Narasi yang Terabaikan: Studi Bibliometrik Penelitian Radio Komunitas dalam Ilmu Komunikasi (1941–2025)

Ilustrasi by AI

Surakarta— Narasi yang Terabaikan: Studi Bibliometrik Penelitian Radio Komunitas dalam Ilmu Komunikasi (1941–2025). Penelitian ini dilakukan oleh Panji Dwi Ashrianto, Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, Prahastiwi Utari, dan Sri Hastjarjo dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dalam artikel ilmiah yang terbit di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) pada 2026.

Penelitian yang dilakukan oleh Panji Dwi Ashrianto, Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, Prahastiwi Utari, dan Sri Hastjarjo mengungkapkan bahwa riset radio komunitas masih didominasi isu tata kelola dan ruang publik, sementara tema keadilan sosial, gender, kesehatan, dan masyarakat adat belum terintegrasi kuat dalam arus utama diskursus akademik.

Radio bertahan di tengah dominasi media digital

Dalam ekosistem media yang semakin terdigitalisasi, radio sering dianggap medium lama. Namun data menunjukkan radio komunitas tetap relevan, terutama di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur internet. Biaya operasional rendah, jangkauan luas, dan kedekatan dengan komunitas membuat radio komunitas efektif untuk penyebaran informasi publik, komunikasi krisis, hingga penguatan identitas lokal.

Meski demikian, jumlah publikasi ilmiah tentang radio komunitas jauh lebih sedikit dibandingkan radio komersial. Dari 773 dokumen awal yang ditemukan di Scopus dengan kata kunci “community radio”, hanya 211 artikel yang memenuhi kriteria ketat bidang ilmu sosial dan jenis artikel jurnal untuk dianalisis lebih lanjut.

Lonjakan publikasi pasca-pandemi

Distribusi tahunan menunjukkan publikasi tentang radio komunitas sudah ada sejak 1941. Namun peningkatan signifikan baru terlihat setelah tahun 2000 dan melonjak tajam pada periode 2019–2024.Tahun 2023 mencatat 15 publikasi dan 2024 mencapai 19 publikasi—angka tertinggi dalam sejarah kajian ini.

Tim peneliti mengidentifikasi dua faktor utama pendorong lonjakan tersebut:

  1. Pandemi COVID-19 yang meningkatkan kebutuhan komunikasi lokal berbasis komunitas.
  2. Transformasi digital yang mendorong integrasi radio dengan media sosial dan podcasting.

Radio komunitas kini berkembang menuju model hybrid, memadukan siaran konvensional dengan platform digital.

Australia dominan, Indonesia masih terbatas

Dari sisi geografis, Australia menjadi negara dengan kontribusi publikasi terbesar (35 artikel), diikuti Amerika Serikat (33), Afrika Selatan (23), dan Inggris (16). Indonesia tercatat menghasilkan tujuh publikasi dalam periode yang sama.

Dominasi Australia dikaitkan dengan ekosistem penyiaran komunitas yang kuat dan adaptif terhadap teknologi. Sebaliknya, di Indonesia, isu keberlanjutan radio komunitas masih dipengaruhi regulasi dan dukungan politik, termasuk tantangan pendanaan dan manajemen jaringan radio komunitas.

Tiga poros utama riset radio komunitas

Melalui pemetaan jaringan menggunakan VOSviewer, penelitian ini menemukan tiga klaster utama dalam kajian radio komunitas:

  1. Tata kelola dan regulasi media (policy, regulation, media system).
  2. Ruang publik dan partisipasi warga (public sphere, citizenship, human rights).
  3. Konvergensi digital (social media, podcasting).

Namun, isu perempuan dan gender, media masyarakat adat, komunikasi kesehatan, perubahan iklim, serta ketahanan sosial masih berada di pinggiran peta penelitian. Tema-tema ini belum memiliki keterhubungan kuat dengan kerangka besar kebijakan dan ruang publik.Peneliti menyebut kondisi ini sebagai “neglected narratives” atau narasi yang belum mendapatkan perhatian akademik yang proporsional.

Implikasi bagi kebijakan dan pengembangan media

Temuan ini membawa pesan penting bagi pembuat kebijakan dan praktisi media. Radio komunitas tidak kehilangan relevansi, tetapi membutuhkan dukungan regulasi yang adaptif dan model operasional yang terintegrasi dengan platform digital.

Penelitian ini merekomendasikan beberapa langkah strategis:

1.      Integrasi model radio–platform digital secara berkelanjutan.

2.      Penguatan kebijakan publik yang mendukung keberlanjutan radio komunitas.

3.      Riset lintas negara untuk memperluas perspektif Global South.

4.      Integrasi isu gender, kesehatan, dan keadilan sosial dalam kerangka kajian utama.

Menurut tim peneliti UNS, rendahnya visibilitas akademik tidak boleh dimaknai sebagai menurunnya urgensi sosial radio komunitas. Justru sebaliknya, radio komunitas memiliki potensi besar sebagai ruang publik alternatif di era disrupsi digital.

Profil penulis

        Panji Dwi Ashrianto – Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta.

        Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni – Universitas Sebelas Maret.

        Dr. Prahastiwi Utari – Universitas Sebelas Maret.

        Dr. Sri Hastjarjo – Universitas Sebelas Maret.

Sumber penelitian

Ashrianto, P. D., Nurhaeni, I. D. A., Utari, P., & Hastjarjo, S. (2026). Neglected Narratives: A Bibliometric Study of Community Radio Research in Communication (1941–2025).

East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 2, hlm. 643–662.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i2.25

URL Resmi : https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr


Posting Komentar

0 Komentar