Medan — Studi terbaru yang dipublikasikan tahun 2026 dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research mengungkap temuan penting terkait infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae non-toksigenik pada anak di Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan oleh Darmawali Handoko bersama tim dari National Health Biology Laboratory serta Surveillance Unit Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri yang selama ini dianggap kurang berbahaya ternyata mampu menyebabkan infeksi serius tanpa gejala difteri klasik, sehingga menjadi perhatian baru dalam sistem kesehatan masyarakat.
Difteri selama ini dikenal sebagai penyakit menular yang dapat dicegah dengan vaksin, umumnya menyerang saluran pernapasan atas dan disebabkan oleh bakteri penghasil toksin. Namun, temuan terbaru ini memperluas pemahaman bahwa strain non-toksigenik—yang tidak menghasilkan racun—juga dapat menimbulkan infeksi invasif. Kondisi ini menjadi penting karena gejalanya sering tidak khas dan sulit dikenali secara klinis.
Dalam konteks global, laporan dari Eropa dan Amerika Serikat telah menunjukkan peningkatan kasus infeksi oleh Corynebacterium diphtheriae non-toksigenik, bahkan di negara dengan cakupan vaksinasi tinggi. Namun, data dari Asia Tenggara, khususnya pada populasi anak, masih sangat terbatas. Penelitian di Sumatera Utara ini menjadi salah satu bukti awal yang mengisi kekosongan data tersebut.
Tim peneliti menganalisis dua kasus anak yang teridentifikasi melalui sistem surveilans laboratorium. Kasus pertama melibatkan anak usia lima tahun yang hasil kultur darahnya menunjukkan keberadaan C. diphtheriae varian gravis, namun tanpa gejala pernapasan khas difteri seperti pseudomembran di tenggorokan. Kasus kedua terjadi pada anak usia 13 tahun dengan infeksi luka, di mana hasil swab luka juga menunjukkan bakteri yang sama.
Pemeriksaan dilakukan secara komprehensif di laboratorium, termasuk identifikasi bakteri melalui uji biokimia, pengamatan mikroskopis, serta uji molekuler menggunakan PCR untuk mendeteksi gen toksin difteri. Selain itu, dilakukan uji Elek untuk memastikan apakah bakteri tersebut menghasilkan toksin. Hasilnya, kedua kasus dikonfirmasi sebagai C. diphtheriae non-toksigenik.
Darmawali Handoko dari National Health Biology Laboratory menegaskan bahwa temuan ini menunjukkan spektrum klinis difteri yang lebih luas dari yang selama ini dipahami. Infeksi tidak selalu muncul dalam bentuk klasik, sehingga tenaga medis perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada kasus infeksi yang tidak biasa.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya integrasi antara sistem surveilans laboratorium dan layanan kesehatan. Tanpa pemeriksaan laboratorium yang memadai, kasus seperti ini berpotensi tidak terdeteksi atau salah diagnosis. Hal ini dapat berdampak pada keterlambatan penanganan serta potensi penyebaran infeksi.
Dari sisi kesehatan masyarakat, temuan ini memiliki implikasi yang signifikan. Pertama, sistem deteksi dini perlu diperkuat, terutama di daerah dengan beban penyakit infeksi yang tinggi. Kedua, kebijakan kesehatan perlu mempertimbangkan keberadaan strain non-toksigenik sebagai bagian dari pengendalian difteri secara menyeluruh. Ketiga, tenaga kesehatan perlu mendapatkan pelatihan tambahan untuk mengenali pola infeksi yang tidak lazim.
Selain itu, penelitian ini membuka peluang pengembangan pendekatan diagnostik yang lebih sensitif dan spesifik. Dalam jangka panjang, hal ini dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya dalam penanganan penyakit infeksi yang kompleks.
Secara akademik, temuan ini juga memperkuat perubahan paradigma dalam ilmu mikrobiologi klinis. Selama bertahun-tahun, patogenitas C. diphtheriae dikaitkan hampir sepenuhnya dengan produksi toksin. Namun, bukti terbaru menunjukkan bahwa bahkan tanpa toksin, bakteri ini tetap memiliki potensi menyebabkan penyakit serius.
Darmawali Handoko dan timnya menekankan bahwa penelitian lanjutan dengan jumlah kasus yang lebih besar sangat diperlukan untuk memahami pola penyebaran, faktor risiko, serta mekanisme infeksi dari strain non-toksigenik ini. Mereka juga mendorong kolaborasi lintas institusi untuk memperkuat sistem surveilans berbasis laboratorium di Indonesia.
0 Komentar