Makassar,
Sulawesi Selatan—Penguatan Pemahaman Ekonomi Politik Perspektif Marxis dan
Konsep Ekonomi Alternatif di Kalangan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas
Negeri Makassar. Penelitian ini dilakukan oleh Dirmansyah Darwin bersama Adi
Zulkarnaen, I Made Jyotisa Adi Dwipatna, Muh Fardan Ngoyo, dan Hafid Sumarwadji,
yang dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF)
Volume 5 Nomor 1 Tahun 2026.
Penelitian
yang dilakukan oleh Darwin bersama Adi Zulkarnaen, I Made Jyotisa Adi Dwipatna,
Muh Fardan Ngoyo, dan Hafid Sumarwadji mengungkapkan bahwa pentingnya memperluas
cara pandang mahasiswa terhadap teori ekonomi. Mereka menilai pembelajaran
ekonomi yang terlalu bertumpu pada pendekatan konvensional belum cukup untuk
menjelaskan realitas ketimpangan sosial yang masih kuat di Indonesia.
Ketimpangan
Jadi Pintu Masuk Analisis
Dalam
artikel ilmiah tersebut dijelaskan bahwa ketimpangan ekonomi Indonesia masih
signifikan. Koefisien Gini pada 2024 tercatat 0,388. Bahkan, 1 persen kelompok
terkaya menguasai hampir 50 persen kekayaan nasional.
Kondisi
ini menjadi landasan diskusi tentang relevansi pemikiran Karl Marx dalam
membaca struktur ekonomi modern. Marx dalam Das Kapital (1867) menyoroti
bagaimana sistem kapitalisme menghasilkan akumulasi modal pada segelintir
pemilik kapital dan memperlebar jurang kelas sosial.
Mahasiswa
diajak melihat bahwa teori ekonomi tidak lahir secara netral, melainkan terkait
erat dengan konteks sosial, politik, dan sejarah tertentu. Perspektif Marxis
diposisikan sebagai alat analisis kritis untuk memahami dominasi korporasi
besar, ketimpangan distribusi kekayaan, dan relasi kuasa dalam kebijakan
ekonomi.
Seminar
Interaktif dan Diskusi Kontekstual
Kegiatan
berlangsung dalam format seminar dan diskusi kelompok. Materi yang dibahas
meliputi konsep kelas sosial, eksploitasi, ketimpangan struktural, hingga
relevansi teori Marxis terhadap kondisi Indonesia saat ini.
Mahasiswa
kemudian mendiskusikan fenomena konkret seperti dominasi modal besar, kebijakan
ekonomi negara, dan distribusi sumber daya nasional. Pendekatan ini membantu
mahasiswa menghubungkan teori dengan praktik nyata.
Selain
perspektif Marxis, tim dosen juga memperkenalkan konsep ekonomi koperasi yang
digagas Mohammad Hatta. Dalam gagasannya tahun 1959, Hatta menempatkan koperasi
sebagai instrumen demokrasi ekonomi yang menekankan gotong royong, keadilan,
dan solidaritas sosial.
Ekonomi
Islam turut menjadi bagian pembahasan. Prinsip zakat, larangan riba, dan
orientasi pada kesejahteraan umat dipaparkan sebagai pendekatan distributif
yang relevan dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia.
Tiga
Temuan Utama Kegiatan
Hasil
kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman mahasiswa. Terdapat
setidaknya tiga poin penting yang mengemuka:
- Mahasiswa memahami bahwa setiap teori
ekonomi memiliki konteks historis yang menentukan relevansinya.
- Analisis Marxis dinilai masih relevan
untuk membaca ketimpangan dan dominasi modal di Indonesia.
- Ekonomi koperasi dan ekonomi Islam
dipandang memiliki potensi sebagai alternatif pembangunan yang lebih
inklusif dan berkeadilan sosial.
Diskusi
juga menunjukkan bahwa mahasiswa mulai melihat pembangunan ekonomi tidak hanya
dari sisi pertumbuhan, tetapi juga distribusi dan keadilan sosial.
Mendorong
Pemikiran Ekonomi yang Lebih Holistik
Tim
penulis menekankan bahwa penguatan pemikiran ekonomi kritis penting untuk
melahirkan analis kebijakan yang lebih peka terhadap persoalan ketimpangan.
Dalam
konteks pendidikan tinggi, temuan ini menjadi sinyal bahwa kurikulum ekonomi
perlu memberi ruang lebih luas bagi perspektif alternatif dan ekonomi politik.
Mahasiswa tidak cukup hanya memahami mekanisme pasar, tetapi juga harus mampu
membaca relasi kuasa dan dampak sosial dari kebijakan ekonomi.
Bagi
pembuat kebijakan, pendekatan koperasi dapat memperkuat ekonomi lokal dan UMKM.
Sementara itu, prinsip ekonomi Islam berpotensi mendukung kebijakan fiskal yang
lebih redistributif dan inklusif.
Tim
dosen merekomendasikan agar kegiatan serupa dikembangkan dengan studi kasus
yang lebih konkret tentang penerapan koperasi dan ekonomi syariah di Indonesia,
sehingga mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga strategi
implementasi.
Konteks
Lebih Luas: Ketimpangan dan Tantangan Pembangunan
Ketimpangan
ekonomi tidak hanya berdampak pada distribusi kekayaan, tetapi juga pada akses
pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja. Dengan memahami berbagai
perspektif ekonomi, mahasiswa diharapkan mampu merumuskan solusi yang lebih
komprehensif.
Pendekatan
ini dinilai relevan dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin
kompleks. Di tengah tekanan kapital global dan konsentrasi kekayaan, pemahaman
lintas perspektif menjadi modal penting bagi generasi ekonom masa depan.
Profil
Penulis
•
Dirmansyah Darwin– Universitas Negeri
Makassar
•
Adi Zulkarnaen– Universitas Negeri
Makassar.
•
I Made Jyotisa Adi Dwipatna– Universitas
Negeri Makassar.
•
Muh Fardan Ngoyo– Universitas Negeri
Makassar.
•
Hafid Sumarwadji– Universitas Negeri
Makassar.
Sumber
Penelitian
Darwin,
D., Zulkarnaen, A., Dwipatna, I. M. J. A., Ngoyo, M. F., & Sumarwadji, H.
(2026). Strengthening Understanding of Political Economy from a Marxist
Perspective and Alternative Economic Concepts Among Development Economics
Students at State University of Makassar.
Jurnal
Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), Vol. 5 No. 1, hlm. 81–88.
DOI: https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i1.131
0 Komentar