Studi tersebut dimuat dalam International Journal of Management and Business Intelligence (IJBMI) Vol. 4 No. 1 Tahun 2026. Penelitian dilakukan langsung di lokasi Agrowisata California Cialam Jaya, Desa Tanea, Kecamatan Konda, yang sejak berdiri pada 2020 terus berkembang sebagai destinasi wisata berbasis kebun buah organik.
Latar Belakang: Kunjungan yang Fluktuatif
Agrowisata California Cialam Jaya dikenal dengan kebun buah seluas 14,5 hektare yang menawarkan pengalaman memetik langsung pepaya California, jambu kristal, durian, dan rambutan. Lokasinya sekitar 24,6 kilometer dari Kota Kendari dan dikelola oleh PTM Syariah Group.
Namun, data kunjungan menunjukkan fluktuasi. Pada 2022 tercatat 1.750 pengunjung. Jumlah ini turun drastis menjadi 1.062 orang pada 2023, sebelum naik kembali menjadi 1.340 orang pada 2024. Total kunjungan selama tiga tahun mencapai 4.152 wisatawan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan: faktor apa yang benar-benar menentukan minat wisatawan untuk datang?
Metode Penelitian yang Digunakan
Penelitian dilakukan pada Agustus–Oktober 2025 dengan pendekatan kuantitatif. Sebanyak 30 responden yang merupakan pengunjung lokasi dipilih menggunakan metode accidental sampling.
Para responden mengisi kuesioner berbasis skala Likert untuk menilai:
- Daya tarik destinasi
- Aksesibilitas
- Fasilitas
- Harga tiket
- Kualitas layanan
- Minat berkunjung
Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk melihat pengaruh masing-masing faktor, baik secara parsial maupun simultan.
Hasil Utama: Semua Faktor Berpengaruh Signifikan
Hasil analisis menunjukkan bahwa kelima faktor tersebut berpengaruh signifikan terhadap minat berkunjung wisatawan (p < 0,05).
Beberapa temuan penting:
- Daya tarik menjadi faktor paling dominan. Koefisien tertinggi menunjukkan bahwa keindahan kebun, pengalaman memetik buah, dan suasana alami menjadi magnet utama wisatawan.
- Aksesibilitas meningkatkan minat kunjungan. Kemudahan akses jalan dan jarak yang relatif dekat dari Kendari menjadi nilai tambah.
- Fasilitas berpengaruh positif. Keberadaan vila mini, toilet, area istirahat, dan fasilitas pendukung lainnya meningkatkan kenyamanan pengunjung.
- Harga tiket berpengaruh negatif. Semakin tinggi harga, minat cenderung menurun. Sebaliknya, harga yang dianggap terjangkau mendorong ketertarikan.
- Kualitas layanan memperkuat minat. Keramahan staf, informasi yang jelas, dan pelayanan yang profesional meningkatkan keinginan untuk berkunjung atau kembali lagi.
Dampak bagi Pengelola dan Pemerintah Daerah
Temuan ini memberikan panduan praktis bagi pengelola agrowisata dan pemerintah daerah.
Pertama, penguatan daya tarik harus menjadi prioritas. Inovasi kegiatan seperti edukasi pertanian, tur kebun terpandu, atau festival panen bisa meningkatkan pengalaman wisata.
Kedua, akses jalan dan petunjuk arah perlu dijaga dan ditingkatkan. Aksesibilitas yang baik mengurangi hambatan psikologis wisatawan untuk datang.
Ketiga, investasi pada fasilitas dan kebersihan tidak bisa diabaikan. Wisatawan modern menuntut kenyamanan, bahkan di destinasi berbasis pedesaan.
Keempat, strategi harga harus seimbang. Harga terjangkau terbukti menjadi faktor penting dalam menjaga minat kunjungan.
Kelima, kualitas layanan harus konsisten. Pelatihan staf dan standar pelayanan menjadi kunci dalam membangun reputasi jangka panjang.
Menurut Dr. Haji Saediman dari Universitas Halu Oleo, pengembangan destinasi wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Kombinasi antara daya tarik, akses, fasilitas, harga yang wajar, dan layanan berkualitas menjadi fondasi utama keberlanjutan usaha wisata berbasis pertanian.
Kontribusi bagi Pengembangan Agrowisata
Penelitian ini memperkuat literatur tentang pengembangan agrowisata di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi Tenggara. Dengan pendekatan berbasis data, hasil riset ini dapat menjadi referensi kebijakan dalam pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas dan pertanian.
Agrowisata memiliki potensi besar dalam meningkatkan pendapatan petani dan mendorong ekonomi pedesaan. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan pengelola memahami faktor-faktor yang memengaruhi perilaku wisatawan.
Profil Penulis
Sumber Penelitian
Artikel ini dipublikasikan secara akses terbuka dan dapat diakses melalui laman resmi jurnal.
0 Komentar