Penelitian yang
dipublikasikan pada 2026 oleh Dellya Sulianti, Muhammad Husein Maruapey, dan
Oetje Subagdja dari Universitas Djuanda
menegaskan bahwa kompetensi sumber daya manusia, kualitas kepemimpinan, serta
kesiapan sarana dan prasarana menjadi faktor utama yang menentukan kualitas
pelayanan publik di Puskesmas Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Studi ini
diterbitkan dalam International Journal of
Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS) Vol. 4 No. 2 Tahun
2026. Temuan ini relevan di tengah meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap
pelayanan kesehatan yang cepat, profesional, dan transparan.
Artikel berjudul “Factors Analysis that Influence Public Services at
Gunung Putri Community Health Center” mengulas secara mendalam bagaimana
faktor internal organisasi dan kondisi eksternal masyarakat memengaruhi
efektivitas layanan di salah satu puskesmas dengan cakupan penduduk terbesar di
Bogor.
Melayani Lebih dari 100 Ribu Warga
Puskesmas Gunung
Putri beroperasi di wilayah dengan pertumbuhan penduduk yang pesat. Berdasarkan
data proyeksi 2024 yang dikutip dalam penelitian, fasilitas ini melayani
sekitar 102.765 jiwa yang tersebar di beberapa desa, termasuk Wanaherang,
Cicadas, dan Cikeas Udik.
Sebagai fasilitas
kesehatan tingkat pertama, puskesmas ini menyediakan layanan promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Layanannya mencakup pemeriksaan umum,
kesehatan ibu dan anak, imunisasi, serta pengelolaan penyakit. Pada 2023,
Puskesmas Gunung Putri memperoleh akreditasi paripurna dan menerapkan pola
pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), yang memberikan
fleksibilitas dalam manajemen operasional.
Dalam sistem
kesehatan Indonesia, puskesmas menjadi garda terdepan pelayanan publik.
Kualitas layanan di tingkat ini sangat menentukan kepercayaan masyarakat
terhadap pemerintah.
Metode: Pendekatan Kualitatif dan Studi Kasus
Tim peneliti dari Universitas
Djuanda menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus naratif.
Data diperoleh melalui pengamatan dan wawancara dengan pihak internal
puskesmas, serta analisis terhadap proses pelayanan yang berlangsung secara
langsung.
Pendekatan ini
memungkinkan peneliti memahami dinamika organisasi, pola kepemimpinan,
kapasitas tenaga kesehatan, serta interaksi dengan masyarakat secara menyeluruh
tanpa menggunakan analisis statistik yang rumit.
Temuan Utama: Faktor Internal Paling Dominan
Penelitian
menunjukkan bahwa kekuatan internal organisasi menjadi penentu utama kualitas
layanan publik.
1. Kompetensi
Sumber Daya Manusia
SDM menjadi fondasi
utama pelayanan.
Penelitian
menemukan bahwa:
- Ketersediaan tenaga kesehatan yang memadai mempercepat waktu layanan.
- Kompetensi profesional meningkatkan ketepatan diagnosis dan keselamatan pasien.
- Disiplin kerja memastikan pelayanan sesuai standar operasional.
- Kemampuan komunikasi dan empati memperkuat kepercayaan pasien.
Kekurangan tenaga
kerja meningkatkan beban kerja dan berpotensi menurunkan kualitas pelayanan.
Karena itu, pelatihan berkelanjutan dan pengembangan kompetensi menjadi
kebutuhan strategis.
2. Kepemimpinan
Kepala Puskesmas
Kepemimpinan
memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi.
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kepemimpinan yang tegas, komunikatif, dan partisipatif:
- Memberikan arah dan visi pelayanan yang jelas.
- Meningkatkan disiplin serta akuntabilitas.
- Mendorong motivasi dan kerja sama tim.
- Memperkuat koordinasi antarunit layanan.
Dellya Sulianti dan
tim dari Universitas Djuanda menekankan bahwa pengawasan rutin dan evaluasi
berkala membantu menjaga konsistensi mutu layanan.
3. Sarana dan
Prasarana
Ketersediaan fasilitas yang memadai berpengaruh langsung terhadap
kenyamanan dan kecepatan layanan.
Beberapa poin
penting yang diidentifikasi:
- Ruang pemeriksaan yang cukup memperlancar alur pasien.
- Peralatan medis yang lengkap mendukung akurasi tindakan.
- Sistem pendaftaran digital mempercepat proses administrasi.
- Lingkungan yang bersih dan tertata meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Integrasi sistem
informasi kesehatan membantu pengelolaan data pasien secara efisien dan
mengurangi antrean.
Faktor
Eksternal Turut Mempengaruhi
Selain faktor
internal, kondisi eksternal juga memberi tekanan terhadap layanan.
Tingginya Jumlah Kunjungan
Pasien
Pertumbuhan
penduduk dan meningkatnya kesadaran kesehatan menyebabkan lonjakan kunjungan harian.
Tanpa manajemen antrean yang baik, pelayanan dapat melambat.
Karakteristik Masyarakat
Perbedaan
tingkat pendidikan dan pemahaman prosedur administrasi memengaruhi kelancaran
layanan. Edukasi publik yang konsisten dapat membantu mengurangi hambatan administratif.
Dukungan Pemangku
Kepentingan
Dukungan pemerintah daerah, alokasi anggaran, serta keterlibatan tokoh masyarakat memperkuat pelaksanaan program kesehatan, terutama dalam kegiatan promotif dan preventif.
Implikasi bagi Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Temuan penelitian
ini memberikan sejumlah rekomendasi strategis:
- Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan harus disesuaikan dengan pertumbuhan penduduk.
- Penguatan kapasitas kepemimpinan kepala puskesmas perlu menjadi agenda prioritas.
- Investasi pada digitalisasi layanan harus berjalan seiring peningkatan infrastruktur fisik.
- Edukasi masyarakat mengenai prosedur layanan dapat meningkatkan efisiensi.
- Kolaborasi lintas sektor memperluas jangkauan program kesehatan.
Menurut Dellya
Sulianti dari Universitas Djuanda, kualitas pelayanan publik tidak hanya
bergantung pada prosedur administratif, tetapi juga pada kapasitas manusia dan
kepemimpinan yang mampu menggerakkan organisasi. Sinergi antara SDM
profesional, manajemen yang kuat, dan dukungan lingkungan menjadi kunci
keberhasilan layanan kesehatan primer.
Sumber Penelitian
Sulianti, Dellya; Maruapey, Muhammad Husein; Subagdja,
Oetje.
“Factors Analysis that Influence Public Services at Gunung Putri Community
Health Center.”
International Journal of Applied Research and
Sustainable Sciences (IJARSS), Vol. 4 No. 2, 2026.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijarss.v4i2.194

0 Komentar