FORMOSA NEWS - Surabaya - Upaya membangun desa tangguh bencana semakin mendapat perhatian di Indonesia. Penelitian yang ditulis oleh Priyanto, Fedianty Augustinah, Galuh Ajeng Ayuningtiyas, dan Siti Marwiyah dari Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya menunjukkan bahwa pemetaan risiko bencana yang dilakukan bersama masyarakat dapat meningkatkan kesiapsiagaan warga sekaligus memperkuat ketahanan desa.
Studi ini dipublikasikan pada tahun 2026 dalam jurnal Formosa Journal of Business and Economic Statistics. Penelitian tersebut berfokus pada Desa Krejengan, Kabupaten Probolinggo, wilayah yang kerap menghadapi ancaman banjir dan cuaca ekstrem. Hasilnya menunjukkan bahwa keterlibatan langsung masyarakat dalam proses identifikasi risiko mampu menghasilkan peta bencana yang lebih akurat sekaligus mendorong tindakan mitigasi yang lebih efektif.
Wilayah Rawan Bencana di Indonesia
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kerentanan bencana yang tinggi di dunia. Letak geografisnya berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik—yang membuat berbagai bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga letusan gunung berapi kerap terjadi.
Kabupaten Probolinggo di Jawa Timur termasuk wilayah yang memiliki risiko tersebut. Data lapangan menunjukkan bahwa hujan deras berkepanjangan sering memicu banjir yang merusak infrastruktur serta menyebabkan kerugian ekonomi bagi masyarakat.
Kondisi ini menuntut pendekatan mitigasi yang tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat secara langsung. Konsep inilah yang menjadi dasar pendekatan Community-Based Disaster Risk Reduction (CBDRR) atau pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.
Pendekatan Partisipatif dalam Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh tim akademisi Unitomo menggunakan pendekatan partisipatif. Artinya, masyarakat tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi ikut terlibat aktif dalam seluruh proses identifikasi risiko hingga penyusunan rencana mitigasi.
Beberapa metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi:
- Wawancara dengan warga dan tokoh masyarakat untuk menggali pengalaman menghadapi bencana.
- Diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) untuk mengidentifikasi ancaman dan kerentanan desa.
- Pemetaan partisipatif yang melibatkan warga dalam menggambar dan menandai wilayah rawan bencana.
- Analisis dan validasi data bersama masyarakat untuk memastikan informasi yang diperoleh akurat.
Melalui pendekatan ini, warga desa dapat memahami secara langsung kondisi kerentanan wilayah mereka sekaligus belajar bagaimana merencanakan langkah mitigasi.
Menurut tim peneliti, partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan karena warga setempat memiliki pengetahuan lokal yang sangat penting, seperti sejarah kejadian banjir, jalur air, hingga lokasi yang sering terdampak.
Lima Kerentanan Utama Desa Krejengan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Krejengan memiliki lima bentuk kerentanan utama terhadap bencana, yaitu:
- Kerentanan fisik – kondisi infrastruktur yang rentan terhadap banjir dan cuaca ekstrem.
- Kerentanan ekonomi – sebagian warga bergantung pada sektor yang mudah terdampak bencana.
- Kerentanan lingkungan – perubahan kondisi lingkungan yang meningkatkan risiko banjir.
- Kerentanan sosial – keterbatasan akses informasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
- Kerentanan politik lokal – perlunya koordinasi kelembagaan yang lebih kuat dalam penanggulangan bencana.
Dengan memahami lima aspek tersebut, masyarakat dan tim peneliti dapat menyusun strategi mitigasi yang lebih komprehensif.
Peta Risiko Bencana Desa
Salah satu hasil penting dari penelitian ini adalah peta risiko bencana Desa Krejengan yang disusun bersama masyarakat. Peta tersebut memuat berbagai informasi penting, antara lain:
- lokasi wilayah paling rentan terhadap banjir
- jalur evakuasi yang aman bagi warga
- titik kumpul darurat ketika terjadi bencana
- area yang membutuhkan perhatian khusus dalam mitigasi
Peta ini tidak hanya menjadi alat perencanaan, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat desa agar lebih memahami kondisi wilayah mereka sendiri.
Selain itu, proses pemetaan bersama juga meningkatkan kesadaran warga tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana.
Rencana Aksi Mitigasi Bencana
Berdasarkan hasil analisis dan pemetaan risiko, tim peneliti bersama masyarakat menyusun Rencana Aksi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) untuk Desa Krejengan.
Beberapa langkah yang disepakati antara lain:
- pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana Desa
- pengembangan program Sekolah Aman Bencana
- eningkatan kegiatan edukasi dan kesadaran lingkungan
- penguatan koordinasi antara pemerintah desa dan masyarakat
Program-program ini dirancang agar dapat dijalankan secara berkelanjutan oleh masyarakat desa sendiri.
Menurut peneliti, keberhasilan mitigasi bencana tidak hanya bergantung pada teknologi atau kebijakan, tetapi juga pada kapasitas sosial masyarakat dalam memahami risiko dan bertindak secara kolektif.
Dampak bagi Pembangunan Desa Tangguh
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis masyarakat mampu meningkatkan kesiapsiagaan warga secara signifikan. Keterlibatan langsung masyarakat dalam setiap tahap mitigasi membuat mereka lebih memahami risiko dan lebih siap menghadapi kemungkinan bencana.
Selain itu, pendekatan ini juga memperkuat kelembagaan lokal serta mendorong terbentuknya jaringan kerja sama antara warga, pemerintah desa, dan pihak akademisi.
Tim peneliti dari Universitas Dr. Soetomo menekankan bahwa model ini dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki risiko bencana serupa.
“Partisipasi masyarakat dalam setiap tahap mitigasi terbukti meningkatkan kesiapsiagaan sekaligus memperkuat institusi lokal,” tulis para penulis dalam publikasi penelitian tersebut.
Dengan kata lain, pembangunan desa tangguh bencana tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang membangun kesadaran, kerja sama, dan kapasitas masyarakat.
Profil Singkat Penulis
Priyanto adalah akademisi di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya yang meneliti bidang tata kelola publik dan pembangunan masyarakat.
Fedianty Augustinah merupakan dosen yang memiliki fokus penelitian pada administrasi publik dan pemberdayaan masyarakat.
Galuh Ajeng Ayuningtiyas adalah peneliti dari Fakultas Ilmu Administrasi Unitomo dengan minat pada pembangunan berbasis komunitas.
Siti Marwiyah merupakan akademisi dari Fakultas Hukum Universitas Dr. Soetomo yang meneliti kebijakan publik dan regulasi terkait tata kelola masyarakat.
Sumber Penelitian
Artikel ilmiah ini berasal dari:
Penelitian ini menegaskan bahwa desa tangguh bencana dapat dibangun melalui pendekatan sederhana namun efektif: melibatkan masyarakat secara aktif dalam memahami dan memetakan risiko di wilayah mereka sendiri.
0 Komentar