Paritas dan Jarak Kehamilan Pendek Tingkatkan Risiko Hiperemesis Gravidarum, Studi di Kolaka
Penelitian yang dilakukan oleh Jumiyati, Hernah Riana, dan Nurmitasari dari Institut Kesehatan dan Teknologi Bisnis Menara Bunda Kolaka, Indonesia, menemukan bahwa paritas dan interval antar kehamilan berhubungan signifikan dengan meningkatnya risiko hiperemesis gravidarum, yaitu kondisi mual dan muntah berat selama kehamilan. Studi ini dipublikasikan pada tahun 2026 dalam jurnal International Journal of Contemporary Sciences (IJCS) dan dilakukan di Puskesmas Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Temuan ini penting karena memberikan dasar ilmiah bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan skrining risiko dan edukasi kehamilan sejak awal pelayanan antenatal.
Hiperemesis Gravidarum Masih Menjadi Masalah Kesehatan Ibu
Mual dan muntah merupakan gejala umum pada awal kehamilan, terutama pada trimester pertama. Gejala ini biasanya muncul sekitar minggu ke-5 hingga ke-6 kehamilan, mencapai puncaknya pada minggu ke-8 sampai ke-12, lalu berangsur membaik pada trimester kedua.
Namun pada sebagian perempuan, gejala tersebut berkembang menjadi hiperemesis gravidarum, kondisi yang lebih serius dengan ciri-ciri muntah terus-menerus, dehidrasi, penurunan berat badan, serta gangguan keseimbangan elektrolit. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan ibu dan janin apabila tidak ditangani dengan tepat.
Secara global, hiperemesis gravidarum diperkirakan terjadi pada 0,3 persen hingga lebih dari 10 persen kehamilan. Di Indonesia, data kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 12–13 persen ibu hamil mengalami mual muntah berat yang berpotensi berkembang menjadi hiperemesis gravidarum.
Di wilayah Sulawesi Tenggara, termasuk Kabupaten Kolaka, kasus kondisi ini masih ditemukan setiap tahun. Oleh karena itu, identifikasi faktor risiko pada tingkat pelayanan kesehatan primer seperti puskesmas menjadi sangat penting untuk mencegah komplikasi kehamilan
Penelitian Dilakukan di Puskesmas Wundulako
Tim peneliti dari Institut Kesehatan dan Teknologi Bisnis Menara Bunda Kolaka melakukan studi potong lintang (cross-sectional) menggunakan data ibu hamil yang tercatat di Puskesmas Wundulako.
Penelitian dilakukan pada Juni 2025 dengan menggunakan data dari register Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Dari total 204 ibu hamil yang tercatat pada tahun 2024, peneliti memilih 80 responden sebagai sampel penelitian melalui metode purposive sampling.
Responden dibagi menjadi dua kelompok:
- 40 ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum
- 40 ibu hamil yang tidak mengalami hiperemesis gravidarum
Penelitian ini menilai dua faktor utama yang diduga memengaruhi risiko hiperemesis gravidarum, yaitu:
- Paritas, atau jumlah persalinan sebelumnya
- Interval antar kehamilan, yaitu jarak waktu antara satu kehamilan dengan kehamilan berikutnya
Paritas dikategorikan menjadi:
- Paritas berisiko tinggi: kehamilan pertama atau lebih dari tiga kali melahirkan
- Paritas risiko rendah: dua sampai tiga kali melahirkan
Sementara itu, interval antar kehamilan dibagi menjadi:
- Berisiko tinggi: kurang dari dua tahun
- Risiko rendah: dua tahun atau lebih
Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan kejadian hiperemesis gravidarum.
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara paritas dan jarak antar kehamilan dengan kejadian hiperemesis gravidarum.
1. Paritas Berisiko Tinggi Meningkatkan Kejadian Hiperemesis
Penelitian menemukan bahwa ibu hamil dengan paritas berisiko tinggi memiliki kemungkinan lebih besar mengalami hiperemesis gravidarum.
Temuan pentingnya antara lain:
- 62,5 persen ibu dengan paritas berisiko tinggi mengalami hiperemesis gravidarum
- Nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,78
- Artinya, ibu dengan paritas berisiko tinggi hampir tiga kali lebih berpeluang mengalami hiperemesis gravidarum
Kondisi ini dapat terjadi karena ibu hamil pertama kali masih mengalami proses adaptasi fisiologis dan hormonal terhadap kehamilan. Sementara itu, ibu dengan jumlah persalinan yang banyak mungkin mengalami kelelahan fisik dan perubahan metabolisme yang memengaruhi kondisi kehamilan.
2. Jarak Kehamilan Pendek Memperbesar Risiko
Interval antar kehamilan juga menunjukkan hubungan yang kuat dengan hiperemesis gravidarum.
Penelitian menunjukkan bahwa:
- 62,5 persen ibu dengan jarak kehamilan kurang dari dua tahun mengalami hiperemesis gravidarum
- Nilai Odds Ratio mencapai 3,46
Hal ini berarti ibu dengan jarak kehamilan pendek memiliki lebih dari tiga kali risiko mengalami hiperemesis gravidarum dibandingkan dengan ibu yang memiliki jarak kehamilan dua tahun atau lebih.
Jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat menyebabkan tubuh ibu belum sepenuhnya pulih dari kehamilan sebelumnya, baik dari segi cadangan nutrisi, keseimbangan hormon, maupun kondisi fisik secara keseluruhan.
Implikasi bagi Pelayanan Kesehatan Ibu
Temuan penelitian ini memberikan beberapa implikasi penting bagi pelayanan kesehatan ibu, terutama di tingkat pelayanan primer seperti puskesmas.
Pertama, tenaga kesehatan dapat melakukan skrining risiko lebih awal pada ibu hamil dengan paritas tinggi atau jarak kehamilan yang pendek.
Kedua, edukasi mengenai perencanaan kehamilan dan jarak kelahiran yang ideal perlu diperkuat dalam program keluarga berencana.
Ketiga, ibu hamil dengan faktor risiko tersebut dapat memperoleh pemantauan lebih intensif selama trimester pertama, sehingga gejala hiperemesis gravidarum dapat ditangani lebih cepat.
Menurut Jumiyati dan tim peneliti dari Institut Kesehatan dan Teknologi Bisnis Menara Bunda Kolaka, pemantauan faktor reproduksi ibu merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi selama kehamilan. Upaya ini juga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan tingkat pertama

0 Komentar