Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Jakarta - Riset UKI: Kota Tua Jakarta Belum Penuhi Kriteria Warisan Dunia UNESCO. Penelitian
yang dilakukan oleh Dr. Ir. M. Maria Sudarwani, M.Arch bersama Sri Pare Eni,
Gabriela Natasya, dan Candra Dwi W dari Universitas Kristen Indonesia dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa
Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 2 Tahun 2026 menyoroti bahwa Kota
Tua Jakarta telah masuk dalam Tentative List UNESCO sejak 2015 dengan
nama “The Historic Old City of Jakarta and the 4 Outlying Islands”, namun
hingga kini belum berhasil meraih status resmi Warisan Dunia.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ir. M. Maria Sudarwani, M.Arch bersama Sri Pare Eni, Gabriela Natasya, dan Candra Dwi W dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa persoalan mendasar: lemahnya aspek keaslian (authenticity) dan keutuhan kawasan (integrity).
Warisan Kolonial yang Sarat Sejarah
Kota Tua Jakarta, dulu dikenal sebagai Batavia—merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan pada masa VOC hingga awal abad ke-20. Jejak sejarahnya masih terlihat dari pola jalan, kanal, hingga bangunan kolonial yang mengelilingi Taman Fatahillah dan Kali Besar. Dalam konteks global, kawasan ini dinilai memiliki potensi Outstanding Universal Value (OUV), yakni nilai universal luar biasa yang menjadi syarat utama pengakuan UNESCO. Namun laporan evaluasi UNESCO dan ICOMOS sebelumnya menyebutkan bahwa perubahan fungsi bangunan, renovasi tanpa standar konservasi, serta tekanan komersialisasi telah mengurangi nilai historis kawasan.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ir. M. Maria Sudarwani, M.Arch bersama Sri Pare Eni, Gabriela Natasya, dan Candra Dwi W dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa persoalan mendasar: lemahnya aspek keaslian (authenticity) dan keutuhan kawasan (integrity).
Warisan Kolonial yang Sarat Sejarah
Kota Tua Jakarta, dulu dikenal sebagai Batavia—merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan pada masa VOC hingga awal abad ke-20. Jejak sejarahnya masih terlihat dari pola jalan, kanal, hingga bangunan kolonial yang mengelilingi Taman Fatahillah dan Kali Besar. Dalam konteks global, kawasan ini dinilai memiliki potensi Outstanding Universal Value (OUV), yakni nilai universal luar biasa yang menjadi syarat utama pengakuan UNESCO. Namun laporan evaluasi UNESCO dan ICOMOS sebelumnya menyebutkan bahwa perubahan fungsi bangunan, renovasi tanpa standar konservasi, serta tekanan komersialisasi telah mengurangi nilai historis kawasan.
Fokus pada Arsitektur Art Deco
Penelitian ini secara khusus mengkaji tipologi bangunan cagar budaya bergaya Art Deco di Kota Tua. Gaya ini berkembang pada awal abad ke-20 dan menjadi simbol modernitas kolonial yang beradaptasi dengan iklim tropis Hindia Belanda.
Empat bangunan utama yang dianalisis adalah:
- Gedung Jasindo.
- Museum Bank Mandiri.
- Museum Bank Indonesia.
- Stasiun Jakarta Kota.
Keempatnya menampilkan ciri khas Art
Deco seperti komposisi simetris, bentuk geometris tegas, jendela vertikal
berulang, serta adaptasi tropis berupa plafon tinggi dan ventilasi silang. Tim peneliti menemukan bahwa sebagian
bangunan masih mempertahankan karakter aslinya, namun sebagian lain telah
mengalami perubahan material dan elemen fasad yang mengurangi nilai
autentiknya.
Tiga Kategori Kondisi Bangunan
Berdasarkan observasi lapangan,
dokumentasi visual, studi literatur, dan wawancara, bangunan di Kota Tua
diklasifikasikan menjadi tiga kategori:
- Bangunan terawat baik, Contohnya Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia, dan Museum Bank Mandiri. Restorasi dilakukan dengan mempertahankan fasad asli dan metode konservasi material.
- Bangunan direvitalisasi tetapi kehilangan sebagian keaslian, Misalnya ruko kolonial di Jalan Kali Besar Barat yang mengganti jendela kayu dengan aluminium atau menambahkan papan reklame besar.
- Bangunan terbengkalai, Beberapa ruko di Jalan Pintu Besar Utara dan bangunan lama yang ditutup seng tanpa pemeliharaan.
Temuan ini menunjukkan ketimpangan
intervensi konservasi di dalam kawasan inti.
Rekomendasi Strategis
Penelitian ini merekomendasikan
sejumlah langkah konkret:
- Memperkuat pedoman desain berbasis kajian sejarah.
- Membentuk dana khusus konservasi untuk membantu pemilik bangunan kecil.
- Mengendalikan tinggi dan gaya arsitektur bangunan baru.
- Mengembangkan program edukasi publik dan interpretasi sejarah.
- Membangun sistem pengelolaan kolaboratif berbasis komunitas.
Pendekatan ini dinilai dapat
memperkuat narasi OUV sekaligus menjaga Kota Tua sebagai kawasan hidup yang
berkelanjutan, bukan sekadar museum terbuka.
Profil Penulis
Dr. Ir. M. Maria Sudarwani, M.Arch adalah dosen dan peneliti di Universitas Kristen Indonesia dengan keahlian di bidang arsitektur konservasi dan pelestarian kawasan bersejarah.
Sri Pare Eni, Gabriela Natasya, dan
Candra Dwi W merupakan akademisi dan peneliti di Universitas Kristen Indonesia
yang fokus pada studi arsitektur dan pengembangan kawasan heritage.
Sumber Penelitian
Sudarwani, M. Maria; Eni, Sri Pare; Natasya, Gabriela; Dwi W, Candra. 2026. The Efforts to Preserve and Develop Jakarta's Old City to Meet the Criteria as a World Heritage Site. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS), Vol. 5 No. 2, halaman 663–676.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i2.19
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas
Sumber Penelitian
Sudarwani, M. Maria; Eni, Sri Pare; Natasya, Gabriela; Dwi W, Candra. 2026. The Efforts to Preserve and Develop Jakarta's Old City to Meet the Criteria as a World Heritage Site. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS), Vol. 5 No. 2, halaman 663–676.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i2.19
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

0 Komentar