Program JAPATI di Bogor Selatan Bantu Tekan Angka Putus Sekolah, Namun Tantangan Masih Ada


Gambar dibuat oleh AI

Program Anti-Dropout Application Network (JAPATI) di Bogor Selatan terbukti membantu menekan angka putus sekolah, berdasarkan penelitian tahun 2026 oleh R. Oetje Subagdja, Irma Purnamasari, dan Raden Siti Halimah dari Universitas Djuanda. Studi yang dipublikasikan di International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS) ini menunjukkan bahwa program berbasis digital tersebut berjalan dengan kategori “baik”, meskipun masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan.

Temuan ini penting karena masalah putus sekolah masih menjadi isu serius di Indonesia, terutama pada jenjang pendidikan dasar yang berperan dalam membentuk kemampuan dasar anak.

Di Bogor Selatan, persoalan ini terlihat nyata. Data menunjukkan bahwa sepanjang 2020 hingga 2025 terdapat 904 anak usia sekolah dasar yang tidak bersekolah. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti keterbatasan ekonomi keluarga, rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, serta keterbatasan akses layanan pendidikan.

Sebagai respons, Pemerintah Kota Bogor meluncurkan program JAPATI melalui Peraturan Wali Kota Nomor 133 Tahun 2020. Program ini memanfaatkan aplikasi digital untuk mendata, memantau, dan menindaklanjuti anak-anak yang berisiko putus sekolah atau sudah keluar dari sekolah. Sistem ini memungkinkan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk melakukan intervensi secara lebih cepat dan terkoordinasi.

Penelitian yang dilakukan oleh tim Universitas Djuanda ini melibatkan 110 responden, terdiri dari aparatur pemerintah, tutor dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), serta orang tua peserta program. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, observasi, dan studi literatur, lalu dianalisis menggunakan pendekatan evaluasi implementasi kebijakan yang sederhana dan terukur.

Hasilnya menunjukkan bahwa pelaksanaan program JAPATI berjalan cukup efektif. Nilai rata-rata mencapai 4,19 dari aparatur dan 4,18 dari masyarakat, keduanya masuk kategori “baik”. Ini menunjukkan bahwa program telah berjalan sesuai tujuan, yaitu membantu anak kembali mendapatkan akses pendidikan.

Beberapa temuan utama dalam penelitian ini antara lain:

  • Komunikasi program berjalan sangat baik
    Informasi mengenai JAPATI disampaikan secara jelas dan konsisten. Berdasarkan tabel pada halaman 5, dimensi komunikasi memperoleh nilai di atas 4,2 dan masuk kategori sangat baik.
  • Sumber daya cukup memadai
    Tenaga kerja, fasilitas, dan anggaran dinilai cukup mendukung pelaksanaan program, meskipun masih ada keterbatasan terutama pada jumlah tutor dan luas wilayah layanan.
  • Komitmen pelaksana tinggi
    Aparatur menunjukkan tanggung jawab dan kepedulian dalam menangani kasus anak putus sekolah, termasuk dalam merespons laporan dari masyarakat.
  • Struktur birokrasi mendukung
    Koordinasi antara Dinas Pendidikan, PKBM, dan masyarakat berjalan baik dengan pembagian tugas yang jelas serta sistem data yang terintegrasi.

Meski demikian, penelitian ini juga mengungkap sejumlah kendala yang masih perlu diperbaiki.

Salah satu masalah utama adalah belum meratanya sosialisasi program. Beberapa orang tua masih mengalami kesulitan dalam memahami penggunaan aplikasi JAPATI. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan komunikasi yang lebih intensif dan inklusif.

Faktor ekonomi juga menjadi hambatan besar. Banyak anak yang harus membantu orang tua bekerja sehingga tidak dapat melanjutkan pendidikan. Tanpa solusi terhadap masalah ekonomi keluarga, upaya pencegahan putus sekolah akan sulit berjalan optimal.

Selain itu, rendahnya motivasi sebagian anak untuk kembali bersekolah juga menjadi tantangan tersendiri. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan teknologi saja tidak cukup tanpa dukungan sosial dan psikologis.

Raden Siti Halimah dari Universitas Djuanda menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada sistem digital. Ia menyampaikan bahwa pendampingan berkelanjutan, komunikasi yang kuat, serta keterlibatan masyarakat sangat penting untuk memastikan anak benar-benar kembali ke sekolah.

Implikasi penelitian ini cukup luas. Bagi pemerintah, program JAPATI dapat menjadi model inovasi kebijakan berbasis digital untuk menangani masalah pendidikan. Bagi tenaga pendidik, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya peran pendampingan langsung selain penggunaan teknologi.

Bagi masyarakat, penelitian ini menunjukkan bahwa peran keluarga dan lingkungan sangat menentukan keberhasilan anak dalam mengakses pendidikan. Program pemerintah akan lebih efektif jika didukung oleh partisipasi aktif masyarakat.

Penelitian ini juga memberikan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas program. Di antaranya adalah peningkatan anggaran untuk kegiatan lapangan, penguatan layanan bimbingan dan konseling di PKBM, serta perluasan sosialisasi melalui tokoh masyarakat dan media digital. Kolaborasi dengan berbagai pihak dinilai penting untuk memperluas jangkauan program.

Profil penulis:

R. Oetje Subagdja, S.P., M.Si. adalah dosen di Universitas Djuanda yang fokus pada kebijakan publik dan pembangunan daerah.
Irma Purnamasari, S.Sos., M.Si. merupakan akademisi administrasi publik di Universitas Djuanda dengan keahlian di bidang implementasi kebijakan.
Raden Siti Halimah adalah peneliti di Universitas Djuanda yang menekuni bidang kebijakan pendidikan dan pembangunan sosial.

Sumber penelitian:
Subagdja, R. O., Purnamasari, I., & Halimah, R. S. (2026). Implementation of the Anti-Dropout Application Network (JAPATI) Program in South Bogor. International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS), Vol. 4 No. 3, 201–214.

Penelitian ini menegaskan bahwa inovasi digital seperti JAPATI mampu menjadi solusi nyata dalam menekan angka putus sekolah. Namun, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada dukungan sumber daya, keterlibatan masyarakat, serta solusi terhadap masalah sosial dan ekonomi yang mendasarinya.

Posting Komentar

0 Komentar