Pengangguran Jawa Barat Dipengaruhi Partisipasi Kerja dan Jumlah Penduduk, Bukan Kualitas SDM

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Jawa Barat - Tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat ternyata lebih dipengaruhi oleh dinamika pasar tenaga kerja dibanding kualitas pembangunan manusia. Temuan ini diungkap dalam penelitian Zhavira Rachel Maryam dan Risqi Noor Hidayati Putri dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya, yang menganalisis data 27 kabupaten/kota selama periode 2017–2024. Studi ini penting karena Jawa Barat merupakan kontributor besar ekonomi nasional, namun masih mencatat tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa faktor seperti tingkat partisipasi angkatan kerja dan jumlah penduduk memiliki pengaruh signifikan terhadap pengangguran, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tidak memberikan dampak yang berarti secara statistik. Hasil ini memberi gambaran baru tentang bagaimana kebijakan ketenagakerjaan seharusnya diarahkan.

Latar Belakang: Paradoks Ekonomi Jawa Barat

Jawa Barat dikenal sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Namun, kondisi pasar kerja di wilayah ini menunjukkan paradoks. Pada 2023, tingkat pengangguran terbuka mencapai 7,44 persen, jauh di atas rata-rata nasional.

Fenomena ini mencerminkan ketidakseimbangan antara jumlah tenaga kerja yang tersedia dan kemampuan pasar kerja untuk menyerapnya. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum sepenuhnya diikuti oleh penciptaan lapangan kerja yang memadai.

Metodologi: Analisis Data 27 Wilayah Selama 8 Tahun

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi data panel. Data diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat dan mencakup 27 kabupaten/kota selama periode 2017–2024.

Model yang digunakan adalah Fixed Effect Model (FEM), yang memungkinkan analisis perbedaan karakteristik antarwilayah. Variabel utama yang dianalisis meliputi:

  • Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
  • Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
  • Jumlah penduduk
  • Tingkat pengangguran terbuka

Metode ini dipilih untuk memberikan gambaran yang lebih akurat tentang faktor-faktor yang memengaruhi pengangguran secara regional dan longitudinal.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin penting:

1. IPM tidak berpengaruh signifikan terhadap pengangguran
Peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup tidak secara langsung menurunkan pengangguran.
2. Tingkat partisipasi angkatan kerja berpengaruh negatif signifikan
Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam pasar kerja, semakin rendah tingkat pengangguran.
3. Jumlah penduduk berpengaruh signifikan
Menariknya, pertumbuhan penduduk justru berkorelasi dengan penurunan pengangguran dalam konteks Jawa Barat.
4. Secara simultan, ketiga variabel berpengaruh terhadap pengangguran
Model penelitian mampu menjelaskan sekitar 70,46 persen variasi tingkat pengangguran.

Mengapa IPM Tidak Berpengaruh?

Secara teori, peningkatan kualitas sumber daya manusia seharusnya menurunkan pengangguran. Namun, penelitian ini menemukan sebaliknya.

Zhavira Rachel Maryam menjelaskan bahwa kondisi ini disebabkan oleh ketidaksesuaian antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan industri (skill mismatch). Banyak tenaga kerja berpendidikan tinggi, tetapi tidak memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Akibatnya, peningkatan IPM tidak otomatis diikuti dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja.

Peran Penting Partisipasi Angkatan Kerja

Tingkat partisipasi angkatan kerja terbukti menjadi faktor kunci. Semakin banyak penduduk usia produktif yang aktif bekerja atau mencari pekerjaan, semakin dinamis pasar tenaga kerja.

Di beberapa daerah seperti Pangandaran, tingginya partisipasi tenaga kerja didukung oleh sektor informal seperti pariwisata, perikanan, dan pertanian. Sektor-sektor ini mampu menyerap tenaga kerja secara cepat dan fleksibel.

Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi lokal dapat membantu menekan pengangguran.

Penduduk: Beban atau Bonus Demografi?

Berbeda dengan teori klasik yang menyebutkan bahwa pertumbuhan penduduk meningkatkan pengangguran, penelitian ini justru menemukan efek sebaliknya.

Di wilayah padat seperti Kabupaten Bogor, Bandung, dan Bekasi, jumlah penduduk yang besar diimbangi dengan aktivitas ekonomi yang tinggi. Hal ini memungkinkan penyerapan tenaga kerja dalam berbagai sektor, baik formal maupun informal.

Dengan kata lain, pertumbuhan penduduk dapat menjadi bonus demografi jika didukung oleh peluang kerja yang cukup.

Implikasi bagi Kebijakan Publik

Temuan ini memberikan beberapa rekomendasi penting bagi pemerintah:

1. Menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan industri
Kurikulum pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja, terutama melalui pendidikan vokasi dan pelatihan berbasis kompetensi.
2. Mendorong partisipasi angkatan kerja
Kebijakan harus mendukung keterlibatan masyarakat usia produktif, termasuk perempuan dan generasi muda.
3. Mengoptimalkan bonus demografi
Pertumbuhan penduduk harus diarahkan menjadi kekuatan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja.
4. Integrasi kebijakan tenaga kerja dan kependudukan
Pendekatan terpadu diperlukan agar pasar kerja lebih adaptif dan inklusif.

Profil Penulis

Zhavira Rachel Maryam
Mahasiswa Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya. Fokus pada ekonomi pembangunan dan ketenagakerjaan.

Risqi Noor Hidayati Putri
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya. Memiliki keahlian di bidang ekonomi regional dan kebijakan publik.

Sumber Penelitian

Maryam, Z. R., & Putri, R. N. H. (2026). Analysis of Determinants of Factors Affecting Unemployment Rates in West Java Province 2017–2024. Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 3, 797–812.

URL: https://journalfjmr.my.id/index.php/fjmr

Posting Komentar

0 Komentar