Taktik Terowongan Hamas Efektif Secara Taktis, Namun Lemah Hadapi Teknologi Militer Modern

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Malang - Perang bawah tanah yang digunakan Hamas dalam konflik Gaza terbukti efektif secara taktis, tetapi memiliki keterbatasan strategis ketika berhadapan dengan teknologi militer modern. Temuan ini diungkap dalam penelitian oleh Joseph Robert Giri dan Suspada Siswa Putra dari Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) Malang, yang dipublikasikan pada 2026 dalam Formosa Journal of Science and Technology (FJST).

Studi ini menyoroti bagaimana taktik subterranean warfare atau perang bawah tanah berperan dalam konflik urban modern, sekaligus menjelaskan mengapa strategi tersebut tidak selalu mampu memberikan kemenangan jangka panjang. Temuan ini penting karena memberikan gambaran baru bagi pengembangan doktrin militer, khususnya bagi Indonesia dalam menghadapi ancaman asimetris seperti terorisme dan separatisme.

Perang Kota Berubah: Dari Permukaan ke Bawah Tanah

Perang modern kini tidak hanya terjadi di jalanan atau gedung-gedung tinggi, tetapi juga merambah ke bawah tanah. Dalam konflik Gaza, Hamas memanfaatkan jaringan terowongan untuk berbagai tujuan, mulai dari mobilitas pasukan, penyimpanan logistik, hingga pusat komando tersembunyi.

Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam karakter perang kota abad ke-21. Lingkungan urban yang padat dan kompleks menciptakan ruang tempur “vertikal” meliputi permukaan, bangunan, dan bawah tanah yang semakin menyulitkan operasi militer konvensional.

Penelitian Giri dan Putra menegaskan bahwa ruang bawah tanah memberikan keuntungan signifikan bagi aktor non-negara yang menghadapi kekuatan militer superior. Namun, keunggulan ini tidak bersifat mutlak.

Metode Penelitian: Studi Kasus Konflik Gaza

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksplanatori dengan metode pelacakan proses (process-tracing). Fokus utamanya adalah konflik antara Hamas dan Israel di Gaza sebagai studi kasus perang asimetris di lingkungan perkotaan.

Data dikumpulkan dari dokumen militer, literatur akademik, serta laporan lembaga strategis internasional. Analisis dilakukan untuk menghubungkan efektivitas taktis perang bawah tanah dengan dinamika operasi militer modern yang mengandalkan teknologi tinggi.

Temuan Utama: Efektif di Lapangan, Terbatas Secara Strategis

Penelitian ini menemukan dua sisi utama dari penggunaan subterranean warfare:

1. Keunggulan Taktis

  • Melindungi pasukan dan pemimpin dari serangan udara
  • Memungkinkan mobilitas tersembunyi di wilayah padat
  • Mendukung sistem komando dan kendali
  • Memberikan efek kejutan melalui serangan mendadak

Terowongan menjadi alat penting untuk menghindari konfrontasi langsung dengan musuh yang lebih kuat, sesuai dengan prinsip perang asimetris.

2. Keterbatasan Strategis

  • Mudah terdeteksi dengan teknologi ISR (Intelligence, Surveillance, Reconnaissance)
  • Rentan terhadap serangan presisi
  • Bergantung pada infrastruktur yang dapat dihancurkan
  • Tidak mampu menjaga keberlanjutan operasi jangka panjang

Israel, dengan keunggulan teknologi seperti drone, satelit, dan sensor bawah tanah, mampu memetakan serta menghancurkan jaringan terowongan Hamas secara sistematis. Akibatnya, keunggulan bawah tanah berubah dari “perlindungan” menjadi “kerentanan”.

Penelitian ini merumuskan model analitis:
Semakin tinggi keunggulan teknologi militer (ISR), semakin rendah efektivitas strategi bawah tanah.

Implikasi bagi Indonesia: Adaptasi Doktrin Sangat Mendesak

Temuan ini memiliki relevansi langsung bagi Indonesia. Meskipun tidak berada dalam konflik terbuka, Indonesia menghadapi ancaman nyata seperti terorisme dan separatisme.

Giri menjelaskan bahwa potensi penggunaan taktik bawah tanah oleh kelompok non-negara di wilayah urban Indonesia tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, diperlukan adaptasi doktrin militer, khususnya dalam:

  • Deteksi dini berbasis intelijen terintegrasi
  • Penguasaan ruang tempur vertikal (permukaan hingga bawah tanah)
  • Integrasi operasi lintas matra (darat, udara, siber)
  • Pendekatan counterinsurgency (COIN) berbasis dukungan masyarakat

Menurut Suspada Siswa Putra, strategi militer modern tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan tempur, tetapi juga legitimasi di mata masyarakat. “Kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah musuh yang dikalahkan, tetapi oleh kepercayaan rakyat terhadap negara,” ujarnya.

Dampak Lebih Luas: Pelajaran untuk Dunia Militer Modern

Penelitian ini mempertegas bahwa teknologi menjadi faktor penentu dalam konflik modern. Strategi yang efektif di tingkat taktis belum tentu berhasil secara strategis jika tidak didukung kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi.

Bagi dunia militer global, studi ini memberikan pelajaran penting:

  • Perang kota akan semakin kompleks dan multidimensi
  • Teknologi intelijen menjadi kunci dominasi medan perang
  • Strategi asimetris harus terus beradaptasi

Profil Penulis

Joseph Robert Giri, S.Si., M.Han. adalah akademisi dan peneliti di Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) Malang dengan fokus pada strategi militer dan perang modern.

Suspada Siswa Putra, S.IP., M.Han. merupakan dosen dan peneliti di Poltekad Malang yang memiliki keahlian dalam counterinsurgency, doktrin militer, dan keamanan nasional.

Sumber Penelitian

Giri, Joseph Robert & Putra, Suspada Siswa. (2026). Hamas' Subterranean Warfare Strategy and Tactics: Revolutionizing the Doctrine of Modern Urban Warfare. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 3, 805–822.

Posting Komentar

0 Komentar