Manajemen Mutu Tahfidz Perkuat Karakter dan Makna Menjadi Huffadz, Studi UIN Sunan Kudus

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Jawa Tengah - Pendidikan tahfidz Al-Qur’an tidak lagi sekadar soal hafalan. Riset terbaru yang dilakukan oleh Agus Purwanto dari UIN Sunan Kudus pada 2026 menunjukkan bahwa manajemen mutu yang terstruktur mampu meningkatkan kualitas hafalan sekaligus membentuk karakter dan identitas spiritual santri. Penelitian ini menjadi penting karena menjawab tantangan utama lembaga pendidikan Islam: bagaimana menyeimbangkan capaian hafalan dengan pembentukan akhlak.

Dalam studi yang dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH), Agus Purwanto meneliti implementasi manajemen mutu dalam pendidikan tahfidz di sebuah lembaga pendidikan Islam di Jawa Tengah. Penelitian dilakukan selama tiga bulan dengan melibatkan enam informan, terdiri dari pimpinan lembaga, guru tahfidz, dan santri. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi langsung, dan dokumentasi program.

Tantangan Pendidikan Tahfidz: Antara Hafalan dan Karakter

Dalam beberapa tahun terakhir, program tahfidz semakin populer di Indonesia. Banyak sekolah dan pesantren berlomba mencetak penghafal Al-Qur’an. Namun, fokus yang terlalu besar pada jumlah hafalan sering kali mengabaikan kualitas proses belajar dan pembentukan karakter.

Padahal, menurut Agus Purwanto, menjadi seorang huffadz tidak hanya berarti menghafal 30 juz Al-Qur’an. Lebih dari itu, seorang huffadz harus mampu mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Tujuan pendidikan tahfidz bukan hanya menghasilkan hafalan, tetapi membentuk pribadi yang berakhlak dan bertanggung jawab secara moral,” tulisnya dalam penelitian tersebut.

Program Terstruktur Jadi Kunci Kualitas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga yang diteliti menerapkan manajemen mutu secara sistematis dalam program tahfidz. Ada tiga komponen utama yang menjadi kunci keberhasilan:

1. Target Hafalan yang Jelas dan Terencana
Santri memiliki target harian, mingguan, hingga bulanan. Setiap proses hafalan dilakukan secara bertahap dan diawasi oleh guru.
2. Muroja’ah (Pengulangan) yang Konsisten
Santri tidak hanya menambah hafalan baru, tetapi juga diwajibkan mengulang hafalan lama secara rutin. Praktik ini terbukti menjaga kualitas dan ketahanan hafalan.
3. Evaluasi Berkala dan Monitoring Ketat
Setiap pekan dilakukan evaluasi hafalan, termasuk aspek kelancaran, tajwid, dan ketepatan bacaan. Hasil evaluasi digunakan untuk memberikan bimbingan lanjutan.

Pendekatan ini membuat proses belajar menjadi lebih terarah dan terukur. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga berperan sebagai pembimbing yang memantau perkembangan setiap santri.

Muroja’ah: Kunci Menjaga Hafalan

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah peran sentral muroja’ah. Banyak santri mengakui bahwa menjaga hafalan jauh lebih sulit daripada menghafalnya.

Seorang guru dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa tanpa pengulangan yang konsisten, hafalan akan cepat hilang. Karena itu, muroja’ah dijadikan bagian wajib dalam kurikulum tahfidz.

Temuan ini sejalan dengan teori pembelajaran modern yang menekankan pentingnya pengulangan dalam memperkuat memori jangka panjang.

Evaluasi Berkelanjutan Tingkatkan Kualitas

Selain muroja’ah, evaluasi rutin juga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas pendidikan. Guru secara aktif mengevaluasi hafalan santri dan memberikan umpan balik langsung.

Evaluasi tidak hanya menilai jumlah hafalan, tetapi juga kualitas bacaan dan pemahaman. Dengan sistem ini, kesalahan dapat segera diperbaiki sebelum menjadi kebiasaan.

Pendekatan ini mencerminkan prinsip continuous improvement dalam manajemen mutu, di mana proses belajar terus diperbaiki secara berkelanjutan.

Menjadi Huffadz: Identitas Spiritual dan Tanggung Jawab Moral

Temuan paling menarik dari penelitian ini adalah bagaimana santri dan guru memaknai status sebagai huffadz. Mereka tidak melihatnya sebagai pencapaian akademik semata, tetapi sebagai identitas spiritual.

Santri merasa memiliki tanggung jawab lebih besar dalam bersikap dan berperilaku. Mereka berusaha menjaga akhlak karena merasa membawa nilai-nilai Al-Qur’an dalam diri mereka.

“Menjadi huffadz berarti berusaha hidup sesuai dengan ajaran Al-Qur’an,” ungkap salah satu santri dalam penelitian tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tahfidz yang dikelola dengan baik mampu membentuk karakter, bukan hanya kemampuan kognitif.

Dampak bagi Pendidikan dan Masyarakat

Hasil penelitian ini memberikan beberapa implikasi penting:

  • Bagi lembaga pendidikan: penting menerapkan manajemen mutu yang terstruktur dalam program tahfidz
  • Bagi guru: peran tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing karakter
  • Bagi pembuat kebijakan: perlu mendorong standar kualitas dalam pendidikan tahfidz
  • Bagi masyarakat: huffadz diharapkan menjadi teladan moral, bukan sekadar penghafal

Pendekatan ini juga relevan untuk pengembangan pendidikan berbasis karakter di luar konteks keagamaan.

Profil Penulis

Agus Purwanto adalah peneliti dan akademisi dari UIN Sunan Kudus, Indonesia. Ia memiliki fokus kajian pada manajemen pendidikan Islam, khususnya dalam pengembangan kualitas pendidikan tahfidz dan pembentukan karakter berbasis nilai-nilai Al-Qur’an.

Sumber Penelitian

Purwanto, Agus. 2026. Quality Management of Tahfidz Education and the Meaning of Being a Huffadz: An Empirical Study in Islamic Educational Institutions. Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH), Vol. 5 No. 1.

Posting Komentar

0 Komentar