Malaysia—
Celah Integrasi Pembayaran Digital Malaysia–China Masih Bebani Biaya Transaksi
UMKM. Penelitian ini dilakukan
oleh Anran Qiao, Bee Wah Tan, dan Mingpei Lu dari School
of Economics, Finance and Banking (SEFB), UUM College of Business, Universiti
Utara Malaysia yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Business
Analytics (IJBA) edisi Februari 2026.
Penelitian
yang dilakukan oleh Anran Qiao, Bee Wah Tan, dan Mingpei Lu menganalisis
bagaimana integrasi pembayaran digital lintas batas Malaysia–China dalam
kerangka Digital Silk Road memengaruhi biaya transaksi UMKM, serta
mengidentifikasi titik friksi kebijakan yang masih menghambat
interoperabilitas. Penelitian ini juga menemukan
adanya “integration gap” atau celah integrasi antara kesiapan teknologi dan
koordinasi kebijakan bilateral, yang masih mempertahankan biaya, keterlambatan,
serta beban kepatuhan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kesiapan
Domestik Tinggi, Koordinasi Lintas Negara Tertinggal
Studi
menunjukkan bahwa penggunaan pembayaran elektronik domestik di Malaysia
meningkat pesat. Berdasarkan Gambar 1 (halaman 2), transaksi elektronik
per kapita naik dari sekitar 150 pada 2019 menjadi sekitar 409 pada 2024.
Angka
ini mencerminkan percepatan adopsi digital yang kuat, didukung oleh kebijakan
Bank Negara Malaysia.
Namun,
kesiapan domestik tidak otomatis berarti efisiensi lintas batas. Ketika UMKM
Malaysia bertransaksi dengan mitra di China, transaksi masih melewati berbagai
lapisan tambahan seperti perantara keuangan, konversi valuta asing (FX),
pemeriksaan kepatuhan, serta perbedaan standar regulasi.
Kondisi
inilah yang disebut peneliti sebagai “integration gap.”
Tiga
Saluran Biaya yang Membebani UMKM
Penelitian
mengidentifikasi tiga saluran utama yang meningkatkan biaya transaksi UMKM:
1️⃣ Biaya Pencarian dan Informasi
Perbedaan
standar QR, aturan pendaftaran pedagang, serta sistem identifikasi merchant
menyebabkan pelaku UMKM sering kali harus menggunakan beberapa sistem
pembayaran sekaligus.
Sebagaimana
dirangkum dalam Tabel 1 (halaman 5–6), ketidaksinkronan standar dapat
memicu kegagalan pemindaian, proses refund tambahan, serta biaya penanganan
pengecualian (exception handling).
Akibatnya,
biaya administrasi tetap meningkat.
2️⃣ Biaya Penyelesaian dan Likuiditas
Meski
transfer domestik di Malaysia hampir instan, pembayaran lintas batas masih
memerlukan waktu lebih lama karena adanya perantara tambahan.
Mengacu
pada target G20/FSB dalam Tabel 2 (halaman 6), pembayaran lintas batas
ritel idealnya berbiaya rata-rata ≤1% dan 75% transaksi dikreditkan dalam ≤1
jam.
Dalam
praktiknya, UMKM sering menghadapi:
- Waktu
penyelesaian lebih lama
- Dana
mengendap lebih lama (working capital lock-up)
- Kewajiban
prefunding
- Biaya
perantara yang tidak transparan
Dampaknya
langsung terasa pada arus kas UMKM.
3️⃣ Transparansi dan Biaya Valuta Asing
(FX)
Studi
menyoroti spread nilai tukar MYR–CNY sebagai salah satu friksi utama. Tanpa
integrasi langsung dalam penentuan harga dan penyelesaian FX, UMKM menghadapi
apa yang disebut peneliti sebagai “FX black box.”
Spread
yang tidak transparan dan biaya konversi berlapis meningkatkan ketidakpastian
dan menekan margin keuntungan, terutama bagi UMKM dengan volume transaksi kecil
namun frekuensi tinggi.
Tiga
Pilar Kebijakan yang Mempengaruhi Integrasi
Penelitian
memetakan permasalahan biaya tersebut ke dalam tiga pilar tata kelola:
1️⃣ Tata Kelola Data
Perbedaan antara Malaysia’s Personal Data Protection Act (PDPA) dan China’s
Personal Information Protection Law (PIPL) meningkatkan biaya kepatuhan dan
proses onboarding.
2️⃣ Sistem Kliring dan Penyelesaian
Ketergantungan pada perantara memperlambat penyelesaian dan menambah
kompleksitas FX.
3️⃣ Koordinasi Standar Teknis
Ketidaksinkronan standar QR dan identifikasi merchant meningkatkan risiko
operasional.
Peneliti
menegaskan bahwa hambatan utama bersifat institusional dan kebijakan, bukan
keterbatasan teknologi.
Tiga
Rekomendasi Strategis
Untuk
menutup celah integrasi tersebut, studi ini mengusulkan strategi tiga lapis:
🔹 1. Sandbox Regulasi Bilateral
Bank
Negara Malaysia (BNM) dan People’s Bank of China (PBOC) dapat membentuk sandbox
bersama untuk menguji:
- Penyederhanaan
KYC/AML bagi transaksi UMKM berisiko rendah
- Mekanisme
berbagi data lintas batas yang terkontrol
- Standar
refund dan penyelesaian sengketa yang jelas
Pendekatan
ini memungkinkan eksperimen kebijakan tanpa perubahan regulasi skala besar.
🔹 2. Harmonisasi Standar QR Lintas Batas
Interoperabilitas
sejati memerlukan lebih dari sekadar kemampuan memindai QR. Diperlukan:
- Penyelarasan
struktur data QR (payload mapping)
- Identitas
merchant yang dapat digunakan lintas platform
- Transparansi
biaya dan kurs FX secara real-time di titik transaksi
Pengalaman
interoperabilitas QR di ASEAN dapat menjadi referensi desain
🔹 3. Kerja Sama Penyelesaian Atomik dan Uji Coba CBDC
Dalam
jangka panjang, kerja sama pada teknologi penyelesaian atomik—di mana
pembayaran dan konversi FX terjadi secara simultan—dapat mengurangi risiko dan
mempercepat akses dana bagi UMKM.
Namun,
peneliti menekankan bahwa uji coba CBDC perlu dilakukan bertahap dan berbasis
pilot project.
Dampak
bagi Daya Saing UMKM
UMKM
menanggung porsi biaya kepatuhan dan rekonsiliasi yang lebih besar dibanding
perusahaan besar. Tanpa efisiensi lintas batas, UMKM menghadapi hambatan
kompetitif dalam perdagangan digital dan e-commerce internasional.
Ketika
biaya, kecepatan, transparansi, dan akses selaras dengan target global, UMKM
dapat:
- Menstabilkan
arus kas
- Mengurangi
biaya operasional
- Memperluas
pasar lintas negara
- Meningkatkan daya saing regional
Profil
Penulis
- Anran Qiao- UUM College of Business, Universiti Utara Malaysia
- Bee Wah Tan- Universiti Utara Malaysia
- Mingpei Lu- Universiti Utara Malaysia
Sumber
Penelitian
Qiao, A., Tan, B. W., & Lu, M. (2026).Digital Silk Road and Cross-border Payment Integration between Malaysia and China: Policy Synergies, