Filsafat Buddhisme Tawarkan Penjelasan Kausal Tanpa “Dasar Ontologis”, Tantang Tradisi Metafisika Barat
Penelitian terbaru oleh Ye Si Thu Aung dan Nguyen Hoang Hai dari Vietnam National University menunjukkan bahwa konsep sebab-akibat dalam Buddhisme dapat menjelaskan realitas tanpa bergantung pada “dasar ontologis” atau entitas paling fundamental. Studi yang dipublikasikan pada tahun 2026 di jurnal International Journal of Integrative Sciences (IJIS) ini menawarkan perspektif baru dalam perdebatan filsafat tentang bagaimana sesuatu dapat dijelaskan secara rasional tanpa harus berakhir pada satu penyebab pertama atau fondasi terakhir.
Temuan ini penting karena sebagian besar tradisi metafisika Barat selama berabad-abad berasumsi bahwa setiap penjelasan tentang dunia pada akhirnya harus berhenti pada suatu “dasar” yang tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Konsep tersebut sering muncul dalam bentuk gagasan seperti “penyebab pertama”, “substansi fundamental”, atau “realitas paling dasar”. Penelitian Aung dan Hai menunjukkan bahwa pendekatan Buddhis memberikan model alternatif yang koheren tanpa memerlukan fondasi semacam itu.
Latar Belakang: Tradisi Metafisika dan Gagasan “Grounding”
Dalam filsafat kontemporer, perdebatan tentang “grounding” atau dasar ontologis menjadi salah satu topik utama dalam metafisika analitik. Banyak filsuf berpendapat bahwa setiap fakta atau fenomena harus memiliki penjelasan yang pada akhirnya berakhir pada fakta yang paling fundamental.
Pandangan ini sering disebut sebagai ground-compulsion, yaitu asumsi bahwa semua penjelasan harus berhenti pada suatu dasar ontologis yang tidak bergantung pada hal lain. Dalam kerangka ini, rantai penjelasan dianggap tidak boleh berlangsung tanpa akhir atau bersifat melingkar.
Namun, beberapa pemikir mulai mempertanyakan apakah model penjelasan semacam ini benar-benar satu-satunya cara memahami realitas. Aung dan Hai menilai bahwa sistem filsafat Buddhis justru telah lama menawarkan kerangka penjelasan yang berbeda—tanpa harus bergantung pada konsep dasar ontologis yang tetap.
Metodologi: Analisis Filsafat dan Tradisi Buddhisme Awal
Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis filosofis dan konseptual. Para penulis menelaah literatur metafisika kontemporer mengenai konsep grounding, kemudian membandingkannya dengan teori sebab-akibat dalam Buddhisme awal.
Sumber analisis utama berasal dari teks Buddhis klasik yang menjelaskan prinsip pratītyasamutpāda atau dependent origination—gagasan bahwa segala fenomena muncul karena kondisi dan hubungan dengan fenomena lain.
Alih-alih mengandalkan metode empiris seperti survei atau eksperimen, penelitian ini membangun argumen filosofis melalui:
- analisis konsep dalam metafisika modern
- kajian teks dan interpretasi tradisi Buddhisme
- perbandingan struktur penjelasan kausal antara dua tradisi filsafat
Pendekatan ini memungkinkan para penulis menunjukkan bagaimana sistem penjelasan Buddhis dapat berfungsi sebagai counterexample struktural terhadap asumsi dasar dalam metafisika Barat.
Temuan Utama Penelitian
Aung dan Hai menemukan bahwa sistem sebab-akibat dalam Buddhisme dapat menjelaskan realitas tanpa memerlukan entitas fundamental. Beberapa temuan utama penelitian ini meliputi:
1. Penjelasan tidak harus berakhir pada “penyebab pertama”
Banyak teori metafisika Barat beranggapan bahwa setiap rantai penjelasan harus berakhir pada suatu fondasi yang tidak dijelaskan oleh hal lain. Namun dalam Buddhisme, fenomena dijelaskan melalui hubungan kondisi yang saling bergantung, bukan melalui fondasi tunggal.
