Pengalaman Guru dalam Membangun Interaksi Pedagogis yang Responsif terhadap Kesejahteraan Psikologis Siswa Tantangan

Ilustrasi by AI

Surabaya— Guru SMP Jakarta Perkuat Pedagogi Responsif untuk Dukung Kesejahteraan Psikologis Siswa. Studi terbaru yang dipimpin Yonas Muanley dari Sekolah Tinggi Teologi IKSM Santosa Asih bersama Eka Ariyati (Universitas Tanjungpura) dan Kristin Anggraini (Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya)  yang dipublikasikan dalam Journal of Educational Analytics (JEDA) Vol. 5 No. 1 (2026).

Studi terbaru yang dipimpin Yonas Muanley dari Sekolah Tinggi Teologi IKSM Santosa Asih bersama Eka Ariyati (Universitas Tanjungpura) dan Kristin Anggraini (Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya) mengungkap bagaimana guru membangun interaksi pedagogis responsif untuk menjawab meningkatnya tantangan emosional remaja di sekolah perkotaan.

Tekanan Psikologis Remaja Semakin Kompleks

Isu kesejahteraan psikologis siswa kini menjadi perhatian global. Pada jenjang SMP—fase transisi penting dalam perkembangan identitas dan emosi—risiko stres akademik, kecemasan sosial, dan kelelahan emosional meningkat tajam.

Di kota besar seperti Jakarta, tekanan tersebut diperkuat oleh kepadatan kelas, latar belakang sosial yang beragam, serta tuntutan prestasi tinggi. Meskipun Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan berorientasi pada well-being, praktik di lapangan masih menghadapi berbagai kendala struktural.

Kesenjangan antara kebijakan dan praktik inilah yang mendorong penelitian ini menggali pengalaman langsung guru dalam merespons kondisi psikologis siswa.

Metode: Mendengar Suara Guru Secara Mendalam

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi interpretatif. Delapan guru dari dua SMP negeri di Jakarta diwawancarai secara mendalam dan diamati dalam praktik pembelajaran di kelas.

Alih-alih mengukur hasil belajar siswa secara kuantitatif, studi ini berfokus pada bagaimana guru membaca sinyal emosional siswa, mengambil keputusan pedagogis, dan menyesuaikan strategi pembelajaran secara kontekstual.

Analisis tematik menghasilkan lima temuan utama tentang praktik pedagogi responsif.

1. Kesadaran Emosional sebagai Fondasi

Guru memandang kesadaran emosional sebagai dasar utama dalam membangun interaksi yang sehat. Mereka mengamati ekspresi wajah, bahasa tubuh, perubahan perilaku, hingga tingkat partisipasi siswa sebelum mengambil tindakan.

Jika siswa yang biasanya aktif tiba-tiba diam dan menunduk, guru tidak langsung menegur. Sebaliknya, mereka menurunkan intensitas instruksi, melembutkan nada suara, atau menunda komentar evaluatif.

Kesadaran emosional berfungsi sebagai “rem pedagogis” agar tekanan kelas tidak memperparah kondisi psikologis siswa.

2. Komunikasi Empatik Menjaga Keterhubungan

Komunikasi empatik menjadi strategi relasional utama. Guru menghindari bahasa yang menghakimi dan lebih memilih kata-kata yang menenangkan serta memvalidasi perasaan siswa.

Banyak guru menunda pemberian solusi dan lebih dahulu memberi ruang bagi siswa untuk bercerita. Umpan balik disampaikan dengan fokus pada perilaku, bukan label pribadi.

Pendekatan ini membantu siswa melihat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, bukan ancaman terhadap harga diri.

3. Fleksibilitas Instruksional Menjaga Keseimbangan

Guru menyesuaikan tempo, metode, dan bentuk tugas sesuai kondisi emosional kelas. Jika siswa tampak lelah secara mental, materi berat dipecah menjadi langkah-langkah kecil atau diganti dengan diskusi ringan.

Fleksibilitas tidak berarti menurunkan standar akademik. Target pembelajaran tetap dipertahankan, tetapi ritme dan cara penyampaian diatur ulang agar siswa tetap terlibat tanpa merasa tertekan.

Praktik ini menjadi mekanisme penyeimbang antara tuntutan akademik dan perlindungan kesehatan mental.

4. Keamanan Psikologis sebagai Prasyarat Belajar

Guru secara konsisten membangun norma kelas yang melindungi martabat siswa. Tidak ada ruang untuk ejekan atau penghinaan. Konflik ditangani cepat dan adil.

Siswa yang melakukan kesalahan tidak dipermalukan di depan kelas. Teguran diberikan secara pribadi untuk menjaga rasa aman.

Lingkungan yang aman secara psikologis membuat siswa lebih berani berpendapat, mencoba, dan belajar dari kesalahan.

5. Hambatan Struktural Masih Menghambat

Meski memiliki komitmen kuat, guru menghadapi beban administratif tinggi, keterbatasan pelatihan terkait kesehatan mental, serta minimnya dukungan kebijakan sekolah.

Sebagian guru mengaku waktu mereka lebih banyak tersita untuk laporan administratif daripada pendampingan emosional siswa. Praktik pedagogi responsif masih sangat bergantung pada inisiatif pribadi, belum menjadi budaya sistemik sekolah.

Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pedagogi responsif membutuhkan dukungan kebijakan dan struktur institusi yang selaras.

Implikasi bagi Kebijakan Pendidikan

Temuan ini menempatkan kompetensi sosial-emosional guru sebagai elemen strategis dalam peningkatan kualitas pendidikan. Untuk memperkuat pedagogi responsif, diperlukan:

  • Pengurangan beban administratif guru
  • Pelatihan khusus tentang kesejahteraan psikologis siswa
  • Integrasi aspek well-being dalam kebijakan sekolah
  • Dukungan sistemik terhadap budaya kelas yang aman dan empatik

Dengan dukungan yang tepat, sekolah dapat menjadi ruang yang menggabungkan keunggulan akademik dan keamanan psikologis.

Profil Penulis

  • Yonas Muanley -  Sekolah Tinggi Teologi IKSM Santosa Asih, Indonesia.
  • Eka Ariyati - Universitas Tanjungpura.
  • Kristin Anggraini - Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Sumber Penelitian

Muanley, Y., Ariyati, E., & Anggraini, K. (2026). Teachers’ Experiences in Building Responsive Pedagogical Interactions toward Students’ Psychological Well-Being Challenges. Journal of Educational Analytics (JEDA), Vol. 5 No. 1, 123–138.

DOI: https://doi.org/10.55927/jeda.v5i1.617

URL : https://nblformosapublisher.org/index.php/jeda


Posting Komentar

0 Komentar