam indeks LQ45 kelompok saham unggulan dengan likuiditas tinggi di BEI.
Dua indikator utama digunakan:
- Abnormal return: selisih antara return aktual dengan return yang diharapkan.
- Trading volume activity (TVA): tingkat aktivitas volume perdagangan saham.
Perbandingan dilakukan pada periode beberapa hari sebelum dan sesudah trading halt, baik dalam kondisi pasar bullish maupun bearish.
Temuan Utama: Return Stabil, Aktivitas Transaksi Berubah
Temuan Utama: Return Stabil, Aktivitas Transaksi Berubah
Hasil penelitian menunjukkan pola yang cukup konsisten:
Tidak ada perubahan signifikan pada abnormal return
- Baik saat pasar naik (bullish) maupun turun (bearish), trading halt tidak memicu perubahan signifikan pada keuntungan saham.
- Nilai signifikansi masing-masing sebesar 0,583 (bullish) dan 0,929 (bearish), jauh di atas ambang 0,05.
- Artinya, harga saham relatif tetap bergerak sesuai tren pasar, bukan karena efek trading halt.
Aktivitas perdagangan berubah saat pasar bullish
- Pada kondisi pasar naik, terjadi perubahan signifikan dalam volume transaksi setelah trading halt (signifikansi 0,002).
- Investor menjadi lebih aktif setelah perdagangan dibuka kembali.
Tidak ada perubahan aktivitas signifikan saat pasar bearish
- Saat pasar turun, trading halt tidak berdampak signifikan terhadap volume perdagangan (signifikansi 0,772).
- Investor cenderung menahan diri dan bersikap hati-hati.
Secara keseluruhan, trading halt lebih memengaruhi perilaku transaksi dibandingkan pergerakan harga saham.
Dinamika Psikologi Investor Jadi Kunci
Dinamika Psikologi Investor Jadi Kunci
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya faktor psikologis dalam pasar modal. Dalam kondisi bullish, investor cenderung optimistis dan aktif merespons informasi. Sebaliknya, saat bearish, mereka lebih defensif dan menghindari risiko. Hal ini menjelaskan mengapa trading halt hanya berdampak signifikan pada aktivitas transaksi di pasar yang sedang naik, tetapi tidak pada pasar yang sedang turun.
Profil Penulis
Profil Penulis
Jordan Jastrib Janis – Mahasiswa/peneliti di Universitas Sam Ratulangi, fokus pada pasar modal dan keuangan
Joubert B. Maramis – Akademisi Universitas Sam Ratulangi, bidang manajemen keuangan dan investasi
Ferdinand J. Tumewu – Dosen Universitas Sam Ratulangi, spesialis pasar modal dan perilaku investor
Sumber Penelitian
Janis, J. J., Maramis, J. B., & Tumewu, F. J. (2026). Comparative Analysis of Bullish and Bearish Stock Performance Before and After Trading Halt of LQ45 Stocks on the Indonesia Stock Exchange. Formosa Journal of Applied Sciences, Vol. 5(2), 759–778.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i2.10
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas
Sumber Penelitian
Janis, J. J., Maramis, J. B., & Tumewu, F. J. (2026). Comparative Analysis of Bullish and Bearish Stock Performance Before and After Trading Halt of LQ45 Stocks on the Indonesia Stock Exchange. Formosa Journal of Applied Sciences, Vol. 5(2), 759–778.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i2.10
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

0 Komentar