Bandung- Pertumbuhan kedai kopi di kota-kota besar Indonesia sempat terguncang saat pandemi COVID-19 melanda. Namun sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa sebagian usaha kecil justru mampu bertahan dan bahkan berkembang setelah krisis. Penelitian yang ditulis oleh Aarron Ardianto Yuana dan Roni Tua dari Universitas Katolik Parahyangan menganalisis bagaimana sebuah kedai kopi yang lahir di masa pandemi berhasil memperluas bisnisnya hingga memiliki beberapa cabang setelah situasi membaik.
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada tahun 2026 dalam International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR) Volume 4 Nomor 2 dengan judul “Navigating Crisis and Growth: A Dynamic Capabilities Analysis of a Post-Pandemic Coffee Shop Expansion.” Studi ini menyoroti perjalanan sebuah kedai kopi bernama samaran Coffeeversal di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Temuan penelitian ini penting karena sektor usaha kecil dan menengah, terutama di industri makanan dan minuman, termasuk yang paling terdampak oleh pembatasan sosial selama pandemi. Banyak bisnis yang mengalami penurunan pendapatan bahkan terpaksa menutup usaha. Namun kasus Coffeeversal menunjukkan bahwa strategi adaptasi yang tepat dapat membuka peluang pertumbuhan bahkan di tengah krisis ekonomi dan perubahan perilaku konsumen.
Industri Kedai Kopi dan Dampak Pandemi
Dalam satu dekade terakhir, kedai kopi berkembang pesat di berbagai kota di Indonesia. Perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan menjadikan café tidak lagi sekadar tempat minum kopi, tetapi juga ruang sosial untuk bekerja, belajar, atau berkumpul dengan teman.
Namun ketika pandemi COVID-19 muncul pada awal 2020, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus. Kebijakan ini membatasi mobilitas masyarakat, jam operasional usaha, serta aktivitas makan di tempat.
Bagi bisnis yang bergantung pada kunjungan langsung pelanggan, kondisi tersebut menjadi tantangan besar. Banyak café mengalami penurunan jumlah pengunjung, gangguan rantai pasok, hingga kerugian finansial. Bahkan sebagian usaha kecil terpaksa menghentikan operasional secara permanen.
Fenomena yang sama terjadi di banyak negara. Sektor restoran dan hospitality menjadi salah satu industri yang paling terdampak oleh pembatasan sosial global. Namun di sisi lain, pandemi juga mempercepat inovasi dalam bisnis makanan dan minuman. Banyak pelaku usaha mulai memanfaatkan layanan pesan antar, platform digital, serta pemasaran melalui media sosial.
Ketika pembatasan mulai dilonggarkan, perilaku konsumen juga berubah kembali. Banyak orang ingin kembali beraktivitas di ruang publik setelah lama menjalani isolasi sosial. Fenomena ini dikenal sebagai “revenge consumerism,” yaitu lonjakan konsumsi yang muncul sebagai respons terhadap pembatasan aktivitas selama pandemi.
Metode Penelitian: Studi Kasus Mendalam
Penelitian Yuana dan Tua menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus untuk memahami bagaimana sebuah usaha kecil dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis yang sangat cepat.
Para peneliti mengumpulkan data melalui beberapa metode, yaitu:
- Wawancara mendalam dengan pemilik bisnis
- Observasi langsung terhadap operasional kedai
- Analisis dokumen seperti konten media sosial dan materi promosi
Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami proses pengambilan keputusan para pendiri Coffeeversal, termasuk bagaimana mereka membaca peluang pasar dan menyesuaikan strategi bisnis selama masa krisis hingga periode pemulihan ekonomi.
Untuk menganalisis temuan, penelitian ini menggunakan dua kerangka teori utama, yaitu dynamic capabilities dan business model canvas. Kerangka dynamic capabilities menjelaskan kemampuan perusahaan untuk membaca peluang, mengambil tindakan strategis, dan mengubah struktur bisnis agar tetap kompetitif dalam lingkungan yang berubah.
Dari Ide Mahasiswa Menjadi Usaha Nyata
Coffeeversal didirikan oleh tiga mahasiswa dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Mereka melihat peluang bisnis di tengah situasi pandemi ketika aktivitas kampus beralih ke sistem daring.
Alih-alih memandang pandemi sebagai hambatan, mereka menyadari bahwa masyarakat tetap membutuhkan ruang untuk berinteraksi secara sosial setelah lama menjalani pembatasan aktivitas. Dari pengamatan tersebut muncul ide untuk membuka kedai kopi yang tidak hanya menjual minuman, tetapi juga menyediakan ruang pertemuan yang nyaman dan aman.
Para pendiri memulai usaha dengan strategi sederhana namun terukur. Mereka membuka kedai kecil dengan modal awal kurang dari 200 juta rupiah dan memilih lokasi di kawasan permukiman di Jakarta Utara, bukan di pusat bisnis kota yang memiliki biaya operasional lebih tinggi.
