Representasi Gender dalam Influencer Kebugaran: Bagaimana Pria dan Wanita Menyampaikan Pesan Lari di Platform Digital

Gambar Ilustrasi AI

Influencer Lari di Instagram Bangun Makna Gender Berbeda antara Pria dan Perempuan

Konten lari di Instagram bukan sekadar soal olahraga dan gaya hidup sehat. Riset terbaru menunjukkan bahwa influencer lari pria dan perempuan di Indonesia membangun pesan yang sangat berbeda soal makna berlari, mulai dari prestasi dan disiplin hingga kesejahteraan dan solidaritas. Temuan ini diungkap dalam artikel ilmiah karya Asihta Aulia Azzahra, Nur’annafi Farni Syam Maella, dan Harliantara dari University Dr. Soetomo Surabaya, yang terbit pada 2026 di Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research (MODERN).

Penelitian ini penting karena lari kini telah menjadi bagian dari budaya populer perkotaan di Indonesia. Instagram, sebagai platform visual, berperan besar membentuk cara publik memahami olahraga, tubuh, dan identitas. Influencer, dengan jutaan pengikut, menjadi aktor kunci dalam membingkai pesan tersebut—baik disadari maupun tidak.

Lari, Media Sosial, dan Identitas Gender

Dalam satu dekade terakhir, lari berkembang dari aktivitas kebugaran menjadi simbol gaya hidup, identitas diri, dan komunitas. Unggahan foto, video, dan reels di Instagram tidak hanya mendokumentasikan aktivitas fisik, tetapi juga membangun narasi tentang siapa itu “pelari” dan nilai apa yang melekat padanya.

Berbagai studi sebelumnya menunjukkan bahwa media sering mereproduksi stereotip gender: pria diasosiasikan dengan kekuatan dan prestasi, sementara perempuan dengan emosi dan relasi sosial. Namun, sebagian besar riset tersebut berfokus pada atlet profesional atau media olahraga arus utama. Ruang influencer—yang lebih personal, naratif, dan dekat dengan keseharian—masih jarang dikaji, khususnya di Indonesia.

Riset dari tim Universitas Dr. Soetomo Surabaya ini mengisi celah tersebut dengan menelaah bagaimana influencer lari pria dan perempuan membingkai makna berlari di Instagram.

Metodologi dengan Bahasa Sederhana

Penelitian dilakukan pada Desember 2025 menggunakan analisis isi kualitatif. Tim peneliti mengamati unggahan Instagram—baik foto maupun reels—dari empat influencer lari Indonesia, terdiri dari dua pria dan dua perempuan.

Konten yang dianalisis dipilih secara selektif berdasarkan beberapa kriteria:

  • Secara jelas menampilkan aktivitas atau refleksi tentang lari
  • Memiliki narasi visual dan teks yang kuat
  • Mendapat respons audiens yang signifikan

Peneliti kemudian mengelompokkan pesan berdasarkan tema, tujuan lari, fokus konten, nada komunikasi, dan visualisasi. Semua temuan dibaca melalui Social Representation Theory, sebuah pendekatan yang membantu menjelaskan bagaimana makna sosial dibentuk dan dibagikan melalui komunikasi sehari-hari.

Temuan Utama: Narasi Maskulin dan Feminin yang Kontras

Hasil analisis menunjukkan pola yang konsisten dan kontras antara influencer pria dan perempuan.

Influencer Lari Pria

  • Lari digambarkan sebagai arena prestasi, disiplin, dan legitimasi sosial
  • Penekanan pada jarak tempuh, kecepatan, peringkat, dan partisipasi lomba
  • Tubuh diposisikan sebagai objek yang harus dilatih, dikontrol, dan dioptimalkan
  • Nada komunikasi tegas, rasional, dan sering bersifat edukatif atau kompetitif

Salah satu pola kuat adalah framing lari sebagai bukti karakter maskulin: tahan banting, konsisten, dan berorientasi hasil. Dalam konteks ini, lari bukan hanya olahraga, tetapi juga simbol kredibilitas dan status.

Influencer Lari Perempuan

  • Lari diposisikan sebagai praktik holistik yang menyatukan tubuh, emosi, dan relasi sosial
  • Fokus pada pengalaman personal, proses, dan makna psikologis
  • Visual menonjolkan kebersamaan, komunitas perempuan, dan solidaritas
  • Nada komunikasi empatik, reflektif, dan inklusif

Bagi influencer perempuan, lari sering ditampilkan sebagai ruang aman untuk perawatan diri, penguatan mental, dan pemberdayaan bersama. Prestasi bukan diukur dari medali atau podium, melainkan dari konsistensi, kesehatan, dan rasa terhubung dengan orang lain.

Kutipan Akademik yang Diparafrasekan

Menurut Asihta Aulia Azzahra dari Universitas Dr. Soetomo Surabaya, representasi ini menunjukkan bahwa lari di media sosial “tidak pernah netral.” Makna lari dibangun melalui nilai-nilai gender yang sudah hidup di masyarakat, lalu dipertegas melalui narasi visual dan bahasa influencer di Instagram. Dengan kata lain, konten sehari-hari ikut membentuk cara publik memaknai olahraga dan tubuh.

Dampak dan Implikasi Nyata

Temuan ini memiliki dampak luas, tidak hanya bagi studi komunikasi, tetapi juga bagi masyarakat dan pembuat kebijakan.

Bagi masyarakat, riset ini membantu meningkatkan literasi media. Pengguna Instagram dapat lebih kritis dalam mengonsumsi konten kebugaran dan menyadari bahwa pesan yang terlihat “alami” sering kali membawa nilai tertentu.

Bagi dunia kebugaran dan industri kreator, hasil ini mendorong narasi yang lebih inklusif. Tidak semua pelari harus kompetitif atau mengejar lomba. Ada banyak cara sah untuk hidup sehat.

Bagi pendidikan dan kebijakan publik, penelitian ini relevan untuk kampanye kesehatan yang sensitif gender. Pesan olahraga dapat disesuaikan agar lebih menjangkau kelompok berbeda tanpa memperkuat stereotip lama.

Profil Singkat Penulis

  • Asihta Aulia Azzahra, S.I.Kom. – Peneliti komunikasi dan budaya digital, Universitas Dr. Soetomo Surabaya
  • Nur’annafi Farni Syam Maella, M.I.Kom. – Akademisi komunikasi media dan pemasaran digital, Universitas Dr. Soetomo Surabaya
  • Harliantara, M.Si.Dosen dan peneliti media, gender, dan komunikasi sosial, Universitas Dr. Soetomo Surabaya

Sumber Penelitian

Artikel ini menegaskan satu hal: di era media sosial, lari bukan hanya soal langkah kaki, tetapi juga soal makna, identitas, dan pesan sosial yang terus diproduksi setiap hari.

Posting Komentar

0 Komentar