Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai makanan siap saji yang populer di sekitar Stasiun Universitas Indonesia tidak mengandung bakteri E. coli, sehingga memenuhi standar keamanan pangan yang ditetapkan pemerintah Indonesia. Temuan ini penting karena area sekitar stasiun dan kampus merupakan pusat aktivitas mahasiswa dan masyarakat yang sangat bergantung pada makanan siap saji dari warung atau pedagang kaki lima.
Ancaman Penyakit dari Kontaminasi Makanan
Secara global, penyakit yang berasal dari makanan atau foodborne diseases masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 10 orang di dunia mengalami sakit akibat makanan yang terkontaminasi setiap tahun, dengan dampak kehilangan sekitar 33 juta tahun hidup sehat.
Di kawasan Asia Tenggara, lebih dari 150 juta orang mengalami penyakit akibat makanan setiap tahun, dan lebih dari 175 ribu di antaranya meninggal dunia. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak penyakit ini.
Di Indonesia sendiri, kejadian keracunan makanan masih cukup sering terjadi. Kajian sistematis menunjukkan bahwa antara tahun 2000 hingga 2015 terdapat 1.167 kejadian luar biasa keracunan pangan, dengan puluhan ribu korban dan ratusan kematian.
Salah satu penyebab paling umum adalah kontaminasi bakteri, terutama bakteri Escherichia coli. Bakteri ini biasanya berasal dari kotoran manusia atau hewan dan dapat mencemari air, bahan makanan, maupun peralatan yang digunakan saat proses pengolahan makanan.
Jika makanan terkontaminasi bakteri tersebut, seseorang dapat mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti diare, sakit perut, mual, muntah, demam, hingga kondisi yang lebih serius.
Menguji Keamanan Makanan di Sekitar Kampus
Melihat tingginya konsumsi makanan siap saji di area kampus dan transportasi publik, para peneliti dari Universitas Indonesia melakukan pengujian mikrobiologis terhadap makanan yang dijual di sekitar Stasiun Universitas Indonesia.
Penelitian dilakukan dengan metode Total Plate Count (TPC) menggunakan media selektif MacConkey agar untuk mendeteksi keberadaan bakteri E. coli. Metode ini umum digunakan dalam mikrobiologi pangan untuk mengetahui jumlah mikroorganisme yang tumbuh dalam suatu sampel makanan.
Tim peneliti mengambil lima jenis makanan siap saji populer dari tiga warung berbeda di sekitar stasiun, yaitu:
- Capcay
- Telur dadar
- Ayam kecap
- Kentang mustofa
- Tumis kangkung
Setiap sampel makanan diambil sebanyak 25 gram, kemudian diproses di laboratorium dengan pengenceran bertahap dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C untuk melihat apakah terdapat pertumbuhan koloni bakteri.
Hasil: Tidak Ditemukan Bakteri E. coli
Hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak ada pertumbuhan koloni bakteri E. coli pada semua sampel makanan yang diuji. Bahkan pada pengenceran hingga tingkat paling tinggi dalam uji laboratorium, tidak ditemukan bakteri yang berkembang.
Semua sampel makanan yang diperiksa memiliki nilai 0 CFU/gram, yang berarti tidak terdeteksi adanya bakteri E. coli. Nilai ini jauh di bawah batas maksimum yang diperbolehkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023, yaitu kurang dari 1,1 CFU/gram untuk makanan siap saji.
Dengan demikian, makanan yang diuji memenuhi standar keamanan mikrobiologis nasional dan dinilai aman untuk dikonsumsi.
Indikasi Higiene yang Baik
Tidak ditemukannya bakteri E. coli dalam makanan yang diuji juga menunjukkan bahwa pedagang kemungkinan telah menerapkan praktik kebersihan yang cukup baik dalam proses pengolahan makanan.
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi kebersihan makanan antara lain:
- Kebersihan air yang digunakan untuk memasak
- Proses pencucian bahan makanan
- Kebersihan peralatan memasak
- Cara penyimpanan bahan dan makanan jadi
- Kebiasaan mencuci tangan oleh penjual
Jika salah satu faktor tersebut tidak terjaga, risiko kontaminasi bakteri dapat meningkat.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sumber air yang digunakan oleh para pedagang kemungkinan bebas dari kontaminasi bakteri fekal, yang sering menjadi penyebab utama munculnya E. coli pada makanan.
Perbandingan dengan Studi Lain
Temuan ini tergolong positif jika dibandingkan dengan beberapa penelitian sebelumnya di Indonesia.
Sebagai contoh, penelitian di sebuah pusat kuliner di Surabaya menemukan bahwa 8 dari 12 sampel makanan yang diuji mengandung bakteri E. coli melebihi batas aman.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kualitas higiene makanan dapat sangat bervariasi tergantung pada praktik sanitasi yang diterapkan oleh pedagang makanan.
Implikasi bagi Kesehatan Masyarakat
Hasil penelitian ini memberikan kabar baik bagi mahasiswa, pekerja, dan masyarakat yang sering membeli makanan di sekitar Stasiun Universitas Indonesia.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa makanan siap saji dari pedagang sekitar lokasi penelitian memiliki kualitas mikrobiologis yang baik dan aman untuk dikonsumsi.
Namun demikian, para peneliti menekankan bahwa pengawasan keamanan pangan tetap perlu dilakukan secara berkala. Hal ini penting untuk memastikan bahwa standar higiene dan sanitasi tetap terjaga dalam jangka panjang.
Pemantauan rutin juga dapat membantu mencegah potensi wabah keracunan makanan di lingkungan publik yang padat aktivitas seperti kampus dan stasiun transportasi.
Profil Penulis
Dr. Conny Riana Tjampakasari merupakan dosen dan peneliti di Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Bidang keahliannya meliputi mikrobiologi medis, keamanan pangan, dan deteksi mikroorganisme patogen dalam makanan.
Ananda Karla Athiyyah adalah peneliti dari bidang Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang turut berkontribusi dalam penelitian mengenai keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.
0 Komentar