Representasi Identitas Gender dalam Adegan Film Kucumbu Tubuh Indahku Karya Garin Nugroho

Ilustrasi by AI

Yogyakarta— Representasi Identitas Gender dalam Adegan Film Kucumbu Tubuh Indahku Karya Garin Nugroho. Penelitian ini dilakukan oleh Muhammad Krissakti Gamala dan Suminto A. Sayuti, yang dipublikasikan di International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR) Vol. 4 No. 2 Tahun 2026.

Penelitian ini dilakukan oleh Muhammad Krissakti Gamala dan Suminto A. Sayuti mengungkapkan bahwa isu identitas gender dalam konteks budaya Indonesia yang masih kuat dengan norma patriarki.

Identitas gender sebagai konstruksi sosial

Penelitian Gamala dan Sayuti menegaskan bahwa identitas gender dalam film ini digambarkan sebagai hasil proses sosial yang panjang, bukan sesuatu yang tetap atau biologis semata. Karakter Juno tumbuh dalam lingkungan desa yang memegang teguh norma maskulinitas tradisional—laki-laki harus kuat, tegas, tidak lembut, dan tidak menari.

Namun, melalui seni tari lengger, Juno justru menampilkan sisi feminin yang dominan. Film memperlihatkan benturan antara ekspresi diri dan tekanan sosial yang menganggap kelembutan sebagai penyimpangan.

 

Membaca tanda melalui semiotika

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Data diambil dari adegan-adegan penting yang menampilkan:

  1. Kostum tari lengger
  2. Bahasa tubuh dan ekspresi wajah
  3. Dialog dan keheningan
  4. Musik latar dan suasana visual

Analisis dilakukan pada tiga tingkat makna:

  1. Denotasi – apa yang terlihat secara literal di layar.
  2. Konotasi – makna yang terkait nilai budaya dan emosi.
  3. Mitos – keyakinan sosial yang dianggap “normal” atau “alamiah”.

Pendekatan ini memungkinkan film dibaca sebagai sistem tanda yang mencerminkan struktur kekuasaan dan norma gender dalam masyarakat.

Tubuh sebagai arena konflik

Penelitian menemukan bahwa tubuh Juno menjadi pusat pergulatan identitas. Pada level denotatif, ia mengenakan kebaya, jarik, dan selendang sebagai bagian dari kostum tari. Namun pada level konotatif, atribut tersebut diasosiasikan dengan feminitas dan kelembutan.

Pada level mitos, masyarakat menganggap laki-laki yang mengenakan atribut feminin sebagai keluar dari kodrat. Film ini secara simbolik membongkar mitos tersebut dengan menunjukkan bahwa seni dan identitas tidak dapat dibatasi oleh kategori biner maskulin-feminin.

Beberapa temuan utama penelitian ini antara lain:

  1. Kekerasan dalam film merepresentasikan maskulinitas hegemonik yang identik dengan dominasi dan superioritas.
  2. Tari lengger menjadi ruang negosiasi identitas yang melampaui batas gender tradisional.
  3. Kehilangan figur ayah dan pengalaman traumatis membentuk kompleksitas identitas Juno.
  4. Relasi emosional antar laki-laki dalam film menantang norma heteronormatif desa.

Mitos “laki-laki sejati” dipertanyakan

Penelitian ini mengidentifikasi dua mitos utama yang dikritik film:

  • Laki-laki sejati tidak boleh lembut.
  • Laki-laki sejati tidak menari.

Film memperlihatkan bahwa mitos tersebut adalah konstruksi sosial yang diwariskan turun-temurun. Melalui perjalanan hidup Juno, penonton diajak melihat bahwa identitas gender bersifat dinamis dan bisa dinegosiasikan.Gamala dan Sayuti menilai film ini berfungsi sebagai kritik sosial terhadap rigiditas norma patriarki di Indonesia.

Implikasi bagi pendidikan dan diskursus publik

Temuan ini memiliki dampak penting bagi dunia pendidikan dan kajian budaya. Film dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk mengembangkan literasi kritis siswa dalam memahami simbol, identitas, dan keberagaman.

Dalam konteks kebijakan publik, penelitian ini memperkuat wacana bahwa keberagaman ekspresi gender perlu dipahami sebagai bagian dari realitas sosial, bukan ancaman terhadap budaya.Pendekatan semiotika juga membuka ruang bagi mahasiswa dan peneliti untuk membaca karya film Indonesia sebagai teks budaya yang sarat makna ideologis.

Keterbatasan studi

Penelitian ini mengakui beberapa keterbatasan:

  1. Analisis hanya difokuskan pada adegan tertentu yang relevan dengan konstruksi identitas gender.
  2. Interpretasi semiotik bersifat subjektif dan terbuka untuk pembacaan lain.
  3. Studi belum meneliti respons atau dampak film terhadap audiens secara langsung.

Meski demikian, penelitian ini memperkaya kajian representasi gender dalam film Indonesia, khususnya dalam ranah pendidikan bahasa dan sastra.

Profil Penulis

1.       Muhammad Krissakti Gamala – Universitas Negeri Yogyakarta

2.       Suminto A. Sayuti – Universitas Negeri Yogyakarta

Sumber Penelitian

Gamala, M. K., & Sayuti, S. A. (2026). Gender Identity Representation in the Film Scene Kucumbu Tubuh Indahku by Garin Nugroho.

International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 2, 2026.

DOI : https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i2.2

URL Resmi : https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr


Posting Komentar

0 Komentar