Yogyakarta — Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Kenan Nalendra Wedhasmara bersama Puspo Wardoyo, Leny Candra Kurniawan, dan Amal Prihatono dari Institut Teknologi Sains dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang pada tahun 2026 menunjukkan bahwa terapi akupunktur mampu meredakan gejala hiperhidrosis atau keringat berlebih secara signifikan hanya dalam enam kali sesi perawatan. Studi ini dilakukan di Klinik Akupunktur CD Bethesda Yogyakarta dan dipublikasikan dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research.
Hiperhidrosis merupakan kondisi medis yang ditandai dengan produksi keringat berlebihan, bahkan ketika tubuh tidak memerlukannya untuk mengatur suhu. Kondisi ini sering muncul di telapak tangan, kaki, ketiak, hingga wajah. Meski tidak mengancam jiwa, dampaknya terhadap kualitas hidup cukup besar, mulai dari gangguan aktivitas sehari-hari hingga masalah psikologis seperti kecemasan dan penurunan kepercayaan diri.
Penanganan hiperhidrosis secara medis umumnya melibatkan obat-obatan, terapi listrik ringan, suntikan botoks, hingga tindakan bedah. Namun, metode tersebut tidak lepas dari risiko efek samping seperti mulut kering, gangguan saraf, hingga komplikasi lainnya. Kondisi ini mendorong pencarian alternatif terapi yang lebih aman dan minim risiko, salah satunya melalui pendekatan akupunktur.
Dalam penelitian ini, tim peneliti menggunakan pendekatan studi kasus terhadap satu pasien berusia 46 tahun yang mengalami hiperhidrosis pada telapak tangan selama beberapa tahun. Pasien juga mengalami gejala lain seperti jantung berdebar, sulit tidur, mudah cemas, dan cepat lelah. Pemeriksaan dilakukan menggunakan empat metode utama dalam akupunktur, yaitu observasi fisik, pendengaran dan penciuman, wawancara, serta perabaan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa kondisi pasien berkaitan dengan kelemahan energi pada organ jantung menurut perspektif pengobatan tradisional Tiongkok. Terapi kemudian difokuskan pada penguatan fungsi tersebut melalui penusukan jarum pada titik-titik tertentu di tubuh.
Pasien menjalani enam sesi terapi akupunktur dengan frekuensi dua kali dalam seminggu. Selain itu, terapi juga didukung dengan penggunaan lampu panas pada titik tertentu untuk meningkatkan efektivitas. Pasien juga dianjurkan menjaga pola istirahat, menghindari stres berlebih, serta menerapkan gaya hidup sehat selama masa terapi.
Hasilnya menunjukkan perubahan yang signifikan. Setelah enam sesi terapi, keringat berlebih pada telapak tangan pasien tidak lagi muncul. Selain itu, pasien melaporkan peningkatan kualitas tidur, berkurangnya kecemasan, serta kondisi tubuh yang lebih bugar. Aktivitas sehari-hari pun dapat dilakukan tanpa gangguan seperti sebelumnya.
Perubahan juga terlihat dari hasil pemeriksaan lanjutan. Secara fisik, telapak tangan pasien menjadi kering, ekspresi wajah lebih rileks, dan tanda-tanda kelemahan tubuh berkurang. Dari sisi fungsi tubuh, denyut nadi menunjukkan perbaikan, dan keluhan lain seperti jantung berdebar serta insomnia menghilang.
Menurut Kenan Nalendra Wedhasmara dari Institut Teknologi Sains dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang, hasil ini menunjukkan bahwa akupunktur tidak hanya mengatasi gejala, tetapi juga memperbaiki keseimbangan fungsi organ dalam tubuh. Pendekatan ini dinilai lebih holistik karena menyasar akar masalah, bukan sekadar meredakan gejala di permukaan.
Temuan ini juga sejalan dengan konsep dalam pengobatan tradisional Tiongkok yang melihat keringat sebagai hasil metabolisme cairan tubuh yang melibatkan berbagai organ seperti jantung, paru-paru, limpa, hati, dan ginjal. Ketidakseimbangan fungsi organ-organ tersebut dapat memicu produksi keringat berlebih.
Selain itu, penelitian ini memperkuat temuan sebelumnya yang menyebutkan bahwa stres emosional dapat memperparah hiperhidrosis. Dalam kasus ini, kondisi kecemasan pasien terbukti berkurang seiring dengan perbaikan gejala fisik, menunjukkan adanya hubungan erat antara kondisi mental dan produksi keringat.
Meski penelitian ini hanya melibatkan satu kasus, hasilnya memberikan gambaran awal yang menjanjikan mengenai efektivitas akupunktur sebagai terapi pelengkap untuk hiperhidrosis. Peneliti menyarankan agar studi lebih lanjut dengan jumlah responden yang lebih besar dilakukan untuk memperkuat temuan ini.
Bagi masyarakat, hasil penelitian ini membuka alternatif pengobatan yang lebih aman dan terjangkau, terutama bagi mereka yang mengalami hiperhidrosis namun khawatir dengan efek samping terapi medis konvensional. Dunia kesehatan juga dapat mempertimbangkan integrasi terapi komplementer seperti akupunktur dalam penanganan kondisi serupa.
0 Komentar