Siswa SD di Dili Pahami Moralitas sebagai Kebaikan, Namun Tantangan Perundungan Ringan Masih Membayangi

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - DILI – Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh para akademisi dari Universitas Nasional Timor Lorosa'e (UNTL) mengungkapkan dinamika menarik mengenai bagaimana anak-anak usia sekolah dasar memahami dan mempraktikkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Dipimpin oleh Alexandra de Araujo Tilman, studi yang dirilis pada awal tahun 2026 ini menyoroti bahwa meskipun siswa memiliki pemahaman teoritis yang kuat tentang perilaku baik, tantangan dalam bentuk perundungan (bullying) ringan masih menjadi pekerjaan rumah bagi pendidik dan orang tua.

Penelitian ini menjadi sangat krusial karena masa sekolah dasar merupakan periode transisi penting bagi anak. Pada fase ini, anak-anak mulai bergeser dari pola pikir yang berpusat pada diri sendiri (egosentris) menuju pemahaman sosial yang lebih luas. Temuan Alexandra de Araujo Tilman dan timnya memberikan fondasi penting bagi pengembangan strategi pendidikan karakter yang lebih efektif di Timor-Leste dan wilayah sekitarnya.

Membedah Moralitas dari Kacamata Anak-Anak

Untuk mendapatkan gambaran yang autentik, tim peneliti melakukan studi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi di EBC Bidau Masau, sebuah sekolah dasar negeri di Dili. Sebanyak 20 siswa kelas empat dan lima terlibat langsung dalam wawancara mendalam serta observasi perilaku.

Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas siswa mendefinisikan moralitas secara sederhana namun konkret, yakni "berbuat baik kepada teman" dan "tidak berbohong". Pemahaman ini tidak hanya muncul dari interaksi sosial, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai religius. Beberapa siswa secara eksplisit mengaitkan perilaku buruk, seperti mencuri, dengan konsep dosa, yang menunjukkan bahwa ajaran agama menjadi fondasi normatif utama dalam membedakan benar dan salah bagi mereka.

Antara Empati dan Realitas Perundungan

Dalam praktiknya, para peneliti menemukan banyak perilaku positif yang membanggakan, seperti budaya saling tolong-menolong saat ada teman yang jatuh atau mengalami kesulitan. Sikap ini menunjukkan adanya benih empati dan solidaritas yang mulai tumbuh subur di lingkungan sekolah.

Namun, studi ini juga mengungkap sisi lain yang perlu diwaspadai. Alexandra de Araujo Tilman mencatat masih adanya kasus perundungan ringan (mild bullying) di lingkungan sekolah. Perilaku ini biasanya muncul dalam bentuk ejekan nama, sindiran terkait keluarga, hingga gangguan fisik ringan. Fenomena ini menunjukkan adanya celah atau "gap" antara apa yang dipahami siswa secara moral dengan tindakan yang mereka lakukan di lapangan.

Faktor Penentu Karakter Anak

Penelitian ini mengidentifikasi dua faktor besar yang saling bersinergi dalam membentuk moralitas anak:

  • Faktor Internal: Meliputi kemampuan empati, tipe kepribadian, dan pemahaman agama yang dimiliki anak sejak dini. Empati menjadi mesin utama yang menggerakkan anak untuk peduli pada kondisi orang lain.
  • Faktor Eksternal: Peran guru sebagai teladan utama di sekolah sangatlah vital. Selain itu, aturan sekolah yang konsisten serta dukungan penuh dari orang tua dalam memberikan bimbingan di rumah menjadi faktor penentu apakah nilai moral tersebut akan terinternalisasi dengan baik atau tidak.

Rekomendasi bagi Pendidik dan Orang Tua

Berdasarkan temuan tersebut, Alexandra de Araujo Tilman dan tim pengajar dari UNTL menyarankan beberapa langkah strategis:

  • Integrasi Moralitas di Semua Mata Pelajaran: Pendidikan moral tidak boleh terjebak hanya pada pelajaran agama atau kewarganegaraan, tetapi harus menyatu dalam setiap aktivitas akademik.
  • Program Pembiasaan Kreatif: Sekolah disarankan menciptakan program seperti "Jumat Berbagi" atau "Sahabat Peduli" untuk melatih sensitivitas sosial siswa secara rutin.
  • Sinergi Sekolah dan Rumah: Orang tua harus menjadi model nyata di rumah. Kejujuran dan kepedulian yang ditunjukkan orang tua akan lebih membekas daripada sekadar nasihat lisan.

Studi ini menegaskan bahwa membentuk karakter bangsa dimulai dari hal-hal kecil di bangku sekolah dasar. Dengan kolaborasi yang kuat antara guru, sekolah, dan orang tua, tantangan seperti perundungan dapat ditekan, dan generasi masa depan yang berakhlak mulia dapat diwujudkan.

Profil Peneliti

Artikel ilmiah ini disusun oleh tim pakar dari Faculdade de Educação e Humanidades, Universidade Nasional Timor Lorosa'e (UNTL). Tim peneliti terdiri dari:

  • Alexandra de Araujo Tilman (Penulis Korespondensi) – Pakar pendidikan dengan fokus pada pengembangan karakter anak.
  • Manuela Monteiro Conceição, Filomeno Amaral Bria, Eduardo da Costa Guterres, Teofilo Amaral Sarmento, dan Domingos Verdinal – Akademisi dan peneliti di bidang ilmu pendidikan dan humaniora yang aktif dalam mengkaji dinamika sosial pendidikan di Timor-Leste.

Referensi Penelitian

Judul Artikel: Students' Understanding and Practice of Morality at EBC Bidau Masau Elementary School in Dili, Timor-Leste: A Qualitative Study Jurnal: International Journal of Advance Social Sciences and Education (IJASSE), Vol. 4, No. 1, 2026 Penerbit: Multitech Publisher DOI: https://doi.org/10.59890/ijasse.v4i1.341

https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijasse

Posting Komentar

0 Komentar