Program Senam dan Pendampingan Rohani Tingkatkan Kesejahteraan Lansia di Arjasari Bandung

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Bandung - Program pengabdian masyarakat yang digagas oleh Ekky Oktapian, Yohanes Benney Legi, dan Yehuda Abriko Sihombing dari STT Kharisma Bandung pada 2026 menunjukkan bahwa kombinasi aktivitas fisik dan pendampingan spiritual mampu meningkatkan kesejahteraan lansia secara signifikan. Kegiatan yang dilaksanakan di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung ini menjadi model baru pemberdayaan lansia berbasis komunitas yang mengintegrasikan kesehatan fisik dan mental secara seimbang.

Program ini hadir di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia. Data menunjukkan bahwa proporsi lansia terus bertambah, seiring meningkatnya harapan hidup dan kualitas layanan kesehatan. Namun, peningkatan ini juga membawa tantangan baru, terutama terkait kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, dan keterlibatan sosial lansia dalam kehidupan sehari-hari.

Di banyak komunitas, lansia masih menghadapi keterbatasan akses terhadap kegiatan yang mendukung kesehatan secara menyeluruh. Aktivitas fisik sering kali terbatas, sementara dukungan spiritual dan sosial belum terintegrasi secara optimal. Kondisi ini juga ditemukan di wilayah Arjasari, di mana sebagian lansia kurang aktif secara fisik dan sosial.

Menjawab tantangan tersebut, tim dari STT Kharisma Bandung merancang program yang sederhana namun berdampak. Kegiatan ini menggabungkan senam lansia, pembinaan rohani, serta diskusi interaktif dalam satu rangkaian kegiatan yang dilakukan secara partisipatif.

Program dilaksanakan di gedung serbaguna gereja setempat pada sore hari, sekitar pukul 16.00–16.30 WIB, dengan melibatkan 12 peserta lansia. Waktu ini dipilih agar peserta dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman setelah menyelesaikan aktivitas harian mereka.

Metodologi yang digunakan cukup sederhana dan mudah diterapkan di komunitas lain. Kegiatan dimulai dengan senam lansia menggunakan gerakan ringan yang disesuaikan dengan kondisi fisik peserta. Fokus utama senam adalah meningkatkan fleksibilitas, keseimbangan, dan kekuatan otot.

Setelah sesi senam, kegiatan dilanjutkan dengan pembinaan rohani yang bertujuan memberikan penguatan mental dan spiritual. Peserta juga diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman, menciptakan suasana interaksi sosial yang hangat dan suportif.

Evaluasi program dilakukan melalui observasi langsung dan umpan balik peserta. Hasilnya menunjukkan dampak yang cukup signifikan.

Beberapa temuan utama dari program ini antara lain:

  • Peningkatan partisipasi lansia dalam kegiatan komunitas
  • Meningkatnya kebugaran fisik dan kemampuan bergerak
  • Bertambahnya semangat hidup dan rasa percaya diri
  • Meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan holistik

Para peserta mengaku merasa lebih sehat, lebih bugar, dan lebih bersemangat setelah mengikuti kegiatan ini. Selain itu, mereka juga merasakan ketenangan batin dan makna hidup yang lebih kuat melalui sesi pembinaan rohani.

“Lansia tidak hanya membutuhkan aktivitas fisik, tetapi juga dukungan spiritual untuk menghadapi perubahan hidup,” tulis Ekky Oktapian dan tim dalam laporan mereka.

Program ini juga berhasil menciptakan ruang sosial yang positif. Para peserta terlihat lebih aktif berinteraksi, saling menyemangati, dan membangun rasa kebersamaan. Bahkan, beberapa lansia yang sebelumnya ragu untuk bergerak menjadi lebih percaya diri setelah mengikuti kegiatan ini.

Dampak lain yang cukup menonjol adalah meningkatnya kesadaran lansia terhadap konsep kesehatan holistik. Mereka mulai memahami bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup aspek mental, sosial, dan spiritual.

Implikasi dari penelitian ini cukup luas. Program ini dapat menjadi model pemberdayaan lansia berbasis komunitas yang mudah diterapkan di berbagai daerah, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.

Selain itu, pendekatan integratif seperti ini berpotensi mendukung kebijakan publik dalam menghadapi fenomena aging population di Indonesia. Program serupa juga dapat dikembangkan oleh lembaga keagamaan, organisasi sosial, maupun pemerintah daerah.

Ke depan, tim peneliti merekomendasikan agar program ini dilaksanakan secara rutin dan dikembangkan lebih lanjut. Beberapa pengembangan yang diusulkan meliputi:

  • Penambahan variasi gerakan senam
  • Penyediaan alat bantu olahraga
  • Edukasi kesehatan oleh tenaga medis
  • Pendampingan psikososial yang lebih terstruktur

Dengan pengembangan tersebut, program ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan bagi lansia.

Profil Penulis
Ekky Oktapian adalah akademisi dan praktisi di STT Kharisma Bandung yang berfokus pada pengabdian masyarakat dan pelayanan pastoral. Yohanes Benney Legi dan Yehuda Abriko Sihombing merupakan peneliti di institusi yang sama dengan keahlian di bidang pelayanan komunitas dan kesejahteraan sosial berbasis spiritual.

Sumber Penelitian
Oktapian, E., Legi, Y. B., & Sihombing, Y. A. (2026). Improving the Well-being of the Elderly through Exercise Programs and Pastoral Services in Arjasari Subdistrict, Bandung. Jurnal Pengabdian Pancasila (JPP), Vol. 5 No. 1, hlm. 11–22. DOI: https://doi.org/10.55927/jpp.v5i1.4, URL: https://journaljpp.my.id/index.php/jpp

Posting Komentar

0 Komentar