Kolaborasi Manusia dan AI Ubah Praktik Public Relations Indonesia: Efisien, Kreatif, Tapi Tetap Beretika
Perkembangan kecerdasan buatan kini mengubah wajah praktik public relations (PR) di Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh riset yang ditulis Tri Kusumastuti, bersama Nur’annafi Farni Syam Maella dan Didik Sugeng Widiarto dari Universitas Dr. Soetomo. Artikel ilmiah mereka terbit pada 2026 di Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research (MODERN) dan membahas bagaimana kolaborasi manusia dan artificial intelligence (AI) mendorong inovasi PR di Indonesia tanpa menghilangkan peran etika dan tanggung jawab profesional.
Riset ini penting karena menunjukkan bahwa AI tidak menggantikan praktisi PR, melainkan menjadi mitra kreatif dan analitis. Di tengah banjir data, tuntutan kecepatan, dan tekanan reputasi di ruang digital, AI membantu praktisi bekerja lebih efisien sekaligus membuka ruang kreativitas baru. Namun, kendali strategis dan pertimbangan etis tetap berada di tangan manusia.
Dari alat teknis menjadi mitra kreatif
Secara global, AI sudah digunakan luas dalam dunia PR untuk produksi konten, personalisasi pesan, pemantauan sentimen publik, simulasi krisis, hingga optimasi kampanye komunikasi. Di Indonesia, adopsi ini mulai terlihat tidak hanya di perusahaan dan lembaga pemerintah, tetapi juga di dunia pendidikan komunikasi.
Menurut Tri Kusumastuti dan tim, pergeseran paling penting adalah perubahan cara pandang terhadap AI. AI tidak lagi diposisikan sekadar alat otomatisasi tugas rutin, tetapi sebagai kolaborator kreatif. Sistem AI mampu menghasilkan berbagai variasi ide pesan, sudut pandang narasi, hingga format konten lintas platform dalam waktu singkat. Praktisi PR kemudian memilih, menyunting, dan menyesuaikan hasil tersebut dengan konteks sosial dan budaya.
“AI memperluas palet kreativitas manusia, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan kepekaan emosional dan penilaian etis manusia,” tulis para peneliti dalam artikelnya.
Efisiensi dan kecepatan dalam manajemen isu
Temuan penting lainnya adalah peran AI dalam memperkuat kemampuan analitis praktisi PR. Dengan bantuan AI, pemantauan percakapan publik di media sosial dapat dilakukan secara real time, termasuk analisis sentimen dan deteksi potensi krisis.
Dalam praktik global yang dikaji penulis, penggunaan AI mampu memangkas waktu respons krisis secara signifikan. AI dapat memetakan jutaan percakapan daring, mengidentifikasi pola emosi publik, serta mensimulasikan berbagai skenario krisis berdasarkan data historis. Bagi praktisi PR, ini berarti respons yang lebih cepat dan berbasis data, bukan sekadar intuisi.
Namun, riset ini juga mengingatkan adanya risiko jika AI digunakan tanpa pengawasan manusia. AI bisa gagal membaca nuansa budaya, ironi, atau konteks lokal yang sangat penting dalam komunikasi publik di Indonesia.
Pendidikan PR mulai beradaptasi
Salah satu bagian menarik dari riset ini adalah pembahasan tentang dunia pendidikan. Penulis menyoroti praktik di program studi Digital Public Relations Telkom University sebagai contoh awal integrasi AI dalam pendidikan PR di Indonesia.
Program ini mendorong mahasiswa dan dosen memanfaatkan AI untuk riset dan tugas akademik, sambil menekankan etika dan kualitas ilmiah. Kunjungan akademik ke industri teknologi global menjadi sarana membangun literasi AI sekaligus kesadaran bahwa AI bukan jalan pintas instan.
Pendekatan ini mencerminkan kesadaran bahwa calon praktisi PR perlu dibekali bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memahami bias algoritma, dan menjaga integritas akademik.
Etika menjadi kunci utama
Di balik semua manfaatnya, riset ini menegaskan bahwa isu etika menjadi tantangan terbesar dalam kolaborasi manusia dan AI. Beberapa persoalan utama yang disoroti meliputi potensi bias algoritma, transparansi penggunaan AI dalam komunikasi publik, tanggung jawab atas kesalahan informasi, serta perlindungan data dan privasi.
Dalam konteks Indonesia yang multikultural, risiko bias menjadi sangat relevan. AI yang dilatih dengan data global atau Barat berpotensi tidak sensitif terhadap nilai, bahasa, dan norma lokal. Karena itu, penulis menekankan pentingnya prinsip human-in-the-loop, yakni keterlibatan manusia di setiap tahap pengambilan keputusan strategis.
Dampak bagi profesi dan kebijakan publik
Temuan ini memiliki implikasi luas. Bagi praktisi PR, AI menuntut kompetensi baru seperti literasi AI, kemampuan interpretasi data, evaluasi kritis terhadap output mesin, serta penilaian etis. Profesi PR bergerak dari sekadar pelaksana teknis menjadi komunikator strategis berbasis data dan teknologi.
Bagi dunia pendidikan, riset ini mendorong pengembangan kurikulum yang secara eksplisit mengatur literasi AI dan etika penggunaannya. Sementara bagi pembuat kebijakan dan asosiasi profesi, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penyusunan pedoman etis penggunaan AI dalam komunikasi publik.
Di tengah maraknya hoaks, manipulasi visual, dan konten otomatis, peran PR sebagai penjaga kepercayaan publik justru semakin penting.
Profil singkat penulis
- Tri Kusumastuti, S.Sos., M.Si. – Dosen dan peneliti bidang public relations dan komunikasi strategis, Universitas Dr. Soetomo.
- Nur’annafi Farni Syam Maella, S.I.Kom., M.I.Kom. – Akademisi komunikasi dengan fokus pada media digital dan etika komunikasi, Universitas Dr. Soetomo.
- Didik Sugeng Widiarto, S.Sos., M.I.Kom. – Dosen public relations dan komunikasi organisasi, Universitas Dr. Soetomo.
Sumber penelitian
- Artikel ini disusun berdasarkan jurnal ilmiah berjudul “Human and AI Collaboration in Public Relations Practice Innovation in Indonesia: Between Efficiency, Creativity, and Ethics”, diterbitkan dalam Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research (MODERN), Vol. 5 No. 1, tahun 2026.
- DOI resmi: https://doi.org/10.55927/modern.v5i1.32
- URL Jurnal: Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research
Artikel ini menegaskan satu pesan kunci: masa depan public relations bukan tentang manusia atau AI, melainkan kolaborasi keduanya yang bertanggung jawab, kreatif, dan beretika.

0 Komentar