2. Realitas dipahami sebagai jaringan hubungan
Dalam kerangka Buddhis, fenomena tidak berdiri sendiri. Segala sesuatu muncul karena kombinasi kondisi tertentu. Ketika kondisi berubah, fenomena tersebut juga berubah atau lenyap.
3. Tidak ada entitas permanen atau fundamental
Penelitian ini menunjukkan bahwa Buddhisme menolak gagasan tentang substansi permanen atau “realitas dasar”. Sebaliknya, dunia dipahami sebagai proses yang terus berubah.
4. Model penjelasan bersifat struktural
Alih-alih mencari satu titik akhir penjelasan, sistem Buddhis menggambarkan realitas sebagai struktur relasional yang kompleks, di mana setiap fenomena bergantung pada fenomena lain.
Menurut Aung dan Hai, struktur penjelasan semacam ini menunjukkan bahwa asumsi metafisika tentang keharusan adanya dasar ontologis mungkin bukan kebutuhan logis, melainkan hanya kebiasaan dalam tradisi filsafat tertentu.
Implikasi bagi Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini memiliki implikasi penting bagi perkembangan filsafat kontemporer.
Pertama, studi ini membuka kemungkinan bahwa model penjelasan non-fundasional dapat menjadi alternatif serius dalam metafisika. Jika sistem Buddhis dapat menjelaskan realitas tanpa fondasi terakhir, maka asumsi tentang keharusan adanya “ground” mungkin perlu dipertimbangkan kembali.
Kedua, pendekatan ini mendorong dialog yang lebih luas antara filsafat Barat dan filsafat Asia. Selama ini, metafisika modern sering didominasi oleh tradisi Barat. Penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi intelektual Asia memiliki kontribusi penting dalam menjawab pertanyaan filosofis fundamental.
Ketiga, model penjelasan berbasis hubungan juga relevan dengan berbagai disiplin ilmu modern, seperti ilmu sistem, ekologi, dan teori kompleksitas, yang melihat dunia sebagai jaringan hubungan dinamis, bukan kumpulan objek yang berdiri sendiri.
Ye Si Thu Aung dari Vietnam National University menekankan bahwa tradisi Buddhis memberikan cara baru memahami sebab-akibat. Ia menjelaskan bahwa dalam kerangka Buddhisme, fenomena tidak membutuhkan dasar ontologis yang tetap. Sebaliknya, fenomena muncul dari hubungan kondisi yang saling bergantung.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa penjelasan filosofis tidak selalu harus mencari “fondasi terakhir” untuk menjadi rasional dan koheren.
Relevansi bagi Diskusi Global tentang Pengetahuan
Temuan ini juga relevan dalam konteks global yang semakin menghargai keberagaman tradisi intelektual. Dengan menggabungkan perspektif Buddhisme dan metafisika analitik modern, penelitian ini menunjukkan bahwa filsafat dapat berkembang melalui dialog lintas budaya.
Selain itu, gagasan tentang dunia sebagai jaringan hubungan saling bergantung juga memiliki resonansi dengan berbagai isu kontemporer, seperti keberlanjutan lingkungan dan interdependensi sosial.
Model penjelasan ini menekankan bahwa perubahan dalam satu bagian sistem dapat memengaruhi bagian lainnya—sebuah pandangan yang semakin relevan dalam dunia yang saling terhubung.
Profil Penulis
Ye Si Thu Aung Vietnam National University
Nguyen Hoang Hai Vietnam National University
Sumber Penelitian
Penulis: Ye Si Thu Aung & Nguyen Hoang Hai
Jurnal: International Journal of Integrative Sciences (IJIS)
Tahun: 2026
Volume: 5, Nomor 2, Halaman 411–428
Institusi: Vietnam National University
DOI: https://doi.org/10.55927/ijis.v5i2.12
Official URL : https://journalijis.my.id/index.php/ijis/index
0 Komentar