Tantangan Menerjemahkan Al-Qur'an: Mengapa Makna Spiritual Kitab Suci Sulit Tergantikan dalam Bahasa Inggris?

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - WASIT, IRAK – Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan kompleksitas mendalam di balik upaya menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Inggris. Studi yang dipublikasikan pada awal tahun 2026 ini menegaskan bahwa karakteristik linguistik, budaya, dan teologis yang unik dari teks asli Arab menciptakan celah makna yang hampir mustahil untuk ditutup sepenuhnya oleh bahasa asing.

Penelitian berjudul "Translating the Untranslatable: Issues in the English Rendering of Quranic Concepts" dilakukan oleh pakar translasi Asim Mahdi Al-Hilali dan Dua'a Hafidh Hussein dari Departemen Penerjemahan, Fakultas Sastra, Universitas Wasit, Irak. Dipublikasikan dalam International Journal of Advance Social Sciences and Education (IJASSE) volume 4 nomor 1, hasil studi ini menjadi krusial karena menyoroti bagaimana keterbatasan bahasa dapat memengaruhi pemahaman spiritual jutaan Muslim non-Arab serta audiens global.

Akar Masalah: Antara Bahasa Manusia dan Firman Tuhan

Bagi umat Islam, Al-Qur'an bukan sekadar teks sastra, melainkan firman langsung dari Allah yang diturunkan dalam bahasa Arab klasik. Al-Hilali dan Hussein menjelaskan bahwa setiap upaya penerjemahan pada dasarnya adalah upaya penafsiran manusia, bukan penggantian teks suci itu sendiri.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis linguistik kritis terhadap kata-kata kunci dalam Al-Qur'an, seperti yang ditemukan dalam Surat Al-Fatihah dan Surat At-Tawbah. Para peneliti membandingkan teks asli dengan berbagai terjemahan bahasa Inggris populer untuk melihat di mana letak hilangnya nuansa makna.

Ada tiga tantangan utama yang diidentifikasi oleh tim peneliti dari Universitas Wasit:

  • Tantangan Linguistik: Perbedaan struktur antara bahasa Semitik (Arab) dan bahasa Jermanik (Inggris).
  • Tantangan Budaya: Absennya konsep sosial dan historis Arab abad ke-7 dalam konteks Barat modern.
  • Tantangan Teologis: Doktrin I'jaz atau mukjizat linguistik yang meyakini bahwa keindahan dan susunan kata Al-Qur'an tidak dapat ditiru oleh manusia.

Analisis Kasus: Ketika 'Praise' dan 'Heart' Tak Lagi Cukup

Studi ini menyoroti beberapa kata spesifik yang sering kali kehilangan "jiwanya" saat diubah menjadi bahasa Inggris:

Makna Ganda dalam "Al-Hamd"

Dalam Surat Al-Fatihah, kata Al-Hamd sering diterjemahkan sebagai "Praise" (pujian). Namun, Al-Hilali dan Hussein mencatat bahwa dalam bahasa Arab, Al-Hamd mencakup dua dimensi sekaligus: pujian atas kesempurnaan Tuhan dan rasa syukur yang mendalam atas nikmat-Nya. Bahasa Inggris tidak memiliki satu kata tunggal yang mampu merangkum kombinasi pujian dan syukur secara bersamaan, sehingga pembaca Inggris mungkin kehilangan aspek emosional dari pengakuan nikmat tersebut.

Kompleksitas "Qalb" (Hati)

Kata Qalb dalam Al-Qur'an sering diterjemahkan sebagai "Heart". Namun, dalam konteks Al-Qur'an, Qalb bukan hanya pusat emosi, tetapi juga pusat intelektual, pengambilan keputusan, dan persepsi spiritual. Penelitian ini merujuk pada analisis terhadap Surat At-Tawbah ayat 8, 15, dan 45, di mana penerjemah seperti Pickthall, Abdel Haleem, serta Khan & Al-Hilali memiliki variasi yang berbeda dalam menangkap nuansa "hati yang menolak" atau "hati yang ragu". Terjemahan literal sering kali gagal menggambarkan bahwa tindakan hati dalam Al-Qur'an adalah sebuah proses kognitif yang sadar, bukan sekadar perasaan.

