Risiko Harga Cabai Rawit Hijau dan Merah di Pasar Lama dan Pasar Baru Mamuju

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS- Mamuju

Harga Cabai Rawit di Mamuju Stabil, Risiko Pasar Tradisional Hampir Nol

Harga cabai rawit hijau dan cabai merah keriting di dua pasar tradisional utama Kota Mamuju terbukti sangat stabil dan nyaris tanpa risiko. Temuan ini berasal dari riset terbaru yang ditulis oleh Ernawaty Mappigau dan Sri Mardiyati dari Program Doktor Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Makassar, dan dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Contemporary Sciences. Studi ini penting karena cabai merupakan komoditas pangan yang kerap memicu inflasi dan keresahan publik akibat fluktuasi harga yang tajam.

Penelitian dilakukan pada Januari 2026 dengan memantau harga cabai rawit hijau dan cabai merah keriting di Pasar Lama dan Pasar Baru Mamuju. Hasilnya menunjukkan bahwa selama periode pengamatan, harga di kedua pasar tidak berubah sama sekali. Kondisi ini menghasilkan tingkat risiko harga yang sangat rendah, bahkan mendekati nol, baik bagi pedagang maupun konsumen.

Cabai dan Sensitivitas Harga di Indonesia

Di Indonesia, cabai bukan sekadar bahan dapur. Komoditas ini sering menjadi indikator inflasi pangan dan berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. Kenaikan harga cabai kerap memicu kepanikan konsumen dan tekanan ekonomi bagi pedagang kecil.

Kota Mamuju memiliki dua pasar tradisional dengan karakter berbeda. Pasar Lama berfungsi sebagai pasar sentral yang melayani kebutuhan inti kota, sementara Pasar Baru melayani wilayah yang lebih luas dan bersifat regional. Perbedaan struktur pasar ini biasanya memicu variasi harga. Namun, penelitian ini justru menemukan konsistensi harga yang kuat di kedua lokasi.

Cara Peneliti Mengkaji Risiko Harga

Para peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif berbasis data harga mingguan. Data diambil dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), sumber resmi yang digunakan pemerintah dan pelaku pasar.

Ciri utama metode penelitian ini meliputi:

  • Periode pengamatan: 12–15 Januari 2026
  • Komoditas: cabai rawit hijau dan cabai merah keriting
  • Lokasi: Pasar Lama dan Pasar Baru, Kota Mamuju
  • Indikator utama: Coefficient of Variation (CV), untuk mengukur stabilitas harga

Dalam konteks sederhana, CV menunjukkan seberapa besar harga berfluktuasi dibandingkan dengan harga rata-ratanya. Nilai CV sebesar 0 persen berarti harga tidak berubah sama sekali.

Temuan Utama: Harga Tetap, Risiko Hilang

Hasil penelitian menunjukkan stabilitas harga yang sangat jarang terjadi pada komoditas cabai.

Cabai rawit hijau

  • Pasar Lama: Rp30.000 per kilogram
  • Pasar Baru: Rp35.000 per kilogram
  • Nilai CV: 0 persen di kedua pasar

Cabai merah keriting

  • Pasar Lama: Rp22.500 per kilogram
  • Pasar Baru: Rp25.000 per kilogram
  • Nilai CV: 0 persen di kedua pasar

Tidak adanya perubahan harga selama periode pengamatan berarti tidak ada ketidakpastian bagi pelaku pasar. Risiko harga, yang biasanya menjadi kekhawatiran utama pedagang dan konsumen, praktis tidak muncul.

Mengapa Harga Bisa Sangat Stabil?

Penulis mengidentifikasi beberapa faktor yang kemungkinan besar berperan dalam menjaga stabilitas harga cabai di Mamuju:

  • Permintaan konsumen yang konsisten, sehingga pedagang tidak perlu menyesuaikan harga
  • Pasokan yang mencukupi, tanpa gangguan distribusi
  • Praktik penetapan harga pasar tradisional yang cenderung menghindari lonjakan ekstrem
  • Sistem distribusi lokal yang efisien, terutama di pasar sentral

Meskipun harga di Pasar Baru sedikit lebih tinggi dibanding Pasar Lama, perbedaan tersebut bersifat tetap dan tidak memicu perubahan perilaku konsumen.

Dampak Nyata bagi Masyarakat dan Pelaku Usaha

Stabilitas harga membawa manfaat langsung yang terasa di tingkat akar rumput:

  • Konsumen dapat merencanakan pengeluaran harian tanpa khawatir lonjakan harga mendadak.
  • Pedagang memiliki kepastian pendapatan dan dapat mengelola stok dengan lebih aman.
  • Pemerintah daerah memperoleh contoh nyata bahwa pasar tradisional mampu menjaga stabilitas harga tanpa intervensi besar.

Temuan ini juga relevan bagi kebijakan pangan. Jika pola distribusi dan pasokan dapat dipertahankan, pasar tradisional berpotensi menjadi penyangga inflasi pangan, khususnya untuk komoditas sensitif seperti cabai.

Pandangan Peneliti

Menurut Ernawaty Mappigau dan Sri Mardiyati dari Universitas Muhammadiyah Makassar, stabilitas harga yang ditunjukkan oleh nilai CV nol mencerminkan mekanisme pasar yang terkendali. Kondisi ini memberi rasa aman bagi konsumen dan pedagang karena tidak ada ketidakpastian harga dalam jangka pendek.

Mereka menekankan bahwa konsistensi harga seperti ini jarang ditemukan pada komoditas hortikultura dan layak menjadi rujukan bagi daerah lain.

Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi

Penelitian ini menyarankan agar:

  • Kebijakan harga yang stabil di pasar tradisional tetap dipertahankan.
  • Pemantauan pasokan cabai dilakukan secara rutin untuk mencegah kelangkaan.
  • Manajemen distribusi lokal diperkuat agar stabilitas harga berlanjut.

Dengan langkah tersebut, pasar tradisional tidak hanya berfungsi sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai instrumen stabilisasi ekonomi lokal.

Profil Penulis

Ernawaty Mappigau
Kandidat Doktor Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Makassar
Bidang keahlian: ekonomi pertanian, risiko harga, pasar tradisional

Sri Mardiyati
Dosen dan peneliti Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Makassar
Bidang keahlian: stabilitas harga pangan, kebijakan agribisnis

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar