Enrekang, Sulawesi Selatan— Merawat
Kebangsaan di Daerah: Moderasi Beragama sebagai Modal Sosial-Keagamaan dalam
Menghadapi Otoritas Keagamaan, Kecerdasan Buatan, dan Ekstremisme di Enrekang.
Penelitian ini dilakukan oleh Ushwa Dwi Masrurah Arifin Bando dan Kartini dari
Universitas Negeri Makassar, dan terbit di International Journal of
Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR) Volume 4 Nomor 2 Tahun 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Ushwa
Dwi Masrurah Arifin Bando dan Kartini mengungkapkan bahwa moderasi beragama
yang hidup dalam praktik sosial masyarakat mampu menjadi benteng terhadap
radikalisasi lunak di ruang digital.
Otoritas
agama bergeser ke ruang digital
Berdasarkan
wawancara mendalam, observasi terbatas, dan analisis dokumen digital, tim
peneliti menemukan bahwa masyarakat Enrekang terutama kelompok usia 17-35 tahun
memiliki tingkat paparan konten keagamaan digital pada kategori sedang hingga
tinggi.
Ceramah singkat
di media sosial, potongan video dakwah, serta jawaban instan dari mesin pencari
dan aplikasi AI menjadi rujukan awal dalam memahami persoalan agama
sehari-hari. Otoritas agama tidak lagi hanya ditentukan oleh kedalaman ilmu dan
pengakuan lembaga, tetapi juga oleh jumlah pengikut, viralitas, dan performa
algoritma.
Peneliti
mencatat bahwa algoritma media sosial berperan sebagai akselerator melalui
mekanisme filter bubble dan echo chamber. Pengguna cenderung
menerima konten yang sejalan dengan preferensi awal mereka, sehingga
mempersempit ruang dialog dan memperkuat afiliasi eksklusif.Namun, pergeseran
ini tidak sepenuhnya menggantikan peran ulama lokal. Di Enrekang, tokoh agama
tradisional masih memiliki legitimasi kuat, terutama ketika mereka adaptif
terhadap media digital dan tetap konsisten pada nilai moderasi.
Ekstremisme
hadir dalam bentuk radikalisasi lunak
Menariknya,
penelitian ini tidak menemukan radikalisme berbasis kekerasan di Enrekang.
Tantangan yang muncul lebih bersifat simbolik dan kognitif, atau yang disebut
sebagai soft radicalization.
Peneliti
memetakan spektrum sebagai berikut:
- Paparan awal konten eksklusif – Tinggi
- Normalisasi narasi intoleran – Sedang
- Afiliasi keagamaan eksklusif – Rendah–Sedang
- Radikalisme berbasis kekerasan – Sangat rendah
Narasi yang
berkembang biasanya berbentuk klaim kebenaran tunggal, delegitimasi praktik
keagamaan lokal, serta dikotomi “kelompok benar” versus “kelompok menyimpang”.
Contohnya termasuk ceramah daring yang menyebut tradisi lokal sebagai bid’ah,
video viral yang menolak dialog lintas kelompok, hingga pesan berantai yang
memicu kecurigaan terhadap institusi formal.
Radikalisasi ini
berlangsung perlahan dan emosional, bukan melalui ajakan kekerasan langsung.
Namun dalam jangka panjang, pola tersebut berpotensi melemahkan kohesi sosial
jika tidak diimbangi dengan penguatan nilai moderasi.
Moderasi
beragama sebagai modal sosial
Di tengah arus
digital tersebut, masyarakat Enrekang menunjukkan ketahanan sosial yang relatif
kuat. Nilai-nilai seperti tawassuth (jalan tengah), tasamuh
(toleransi), ta’adul (keadilan), dan musyawarah masih hidup dalam
praktik keseharian. Majelis taklim, musyawarah warga, serta forum komunikasi
antar tokoh agama menjadi ruang internalisasi nilai moderasi. Konflik kecil
diselesaikan melalui dialog dan pendekatan persuasif, bukan konfrontasi.
Penelitian ini
menyimpulkan bahwa moderasi beragama berfungsi sebagai modal
sosial-keagamaan, yakni jaringan nilai, norma, dan kepercayaan yang
memperkuat kohesi dan ketahanan Masyarakat. Ushwa Dwi Masrurah Arifin Bando
menegaskan bahwa moderasi beragama tidak hanya sebatas program kebijakan,
tetapi praktik sosial yang hidup dan adaptif. Ketika nilai tersebut mengakar
dalam budaya lokal, masyarakat memiliki mekanisme internal untuk menyaring
narasi ekstrem tanpa pendekatan represif.
AI sebagai
mediator pengetahuan agama
Studi ini juga
menyoroti peran AI sebagai mediator epistemik. AI tidak sekadar alat teknologi,
tetapi ikut membentuk cara masyarakat memproduksi, mengonsumsi, dan memvalidasi
pengetahuan agama.
Sebagian
informan mengakui bahwa jawaban berbasis aplikasi atau konten viral sering
diterima tanpa proses verifikasi ilmiah. Di sinilah pentingnya literasi
digital-keagamaan agar masyarakat mampu membedakan otoritas ilmiah dan
popularitas algoritmik.
Implikasi
bagi kebijakan dan pendidikan
Penelitian ini
menawarkan pesan jelas bagi pemerintah dan lembaga pendidikan: pendekatan
keamanan semata tidak cukup menghadapi ekstremisme digital yang laten.
Peneliti
merekomendasikan beberapa langkah strategis:
1.
Penguatan literasi digital-keagamaan bagi tokoh
agama dan penyuluh.
2.
Pelatihan pemahaman dasar algoritma dan AI agar
tokoh lokal mampu memproduksi narasi moderat di ruang digital.
3.
Integrasi moderasi beragama dalam kurikulum
pendidikan secara dialogis dan kontekstual.
4.
Penguatan forum kerukunan umat beragama sebagai
ruang dialog substantif, termasuk di platform daring.
Pendekatan
berbasis budaya dan sosial dinilai lebih efektif dalam membangun ketahanan
jangka panjang dibandingkan strategi represif.
Profil
penulis
1.
Ushwa Dwi Masrurah Arifin Bando–
Universitas Negeri Makassar.
2.
Kartini– Universitas Negeri Makassar.
Sumber
penelitian
Bando, U. D. M. A.,
& Kartini. (2026). Caring for the Nationality of the Region: Religious
Moderation as Socio-Religious Capital in Facing Religious Authorities, AI and
Extremism in Enrekang.
International Journal
of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 2, 2026.
DOI : https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i2.1
URL Resmi : https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar