Menjelajahi Pembacaan Aksara Jawa Melalui Permainan Petualangan dengan Pendekatan TGT di Sekolah Dasar

Ilustrasi by AI

Yogyakarta- Game Petualangan Aksara Jawa Tingkatkan Kelulusan Siswa SD hingga 83 Persen. Penelitian ini dilakukan oleh Dyah Rahmawati Purwantari, Supartinah, dan Setiawan Edi Wibowo dari Universitas Negeri Yogyakarta dan dipublikasikan dalam International Journal of Education and Life Sciences (IJELS) Vol. 4 No. 2 (Februari 2026)

Penelitian terbaru dari Dyah Rahmawati Purwantari, Supartinah, dan Setiawan Edi Wibowo dari Universitas Negeri Yogyakarta menunjukkan bahwa pendekatan permainan berbasis Team Games Tournament (TGT) mampu meningkatkan kemampuan membaca aksara Jawa secara signifikan.

Aksara Jawa Dianggap Sulit dan Kurang Relevan

Peraturan Gubernur DIY Nomor 64 Tahun 2013 mewajibkan Bahasa Jawa sebagai muatan lokal di sekolah. Namun dalam praktiknya, banyak siswa mengeluhkan kesulitan menghafal bentuk dan bunyi aksara Jawa.

Sebelum penerapan metode permainan, siswa cenderung:

  • Bergantung pada modul saat mengerjakan soal
  • Tidak percaya diri membaca tanpa contoh
  • Menganggap aksara Jawa tidak penting

Dua siswa bahkan menyatakan tidak termotivasi karena berasal dari luar suku Jawa dan merasa tidak perlu mempelajari aksara Jawa.

Menggabungkan Game dan Pembelajaran Kooperatif

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Games Tournament).

Skema pembelajaran meliputi:

  1. Pembagian kelompok heterogen secara acak
  2. Pencarian kartu suku kata aksara Jawa
  3. Penyusunan suku kata menjadi kata dan kalimat
  4. Kompetisi antarkelompok
  5. Tes formatif individu

Permainan dirancang dalam bentuk petualangan aksara, di mana siswa harus menyusun potongan suku kata menjadi kalimat utuh sesuai struktur subjek–predikat–objek.

Strategi Kreatif Muncul dari Siswa

Hasil observasi menunjukkan dinamika menarik dalam kerja kelompok.

Satu kelompok yang dipimpin Mahran menggunakan strategi transliterasi terlebih dahulu—mengubah aksara menjadi bunyi—sebelum menyusun kalimat. Strategi ini membuat mereka menjadi juara pertama.

Kelompok lain menandai kata dengan simbol berbeda:

  • Lingkaran untuk subjek
  • Segitiga untuk predikat
  • Tanda centang untuk objek

Pendekatan ini mempercepat proses penyusunan kalimat dan mengantarkan mereka menjadi juara kedua.

Namun ada juga kelompok yang kurang solid. Dalam satu kelompok, siswa paling pintar mendominasi pekerjaan, sementara dua anggota lainnya pasif. Guru harus turun tangan untuk mendorong pembagian tugas.

Nilai Rata-Rata Meningkat Signifikan

Setelah penerapan TGT berbasis permainan:

  • Rata-rata nilai formatif mencapai 81,7
  • Sebanyak 83 persen siswa melampaui Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM)
  • Tingkat penyelesaian kerja kelompok mencapai 90 persen

Sebagian besar siswa memperoleh nilai antara 90 hingga 100. Hanya tiga siswa yang nilainya di bawah 80.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis permainan efektif meningkatkan kemampuan membaca awal aksara Jawa.

Perubahan Sikap dan Motivasi

Sebelum metode permainan diterapkan, minat siswa rendah. Setelah permainan diterapkan:

  • Siswa lebih aktif berdiskusi
  • Siswa pasif mulai terlibat
  • Siswa berkemampuan tinggi menunjukkan kepemimpinan
  • Kolaborasi meningkat

Model TGT memunculkan nilai kerja sama, kompetisi sehat, dan kreativitas dalam memecahkan masalah.

Namun penelitian juga mencatat bahwa instruksi guru perlu lebih jelas, karena beberapa siswa masih sering bertanya mengenai langkah permainan.

Tantangan dalam Implementasi

Beberapa kendala yang ditemukan:

  • Waktu pembelajaran tidak cukup untuk satu siklus TGT dalam satu pertemuan
  • Siswa belum terbiasa dengan format permainan
  • Kosakata Jawa tertentu tidak dipahami siswa
  • Evaluasi individu belum sepenuhnya mengukur kemampuan membaca, karena lembar kerja lebih fokus pada penulisan

Peneliti merekomendasikan pembuatan tes formatif terpisah untuk mengukur kemampuan membaca secara individual.

Implikasi untuk Pelestarian Budaya

Hasil penelitian ini memperkuat gagasan bahwa pelestarian budaya melalui pendidikan memerlukan inovasi metode pembelajaran.

Pendekatan berbasis permainan:

  • Selaras dengan psikologi perkembangan anak usia 9–11 tahun
  • Mengintegrasikan nilai budaya dengan pembelajaran aktif
  • Meningkatkan keterlibatan kognitif dan sosial

Model TGT dapat direplikasi di sekolah lain dengan penyesuaian konteks.

Kesimpulan

Pembelajaran membaca aksara Jawa melalui permainan petualangan berbasis Team Games Tournament terbukti efektif meningkatkan minat dan kemampuan siswa sekolah dasar.

Dengan tingkat keberhasilan 83 persen siswa mencapai KKM dan rata-rata nilai 81,7, metode ini layak direkomendasikan sebagai strategi inovatif dalam pembelajaran aksara Jawa di sekolah dasar.

Profil Penulis

  • Dyah Rahmawati Purwantari- Universitas Negeri Yogyakarta
  • Supartinah & Setiawan Edi Wibowo- Universitas Negeri Yogyakarta

Sumber Penelitian

Purwantari, D. R., Supartinah, & Wibowo, S. E. (2026). Exploring Javanese Script Reading through Adventure Games with the TGT Approach in Primary Schools. International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), Vol. 4 No. 2, 215–226.

DOI: https://doi.org/10.59890/ijels.v4i2.281

URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijels

 


Posting Komentar

0 Komentar