Densitas Semantik Akar Kata

Bahasa Arab memiliki sistem "akar kata" (biasanya tiga huruf) yang dapat melahirkan puluhan kata turunan dengan makna yang saling berkaitan namun sangat spesifik. Fenomena ini menciptakan kepadatan makna yang luar biasa. Penerjemah bahasa Inggris sering kali harus menggunakan kalimat panjang atau banyak kata untuk menjelaskan satu kata Arab, yang sayangnya justru merusak ritme dan kekuatan puitis teks aslinya.

Dampak bagi Masyarakat dan Pendidikan

Temuan dari Universitas Wasit ini memiliki implikasi besar bagi pendidikan agama dan dialog antaragama. Ketidakakuratan dalam terjemahan konsep seperti Taqwa (kesadaran akan Tuhan), Jihad (perjuangan di jalan Tuhan), atau Sharia (jalan hidup religius) dapat menyebabkan kesalahpahaman sistematis terhadap nilai-nilai Islam.

Misalnya, kata Jihad yang sering disederhanakan menjadi "Holy War" (perang suci) oleh media dan beberapa penerjemah, sebenarnya memiliki makna luas yang mencakup perjuangan spiritual internal dan reformasi sosial. Penyederhanaan ini, menurut peneliti, berisiko mendistorsi substansi teologis asli.

Bagi dunia pendidikan, studi ini merekomendasikan agar pengguna terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Inggris selalu merujuk pada catatan kaki (footnotes), glosarium, dan tafsir untuk mendapatkan konteks yang lebih utuh.

Masa Depan Penerjemahan: Kolaborasi dan Teknologi

Sebagai solusi, Al-Hilali dan Hussein mengusulkan beberapa langkah strategis untuk masa depan penerjemahan teks suci:

  • Kerja Sama Multidisiplin: Pembentukan tim yang terdiri dari ahli bahasa, sarjana Islam, dan penutur asli kedua bahasa untuk menutup celah budaya.
  • Pemanfaatan Teknologi: Pengembangan aplikasi terjemahan interaktif yang memungkinkan pembaca melihat akar kata etimologis dan berbagai tafsir sekaligus melalui fitur hyperlink.
  • Prioritas Ekuivalensi Konseptual: Mengimbau penerjemah untuk lebih fokus pada penyampaian ide yang mendasari daripada sekadar mencari kesamaan kata per kata (literal).

"Terjemahan bahasa Inggris adalah jembatan penting untuk menjangkau pesan Al-Qur'an, namun mereka tetaplah sekadar interpretasi," simpul para peneliti. Ketidakterjemahan beberapa konsep justru menjadi bukti keunikan linguistik dan kedalaman spiritual dari teks aslinya.

Profil Peneliti

Asim Mahdi Al-Hilali: Peneliti utama dan staf pengajar di Departemen Penerjemahan, College of Arts, University of Wasit, Irak. Memiliki keahlian dalam studi translasi dan linguistik Arab-Inggris.

Dua'a Hafidh Hussein: Peneliti dari University of Wasit yang fokus pada tantangan budaya dan teologis dalam penerjemahan teks-teks religius.

Sumber Penelitian:

Al-Hilali, A. M., & Hussein, D. H. (2026). Translating the Untranslatable: Issues in the English Rendering of Quranic Concepts. International Journal of Advance Social Sciences and Education (IJASSE), Vol. 4, No. 1, hlm. 19-36.

DOI: https://doi.org/10.59890/ijasse.v4i1.335

https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijasse

Posting Komentar

0 Komentar