Studi ini menyoroti bagaimana taktik subterranean warfare atau perang bawah tanah berperan dalam konflik urban modern, sekaligus menjelaskan mengapa strategi tersebut tidak selalu mampu memberikan kemenangan jangka panjang. Temuan ini penting karena memberikan gambaran baru bagi pengembangan doktrin militer, khususnya bagi Indonesia dalam menghadapi ancaman asimetris seperti terorisme dan separatisme.
Perang Kota Berubah: Dari Permukaan ke Bawah Tanah
Perang modern kini tidak hanya terjadi di jalanan atau gedung-gedung tinggi, tetapi juga merambah ke bawah tanah. Dalam konflik Gaza, Hamas memanfaatkan jaringan terowongan untuk berbagai tujuan, mulai dari mobilitas pasukan, penyimpanan logistik, hingga pusat komando tersembunyi.
Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam karakter perang kota abad ke-21. Lingkungan urban yang padat dan kompleks menciptakan ruang tempur “vertikal” meliputi permukaan, bangunan, dan bawah tanah yang semakin menyulitkan operasi militer konvensional.
Penelitian Giri dan Putra menegaskan bahwa ruang bawah tanah memberikan keuntungan signifikan bagi aktor non-negara yang menghadapi kekuatan militer superior. Namun, keunggulan ini tidak bersifat mutlak.
Metode Penelitian: Studi Kasus Konflik Gaza
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksplanatori dengan metode pelacakan proses (process-tracing). Fokus utamanya adalah konflik antara Hamas dan Israel di Gaza sebagai studi kasus perang asimetris di lingkungan perkotaan.
Data dikumpulkan dari dokumen militer, literatur akademik, serta laporan lembaga strategis internasional. Analisis dilakukan untuk menghubungkan efektivitas taktis perang bawah tanah dengan dinamika operasi militer modern yang mengandalkan teknologi tinggi.
Temuan Utama: Efektif di Lapangan, Terbatas Secara Strategis
Penelitian ini menemukan dua sisi utama dari penggunaan subterranean warfare:
1. Keunggulan Taktis
- Melindungi pasukan dan pemimpin dari serangan udara
- Memungkinkan mobilitas tersembunyi di wilayah padat
- Mendukung sistem komando dan kendali
- Memberikan efek kejutan melalui serangan mendadak
Terowongan menjadi alat penting untuk menghindari konfrontasi langsung dengan musuh yang lebih kuat, sesuai dengan prinsip perang asimetris.
2. Keterbatasan Strategis
- Mudah terdeteksi dengan teknologi ISR (Intelligence, Surveillance, Reconnaissance)
- Rentan terhadap serangan presisi
- Bergantung pada infrastruktur yang dapat dihancurkan
- Tidak mampu menjaga keberlanjutan operasi jangka panjang
Israel, dengan keunggulan teknologi seperti drone, satelit, dan sensor bawah tanah, mampu memetakan serta menghancurkan jaringan terowongan Hamas secara sistematis. Akibatnya, keunggulan bawah tanah berubah dari “perlindungan” menjadi “kerentanan”.
Implikasi bagi Indonesia: Adaptasi Doktrin Sangat Mendesak
Temuan ini memiliki relevansi langsung bagi Indonesia. Meskipun tidak berada dalam konflik terbuka, Indonesia menghadapi ancaman nyata seperti terorisme dan separatisme.
Giri menjelaskan bahwa potensi penggunaan taktik bawah tanah oleh kelompok non-negara di wilayah urban Indonesia tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, diperlukan adaptasi doktrin militer, khususnya dalam:
- Deteksi dini berbasis intelijen terintegrasi
- Penguasaan ruang tempur vertikal (permukaan hingga bawah tanah)
- Integrasi operasi lintas matra (darat, udara, siber)
- Pendekatan counterinsurgency (COIN) berbasis dukungan masyarakat
Menurut Suspada Siswa Putra, strategi militer modern tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan tempur, tetapi juga legitimasi di mata masyarakat. “Kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah musuh yang dikalahkan, tetapi oleh kepercayaan rakyat terhadap negara,” ujarnya.
Dampak Lebih Luas: Pelajaran untuk Dunia Militer Modern
Penelitian ini mempertegas bahwa teknologi menjadi faktor penentu dalam konflik modern. Strategi yang efektif di tingkat taktis belum tentu berhasil secara strategis jika tidak didukung kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi.
Bagi dunia militer global, studi ini memberikan pelajaran penting:
- Perang kota akan semakin kompleks dan multidimensi
- Teknologi intelijen menjadi kunci dominasi medan perang
- Strategi asimetris harus terus beradaptasi
Profil Penulis
Joseph Robert Giri, S.Si., M.Han. adalah akademisi dan peneliti di Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) Malang dengan fokus pada strategi militer dan perang modern.
Suspada Siswa Putra, S.IP., M.Han. merupakan dosen dan peneliti di Poltekad Malang yang memiliki keahlian dalam counterinsurgency, doktrin militer, dan keamanan nasional.
0 Komentar