Sektor Unggulan Jadi Kunci Percepatan Pembangunan Lombok Utara

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Lombok Utara - Kabupaten Lombok Utara masih tergolong daerah tertinggal dengan berbagai tantangan pembangunan. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Amilatus Nafisah dan Mohammad Wahed dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (2026) mengungkap sektor-sektor ekonomi yang berpotensi menjadi motor penggerak pembangunan daerah tersebut. Studi ini penting karena memberikan arah strategis dalam mengurangi ketertinggalan melalui penguatan sektor unggulan berbasis data ekonomi terkini .

Lombok Utara menghadapi masalah multidimensi, mulai dari kualitas sumber daya manusia yang rendah, tingkat kemiskinan yang tinggi, keterbatasan infrastruktur, hingga kerentanan terhadap bencana alam. Data menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di daerah ini masih lebih tinggi dibanding rata-rata Provinsi Nusa Tenggara Barat, meskipun mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menjadikan identifikasi sektor unggulan sebagai langkah penting untuk mempercepat pembangunan ekonomi daerah .

Metodologi Sederhana Berbasis Data Nyata

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2018–2023. Analisis dilakukan dengan berbagai metode ekonomi regional seperti Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), Shift Share, Tipologi Klassen, dan Multiplier Effect.

Secara sederhana, metode ini digunakan untuk:

  • Mengidentifikasi sektor yang paling kuat dibanding daerah lain
  • Menilai potensi pertumbuhan sektor ke depan
  • Mengukur daya saing sektor
  • Menentukan dampak ekonomi terhadap masyarakat

Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat kondisi ekonomi Lombok Utara secara menyeluruh dan berbasis data.

Temuan Utama: Tiga Sektor Unggulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga sektor utama yang menjadi tulang punggung ekonomi Lombok Utara, yaitu:

  1. Sektor penyediaan listrik dan gas
  2. Sektor air, pengelolaan sampah, dan limbah
  3. Sektor jasa lainnya (termasuk pariwisata dan layanan masyarakat)

Ketiga sektor ini terbukti memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan pembangunan daerah.

Selain itu, berdasarkan analisis pada Tabel LQ di halaman 7, terdapat hingga 10 sektor basis (LQ > 1), termasuk pertanian, perdagangan, akomodasi, dan pendidikan. Namun, tidak semua sektor tersebut memiliki pertumbuhan dan daya saing yang kuat secara berkelanjutan .

Sektor Jasa Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

Di antara sektor unggulan, sektor jasa lainnya menjadi yang paling menonjol. Sektor ini mencakup berbagai aktivitas seperti pariwisata, jasa pribadi, dan layanan berbasis masyarakat.

Kontribusinya terlihat dari:

  • Penyerapan tenaga kerja yang tinggi
  • Peningkatan kunjungan wisata (khususnya di kawasan Gili)
  • Dampak langsung terhadap ekonomi lokal seperti kuliner, transportasi, dan homestay

Peneliti menjelaskan bahwa sektor ini memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang cukup signifikan karena mampu menggerakkan sektor lain secara langsung .

Infrastruktur Dasar Jadi Fondasi Penting

Sementara itu, sektor listrik, gas, serta air dan pengelolaan limbah berperan sebagai fondasi pembangunan. Kedua sektor ini mungkin tidak memberikan efek ekonomi langsung yang besar, tetapi sangat penting untuk mendukung aktivitas sektor lain.

Misalnya:

  • Infrastruktur listrik meningkatkan produktivitas industri dan pariwisata
  • Sistem air bersih dan pengelolaan sampah mendukung kesehatan dan lingkungan
  • Pengembangan energi terbarukan menekan biaya operasional

Dalam analisis Tipologi Klassen (halaman 12), kedua sektor ini masuk kategori sektor unggulan yang berkembang pesat dan kompetitif .

Tantangan: Daya Saing dan Dampak Ekonomi Masih Terbatas

Meski memiliki sektor unggulan, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan serius:

  • Banyak sektor belum kompetitif dibanding tingkat provinsi
  • Efek pengganda ekonomi masih rendah (rata-rata 1,00–1,55)
  • Keterkaitan antar sektor masih lemah

Sebagai contoh, sektor listrik dan air hanya memiliki multiplier effect sebesar 1,00, yang berarti dampaknya hanya langsung tanpa efek lanjutan ke sektor lain .

Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya menciptakan siklus ekonomi yang kuat di dalam daerah.

Implikasi: Arah Kebijakan dan Pembangunan Daerah

Hasil penelitian ini memberikan beberapa implikasi penting:

  • Pemerintah daerah perlu memperkuat keterkaitan antar sektor ekonomi
  • Pengembangan sektor jasa, khususnya pariwisata, harus terus didorong
  • Investasi pada infrastruktur dasar harus tetap menjadi prioritas
  • Penggunaan sumber daya lokal perlu ditingkatkan untuk mengurangi kebocoran ekonomi

Amilatus Nafisah menekankan bahwa sektor jasa memiliki keunggulan karena lebih inklusif dan langsung menyentuh masyarakat, sementara sektor utilitas menjadi penopang utama aktivitas ekonomi daerah.

Profil Penulis

Amilatus Nafisah, adalah peneliti di bidang ekonomi pembangunan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Mohammad Wahed, merupakan akademisi dan dosen yang memiliki keahlian dalam ekonomi regional dan pembangunan wilayah.

Sumber Penelitian

Nafisah, A., & Wahed, M. (2026). Analysis of Leading Sector Potential as an Effort to Alleviate Underdeveloped Areas in North Lombok Regency. Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 3, 747–766.

URL: https://journalfjmr.my.id/index.php/fjmr

Posting Komentar

0 Komentar