Ambon — Penelitian yang dilakukan oleh Charles Silahooy dari Universitas Pattimura dan dipublikasikan pada tahun 2026 dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR) mengungkap bahwa jenis kotoran ternak sebagai pupuk organik memberikan pengaruh berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi (Brassica juncea L.) pada tanah Ultisol. Temuan ini menjadi penting karena tanah Ultisol banyak ditemukan di Indonesia dan dikenal memiliki tingkat kesuburan yang rendah.
Tanah Ultisol selama ini menjadi tantangan bagi petani karena memiliki tingkat keasaman tinggi, kandungan bahan organik yang rendah, serta ketersediaan unsur hara yang terbatas. Kondisi ini menyebabkan produktivitas tanaman, termasuk sayuran seperti sawi, sering tidak optimal. Dalam situasi tersebut, penggunaan pupuk organik dari kotoran ternak menjadi salah satu alternatif yang dinilai lebih ramah lingkungan dan berpotensi memperbaiki kualitas tanah.
Kebutuhan masyarakat terhadap sayuran terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kesadaran akan pola konsumsi sehat. Namun, peningkatan produksi tidak selalu sejalan dengan ketersediaan lahan subur. Oleh karena itu, inovasi dalam pemanfaatan lahan marginal seperti Ultisol menjadi sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan.
Dalam penelitian ini, Charles Silahooy menggunakan pendekatan eksperimen dengan membandingkan beberapa jenis kotoran ternak sebagai pupuk organik. Media tanam yang digunakan merupakan campuran tanah dengan pupuk kandang dalam perbandingan tertentu. Pertumbuhan tanaman diamati melalui beberapa indikator seperti tinggi tanaman, jumlah daun, dan berat segar. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan metode statistik untuk melihat perbedaan pengaruh dari setiap jenis pupuk yang digunakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis kotoran ternak yang digunakan memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi, namun dengan tingkat efektivitas yang berbeda. Kombinasi tanah dengan kotoran sapi terbukti memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah daun. Sementara itu, penggunaan kotoran kerbau menunjukkan hasil paling optimal dalam meningkatkan berat segar tanaman, yang menjadi indikator utama hasil panen.
Perbedaan ini dipengaruhi oleh karakteristik masing-masing pupuk organik, termasuk kandungan unsur hara, ukuran partikel, serta kecepatan pelepasan nutrisi dalam tanah. Pupuk organik umumnya melepaskan unsur hara secara bertahap, sehingga memberikan efek jangka panjang terhadap kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman.
Charles Silahooy dari Universitas Pattimura menjelaskan bahwa respons tanaman terhadap pupuk organik sangat bergantung pada sifat fisik dan kimia pupuk tersebut. Ia menegaskan bahwa pemilihan jenis pupuk yang tepat dapat membantu petani meningkatkan hasil produksi secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Temuan ini memberikan manfaat praktis bagi petani, khususnya yang mengelola lahan dengan karakteristik tanah kurang subur. Dengan memilih jenis pupuk kandang yang sesuai, petani dapat menyesuaikan strategi budidaya untuk mencapai hasil yang optimal, baik dari segi pertumbuhan vegetatif maupun hasil panen. Selain itu, penggunaan pupuk organik juga dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang berpotensi merusak lingkungan dalam jangka panjang.
Dari sisi kebijakan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam pengembangan program pertanian berkelanjutan berbasis sumber daya lokal. Pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
Di bidang pendidikan, penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam pengembangan materi pembelajaran terkait pengelolaan tanah dan pertanian berkelanjutan. Sementara itu, bagi sektor agribisnis, temuan ini membuka peluang pengembangan produk pupuk organik dengan formulasi yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan sederhana seperti pemanfaatan kotoran ternak dapat memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas pertanian, terutama pada lahan marginal. Dengan strategi yang tepat, lahan yang sebelumnya kurang produktif dapat dioptimalkan untuk mendukung kebutuhan pangan masyarakat.
0 Komentar