Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kompleksitas risiko bisnis di era digitalisasi dan globalisasi. Perubahan regulasi yang cepat, tekanan pasar global, disrupsi teknologi, hingga dinamika makroekonomi menuntut perusahaan memiliki sistem manajemen risiko yang terintegrasi. Kegagalan manajemen risiko dapat berujung pada krisis besar, sebagaimana terlihat dalam kasus runtuhnya Silicon Valley Bank yang disorot dalam kajian literatur penelitian ini
Enterprise Risk Management (ERM) menjadi pendekatan yang banyak digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengendalikan risiko secara menyeluruh. ERM tidak hanya berfungsi sebagai alat mitigasi risiko, tetapi juga sebagai sinyal transparansi kepada investor dan pemangku kepentingan.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder dari laporan tahunan dan S&P Capital IQ. Sampel terdiri dari 47 perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 2019–2023, menghasilkan 235 observasi firm-year.
Pengukuran ERM dilakukan melalui analisis isi terhadap 20 item pengungkapan berdasarkan kerangka COSO ERM 2017. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak Stata 17
Variabel yang diuji meliputi:
- Jumlah rapat komite audit
- Jumlah rapat dewan direksi
- Reputasi auditor (Big Four vs non-Big Four)
- Profitabilitas (Return on Assets/ROA)
Penelitian juga memasukkan variabel kontrol seperti likuiditas, ukuran perusahaan, pertumbuhan, dan usia perusahaan.
Temuan Utama
Hasil penelitian menunjukkan empat temuan penting:
1. Komite audit berpengaruh positif signifikan terhadap ERM.Semakin sering komite audit mengadakan rapat, semakin luas dan efektif pengungkapan manajemen risiko dalam laporan tahunan.
2. Dewan direksi berpengaruh positif signifikan terhadap ERM.
Intensitas rapat direksi meningkatkan kualitas pengawasan dan transparansi risiko.
3. Reputasi auditor (Big Four) berpengaruh negatif signifikan terhadap ERM.
Bank yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Big Four cenderung mengungkapkan informasi risiko lebih terbatas.
4. Profitabilitas berpengaruh negatif signifikan terhadap ERM.
Bank dengan ROA lebih tinggi justru cenderung mengurangi luas pengungkapan risiko.
Secara statistik, rata-rata skor ERM bank dalam sampel mencapai 0,8745 dari skala 0–1, menunjukkan tingkat pengungkapan yang relatif tinggi berdasarkan 20 indikator COSO
Mengapa Komite Audit dan Direksi Penting?
Komite audit berperan memastikan kebijakan pengendalian internal berjalan efektif. Frekuensi rapat yang tinggi meningkatkan intensitas evaluasi risiko, memperkuat diskusi strategis, dan memperbaiki koordinasi pengawasan.
Dewan direksi juga berfungsi sebagai mekanisme kontrol utama dalam tata kelola perusahaan. Direksi yang aktif mampu menetapkan batas toleransi risiko, mengawasi implementasi kebijakan, dan memastikan risiko strategis dikelola secara sistematis.
Menurut Herlina Lusmeida dari Universitas Pelita Harapan, aktivitas pengawasan yang konsisten mencerminkan komitmen perusahaan dalam membangun sistem manajemen risiko yang terintegrasi dan transparan
Mengapa Auditor Big Four Justru Negatif?
Temuan paling menarik adalah pengaruh negatif reputasi auditor terhadap pengungkapan ERM. Secara teori, auditor bereputasi tinggi seharusnya mendorong transparansi. Namun, penelitian ini menunjukkan sebaliknya.
Auditor Big Four memiliki standar profesional dan skeptisisme yang lebih ketat. Manajemen perusahaan cenderung berhati-hati dalam mengungkapkan informasi risiko yang bersifat spekulatif atau sulit diukur karena khawatir tidak dapat didukung bukti audit yang memadai. Akibatnya, pengungkapan risiko menjadi lebih konservatif.
Temuan ini membuka diskusi baru bahwa kualitas audit tidak selalu identik dengan luasnya pengungkapan risiko.
Mengapa Profitabilitas Negatif?
Profitabilitas yang tinggi tidak otomatis mendorong transparansi risiko. Perusahaan yang mencatat laba tinggi mungkin merasa tidak perlu memperluas pengungkapan risiko karena kondisi keuangan terlihat stabil.
Sebaliknya, ketika profitabilitas menurun, perusahaan menghadapi tekanan reputasi dan pasar sehingga cenderung membatasi informasi risiko untuk menjaga persepsi investor.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan dan transparansi risiko tidak selalu berjalan searah.
Implikasi bagi Industri dan Regulator
Bagi perusahaan perbankan, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya memperkuat fungsi komite audit dan dewan direksi sebagai garda terdepan pengawasan risiko.
Bagi investor, pengungkapan ERM dapat menjadi indikator tambahan untuk menilai kualitas tata kelola perusahaan, bukan sekadar melihat rasio profitabilitas.
Bagi regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia, temuan ini dapat menjadi dasar untuk mempertimbangkan penyusunan standar pelaporan risiko yang lebih terstruktur dan seragam guna meningkatkan konsistensi antarbank.
Bagi akademisi, penelitian ini memperkaya literatur mengenai faktor-faktor yang memengaruhi ERM di negara berkembang dan membuka ruang penelitian lanjutan dengan pendekatan panel data atau analisis berbasis perangkat lunak teks untuk mengurangi subjektivitas pengukuran.
Profil Penulis
Herlina Lusmeida adalah akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pelita Harapan dengan keahlian di bidang akuntansi keuangan, tata kelola perusahaan, dan manajemen risiko.
Ratu Alifa Agita Maharani adalah peneliti di Universitas Pelita Harapan yang fokus pada akuntansi, audit, dan pengungkapan risiko perusahaan.
0 Komentar