Target pasar mereka adalah anak muda dan komunitas lokal yang memiliki kebiasaan berkumpul dan aktif di media sosial. Strategi ini membantu mereka membangun basis pelanggan yang loyal sejak awal.
Strategi Bertahan di Masa Krisis
Penelitian menemukan bahwa keberhasilan Coffeeversal berkaitan erat dengan kemampuan para pendirinya dalam menerapkan tiga tahapan dynamic capabilities.
Mengenali peluang (sensing)
Para pendiri melihat bahwa meskipun pandemi membatasi aktivitas sosial, kebutuhan masyarakat untuk berkumpul dan berinteraksi tetap ada. Mereka juga memperhatikan tren pertumbuhan budaya kopi di Indonesia yang sudah berkembang sebelum pandemi.
Menangkap peluang (seizing)
Setelah peluang dikenali, para pendiri mengambil langkah konkret. Mereka membuka kedai berukuran kecil agar biaya operasional tetap rendah dan risiko bisnis lebih terkendali. Selain itu, setiap pendiri memiliki peran yang jelas dalam operasional bisnis sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan lebih cepat.
Strategi pemasaran mereka juga unik. Alih-alih menggunakan promosi mahal atau influencer besar, Coffeeversal memanfaatkan jaringan pertemanan dan komunitas lokal untuk membangun reputasi secara organik.
Mengubah model bisnis (transforming)
Selama pandemi, Coffeeversal menekankan pengalaman pelanggan sebagai nilai utama. Interior kedai dirancang hangat dan nyaman, pelayanan dibuat ramah, dan interaksi antara pelanggan serta staf dijaga agar terasa personal.
Pendekatan ini menciptakan hubungan emosional antara pelanggan dan brand, yang pada akhirnya meningkatkan loyalitas pelanggan.
Pertumbuhan Pesat Setelah Pandemi
Ketika pembatasan sosial dicabut, Coffeeversal mengalami perkembangan yang cukup pesat. Basis pelanggan yang awalnya didominasi anak muda lokal menjadi lebih beragam, termasuk pekerja kantor, mahasiswa, keluarga muda, hingga pengunjung dari luar kota.
Fungsi kedai kopi juga berubah menjadi ruang multifungsi. Banyak pelanggan datang untuk bekerja jarak jauh, mengerjakan tugas kuliah, mengadakan rapat informal, atau sekadar menikmati hiburan seperti musik live.
Melihat meningkatnya permintaan, Coffeeversal mulai memperluas bisnisnya. Kedai kopi ini membuka beberapa cabang baru di wilayah Jakarta dan Bandung, serta menambah berbagai layanan tambahan seperti event komunitas dan kolaborasi dengan berbagai brand lokal.
Transformasi ini menunjukkan bahwa usaha kecil yang mampu beradaptasi dengan perubahan pasar dapat berkembang menjadi bisnis yang lebih besar setelah krisis.
Pelajaran bagi Pelaku Usaha Kecil
Penelitian ini memberikan sejumlah pelajaran penting bagi pelaku usaha kecil dan menengah di sektor makanan dan minuman.
Pertama, krisis tidak selalu berarti kemunduran. Dalam beberapa kasus, krisis justru membuka peluang bagi pelaku usaha yang mampu membaca perubahan kebutuhan konsumen.
Kedua, memulai bisnis secara bertahap dengan risiko yang terukur dapat membantu menjaga stabilitas keuangan usaha pada masa awal operasional.
Ketiga, membangun hubungan kuat dengan komunitas lokal dan memberikan pengalaman pelanggan yang positif dapat menjadi strategi pemasaran yang efektif tanpa biaya besar.
Menurut Yuana dan Tua, kemampuan beradaptasi menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan bisnis. Usaha kecil yang mampu mengenali peluang, mengambil tindakan strategis, dan terus menyesuaikan model bisnisnya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di tengah perubahan ekonomi.
Profil Singkat Penulis
- Aarron Ardianto Yuana adalah peneliti yang berfokus pada kajian kewirausahaan dan dinamika bisnis kecil, khususnya bagaimana usaha rintisan berkembang dalam kondisi pasar yang tidak pasti.
- Roni Tua merupakan akademisi dari Universitas Katolik Parahyangan yang meneliti bidang manajemen strategi, kewirausahaan, serta pengembangan model bisnis pada organisasi dan perusahaan rintisan.
Sumber Penelitian
- Yuana, Aarron Ardianto & Tua, Roni. 2026. “Navigating Crisis and Growth: A Dynamic Capabilities Analysis of a Post-Pandemic Coffee Shop Expansion.”
- International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR), Vol. 4 No. 2, halaman 137–152.
- DOI: https://doi.org/10.59890/ijaamr.v4i2.196
- URL Jurnal: https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijaamr/index
0 Komentar