Penelitian yang dilakukan oleh Kristiani Yanti Kana dan Delf Gustaf Kalalo dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa menawarkan perspektif baru dalam diskursus filsafat agama, terutama dalam menjawab kritik skeptisisme terhadap iman religius.
Latar Belakang: Perdebatan tentang Rasionalitas Iman
Selama beberapa dekade, banyak filsuf agama berpegang pada pandangan evidentialisme, yaitu keyakinan bahwa kepercayaan religius hanya dapat dianggap rasional jika didukung oleh bukti yang cukup. Pendekatan ini menempatkan iman dalam posisi yang harus terus-menerus dibuktikan melalui argumen filosofis atau data empiris. Namun pada akhir abad ke-20, muncul pendekatan baru yang dikenal sebagai Reformed Epistemology (RE). Tradisi ini berakar pada pemikiran teolog Reformasi John Calvin, terutama melalui konsep sensus divinitatis gagasan bahwa manusia memiliki kecenderungan atau kemampuan alami untuk mengenali keberadaan Tuhan. Pemikiran tersebut kemudian dikembangkan oleh filsuf seperti Alvin Plantinga dan Nicholas Wolterstorff, yang berargumen bahwa kepercayaan kepada Tuhan dapat menjadi “properly basic belief”, yaitu keyakinan dasar yang rasional meskipun tidak diturunkan dari bukti atau argumen lain. Melalui kajian literatur yang komprehensif, Kristiani Yanti Kana dan Delf Gustaf Kalalo menelaah perkembangan gagasan ini serta menyoroti analisis John D. Laing, seorang teolog dan filsuf yang meneliti hubungan antara Reformed Epistemology, evidentialisme, dan apologetika evangelikal.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan filsafat dan teologi. Para penulis menganalisis berbagai sumber akademik yang membahas Reformed Epistemology serta kritik terhadap evidentialisme.
- Menguraikan argumen utama Reformed Epistemology terhadap evidentialisme.
- Mengidentifikasi kritik terhadap pendekatan tersebut dari perspektif filsafat agama.
- Menilai kekuatan dan kelemahan masing-masing argumen.
- Menarik implikasi bagi praktik apologetika Kristen di era modern.
Temuan Utama Penelitian
Penelitian ini menyoroti beberapa temuan penting terkait signifikansi Reformed Epistemology dalam filsafat agama.
Kritik terhadap evidentialisme
Pergeseran paradigma apologetika
Analisis John D. Laing menunjukkan bahwa Reformed Epistemology mengubah cara apologetika dilakukan. Fokusnya tidak lagi pada usaha membuktikan keberadaan Tuhan melalui argumen logis semata, tetapi pada penjelasan mengenai bagaimana iman dapat muncul secara rasional dalam pengalaman manusia sehari-hari.
Peran pengalaman dan komunitas iman
RE juga menekankan bahwa keyakinan religius tidak hanya terbentuk secara individual. Komunitas iman memiliki peran penting dalam membentuk dan memperkuat keyakinan dasar yang dimiliki seseorang.
Implikasi bagi Studi Agama Masa Depan
Penelitian ini juga mengusulkan perlunya
pendekatan evaluasi yang lebih komprehensif dalam menilai pengalaman religius.
Beberapa kriteria yang dapat digunakan antara
lain:
- Konsistensi internal pengalaman religius.
- Kesesuaian dengan tradisi teologis.
- Dampak moral dan transformasi kehidupan.
- Kemampuan bertahan terhadap kritik rasional.
Pendekatan multidimensi ini diharapkan dapat
membantu menjawab kritik terhadap Reformed Epistemology sekaligus memperkaya
dialog antaragama dalam studi filsafat agama modern.
Profil Penulis
Kristiani Yanti Kana adalah akademisi di Universitas Kristen
Indonesia
Bidang Keahlian: filsafat agama, teologi sistematika, dan
epistemologi iman.
Delf Gustaf Kalalo merupakan dosen dan peneliti di Universitas
Kristen Indonesia
Bidang Keahlian: teologi evangelikal, apologetika
Kristen, serta filsafat teologi.
Sumber Penelitian
Kristiani Yanti Kana dan Delf Gustaf Kalalo. Analyzing
the Significance of Reformed Epistemology: A Critical Review of Criticism of
Evidentialism and its Implications for Evangelical Apologetics. Indonesian Journal of Christian Education and
Theology (IJCET), Vol. 5 No. 1, hal 65–72. 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijcet.v5i1.7
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijcet/index

0 Komentar