Penelitian ini menjadi penting karena TikTok kini bukan sekadar platform hiburan, tetapi juga ruang sosial tempat individu membangun identitas publik dan personal branding. Dengan jumlah pengguna yang sangat besar di Indonesia, konten viral seperti “Yareu” mampu memengaruhi tren komunikasi digital dan gaya ekspresi generasi muda.
TikTok sebagai Panggung Baru Identitas Digital
Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial telah berkembang menjadi ruang strategis bagi individu untuk menampilkan diri di hadapan publik. Platform seperti TikTok memungkinkan pengguna membuat video pendek yang menggabungkan visual, musik, dan narasi kreatif untuk menarik perhatian audiens.
Fenomena ini terlihat jelas pada konten milik Janice Kaori, seorang kreator muda yang dikenal melalui gaya review makanan dengan ekspresi khas dan tagline “Yareu”. Kata tersebut sebenarnya tidak memiliki arti baku dalam bahasa Korea, tetapi sering digunakan sebagai seruan spontan untuk menunjukkan kepuasan saat menikmati makanan.
Popularitas istilah ini meningkat pesat setelah digunakan oleh Janice Kaori dalam berbagai video review makanan di akun TikTok pribadinya. Dengan gaya penyampaian yang ekspresif, spontan, dan energik, konten tersebut kemudian diikuti oleh banyak kreator lain dan berkembang menjadi tren di kalangan pengguna TikTok di Indonesia.
Menurut Selfiani dan Imawan, fenomena ini menunjukkan bahwa ekspresi sederhana sekalipun dapat menjadi tren besar jika dikemas dengan strategi komunikasi yang tepat.
Meneliti Fenomena “Yareu” Melalui Pendekatan Dramaturgi
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk memahami bagaimana Janice Kaori membangun citra dirinya di media sosial. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap konten TikTok Janice Kaori, dokumentasi video, serta wawancara mendalam dengan audiens yang pernah melihat atau berinteraksi dengan kreator tersebut.
Para informan penelitian mencakup pengikut akun TikTok Janice Kaori, teman sekolah, hingga orang yang pernah membuat konten bersama dengannya. Informasi dari berbagai sumber tersebut kemudian dianalisis menggunakan teknik triangulasi untuk memastikan keakuratan data.
Analisis penelitian menggunakan teori dramaturgi dari sosiolog Erving Goffman, yang memandang kehidupan sosial seperti pertunjukan teater. Dalam teori ini, individu berperan sebagai aktor yang menampilkan identitas tertentu di “panggung depan” (front stage), sementara proses persiapan dan kehidupan pribadi terjadi di “panggung belakang” (back stage).
Pendekatan ini kemudian dipadukan dengan teori personal branding untuk melihat bagaimana strategi presentasi diri tersebut membentuk citra publik seorang kreator digital.
Temuan Utama: Strategi Front Stage yang Konsisten
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan Janice Kaori dalam membangun personal branding tidak terjadi secara kebetulan. Ada sejumlah elemen konsisten yang membentuk “front stage” atau panggung publiknya di TikTok.
Beberapa karakteristik utama yang ditemukan dalam penelitian antara lain:
Para peneliti menilai bahwa kombinasi elemen tersebut membentuk karakter performatif yang konsisten di mata audiens.
“TikTok berfungsi sebagai panggung utama bagi kreator untuk menampilkan identitas yang ingin mereka bangun,” tulis Selfiani dan Imawan dalam penelitian tersebut. Konsistensi dalam gaya komunikasi dan simbol visual membuat karakter kreator lebih mudah diingat oleh publik.
Di Balik Kamera: Realitas Back Stage
Meski video Janice Kaori terlihat spontan dan sederhana, penelitian ini menemukan adanya proses persiapan di balik layar yang tidak terlihat oleh penonton.
Beberapa aktivitas yang termasuk dalam “back stage” antara lain:
- Menentukan lokasi pengambilan video
- Memilih makanan yang akan direview
- Mengatur pencahayaan dan posisi kamera
- Mengulang pengambilan gambar jika hasilnya kurang sesuai
Selain itu, penelitian juga menemukan perbedaan karakter antara persona publik Janice Kaori di kamera dan kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut beberapa informan, di luar kamera Janice Kaori cenderung lebih tenang dan berbicara dengan nada yang lebih lembut. Hal ini menunjukkan bahwa karakter yang tampil di video merupakan bagian dari performa komunikasi yang dirancang untuk audiens.
Janice juga diketahui membatasi informasi pribadi yang dibagikan di media sosial. Aktivitas kehidupan pribadinya tidak sepenuhnya ditampilkan kepada publik.
Bagi peneliti, batas antara ruang publik dan privat ini merupakan strategi penting dalam menjaga konsistensi citra digital.
Personal Branding Kreator Non-Selebriti
Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah bahwa personal branding yang kuat tidak hanya dimiliki oleh selebriti atau influencer besar. Kreator biasa pun dapat membangun identitas digital yang kuat jika mampu menjaga konsistensi dalam presentasi diri.
Dalam kasus Janice Kaori, keberhasilan personal branding terbentuk melalui tiga unsur utama:
- Kepribadian yang jelas
- Keunikan karakter
- Konsistensi dalam konten
Ketiga unsur ini sejalan dengan konsep personal branding yang dikembangkan oleh pakar branding Peter Montoya.
Penelitian ini menegaskan bahwa citra digital di media sosial bukanlah sesuatu yang muncul secara spontan. Sebaliknya, citra tersebut merupakan hasil dari strategi komunikasi yang dirancang dan dipertahankan secara konsisten.
Implikasi bagi Kreator dan Industri Digital
Temuan penelitian ini memberikan sejumlah pelajaran penting bagi kreator konten, pelaku industri digital, serta peneliti komunikasi.
Pertama, kesuksesan konten viral tidak selalu bergantung pada teknologi atau efek visual yang kompleks. Karakter yang kuat dan konsisten justru dapat menjadi faktor utama yang membuat konten mudah dikenali.
Kedua, media sosial kini berfungsi sebagai ruang performatif di mana identitas digital dibangun secara strategis. Kreator perlu memahami bagaimana mengelola citra publik sekaligus menjaga batas privasi.
Ketiga, fenomena viral di TikTok menunjukkan bagaimana budaya digital dapat membentuk bahasa baru, gaya komunikasi baru, bahkan tren sosial baru dalam waktu singkat.
Profil Penulis
Sumber Penelitian
Selfiani, V., & Imawan, K. (2026). “Dramaturgical Analysis of Viral TikTok Phenomena: Case Study of Janice Kaori’s ‘Yareu’ Video.” Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5 No. 3, 369–388.
0 Komentar