Studi Universitas Trisakti Ungkap Titik Kritis Emisi dalam Rantai Pasok Susu Indonesia
Sebuah studi terbaru dari Dr. Budwi Brontosantoso dari Universitas Trisakti Jakarta mengungkap bahwa sebagian besar dampak lingkungan dalam industri susu terjadi pada tahap awal produksi, terutama di tingkat peternakan. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2026 ini menyoroti perlunya integrasi metode Life Cycle Assessment (LCA) dengan kebijakan publik dan strategi bisnis agar sektor susu Indonesia dapat berkembang secara lebih berkelanjutan.
Temuan ini menjadi penting karena industri susu memiliki peran besar dalam sistem pangan nasional. Selain mendukung ketahanan pangan dan penciptaan lapangan kerja, sektor ini juga menimbulkan tekanan lingkungan yang signifikan, seperti emisi gas rumah kaca, penggunaan air, serta degradasi sumber daya alam. Tanpa pengelolaan yang sistematis, peningkatan permintaan produk susu dapat memperburuk dampak tersebut.
Penelitian Brontosantoso mencoba menjawab pertanyaan penting: di mana sebenarnya titik terbesar dampak lingkungan dalam rantai pasok susu, dan mengapa hasil penelitian sering tidak digunakan dalam pengambilan kebijakan maupun keputusan bisnis.
Menelusuri Dampak Lingkungan Sepanjang Rantai Pasok Susu
Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan menganalisis publikasi ilmiah internasional periode 2020–2025 yang membahas penerapan Life Cycle Assessment dalam sektor susu. Artikel ilmiah dikumpulkan dari basis data Scopus dan Web of Science, kemudian dianalisis menggunakan analisis konten tematik dan gap analysis.
Metode ini memungkinkan peneliti memetakan bagaimana LCA digunakan untuk menilai dampak lingkungan produk susu mulai dari produksi pakan, pemeliharaan sapi perah, pengolahan susu, hingga distribusi ke konsumen.
Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian LCA masih fokus pada tahap produksi di tingkat peternakan, sementara tahap pengolahan dan distribusi jarang dianalisis secara mendalam.
Empat Temuan Penting Penelitian
Studi ini mengidentifikasi beberapa pola utama dalam penelitian LCA sektor susu secara global.
1. Dampak lingkungan terbesar terjadi di tahap produksi peternakan
Tahap hulu menjadi sumber emisi terbesar, terutama karena:
- emisi metana dari fermentasi pencernaan sapi
- pengelolaan limbah ternak
- produksi pakan yang intensif
- penggunaan air dan sumber daya lainnya
Proses fermentasi enterik pada sapi menghasilkan metana yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih tinggi dibanding karbon dioksida.
2. Penelitian LCA masih terfragmentasi
Sebagian besar studi hanya menganalisis satu atau dua tahap rantai pasok susu. Pendekatan ini membuat dampak lingkungan secara keseluruhan sulit dipahami karena hubungan antar tahap produksi tidak sepenuhnya terlihat.
3. Perbedaan metode membuat hasil penelitian sulit dibandingkan
Penelitian menemukan variasi besar dalam metode LCA yang digunakan, seperti:
- batas sistem penelitian
- unit fungsional yang digunakan (misalnya liter susu atau nilai nutrisi)
- indikator dampak lingkungan yang diukur
Variasi ini membuat hasil penelitian sulit digunakan sebagai dasar kebijakan yang konsisten.
4. Hasil penelitian jarang diterjemahkan ke kebijakan atau strategi bisnis
Meskipun LCA mampu mengidentifikasi titik kritis dampak lingkungan, sebagian besar penelitian berhenti pada level akademik. Hasilnya jarang digunakan secara langsung dalam perencanaan bisnis industri susu maupun dalam regulasi pemerintah.
Tantangan Khusus Industri Susu di Indonesia
Penelitian ini juga menyoroti kondisi unik industri susu Indonesia yang berbeda dengan banyak negara maju.
Beberapa faktor yang memengaruhi implementasi LCA di Indonesia antara lain:
- dominasi peternak skala kecil
- keterbatasan data produksi dan lingkungan
- rantai pasok susu yang belum terintegrasi secara optimal
- ketergantungan tinggi pada impor bahan baku susu
Kondisi ini membuat evaluasi lingkungan menggunakan metode LCA menjadi lebih kompleks dibandingkan negara dengan sistem produksi susu yang lebih terintegrasi.
Akibatnya, banyak penelitian LCA di Indonesia hanya mencakup sebagian kecil dari rantai produksi dan belum memberikan gambaran menyeluruh tentang dampak lingkungan sektor susu.
Kerangka Baru untuk Sektor Susu Berkelanjutan
Sebagai solusi, penelitian ini mengusulkan sebuah kerangka konseptual integratif untuk meningkatkan keberlanjutan sektor susu di Indonesia.
Kerangka tersebut menghubungkan empat komponen utama:
- praktik metodologi Life Cycle Assessment
- identifikasi titik kritis dampak lingkungan dalam rantai pasok
- strategi peningkatan proses bisnis di industri susu
- intervensi kebijakan publik untuk keberlanjutan
Dalam kerangka ini, LCA berfungsi sebagai dasar analisis ilmiah yang menghasilkan bukti lingkungan. Hasil analisis tersebut kemudian diterjemahkan menjadi langkah konkret bagi industri maupun pemerintah.
Contohnya meliputi:
- peningkatan efisiensi penggunaan pakan
- pengelolaan limbah ternak yang lebih baik
- strategi pengurangan emisi metana
- integrasi indikator lingkungan dalam kebijakan pertanian dan pangan
Pendekatan ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara penelitian ilmiah dan implementasi di lapangan.
Dampak bagi Industri dan Kebijakan Pangan
Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting bagi berbagai pihak.
Bagi industri susu, pemahaman mengenai titik kritis dampak lingkungan dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi jejak karbon.
Bagi pemerintah, metode LCA dapat menjadi alat penting dalam merancang kebijakan pertanian berkelanjutan yang berbasis data ilmiah.
Sementara bagi peternak, pendekatan ini dapat membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Menurut Budwi Brontosantoso dari Universitas Trisakti, masa depan sektor susu tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga oleh kemampuan industri untuk mengelola dampak lingkungannya secara sistematis.

0 Komentar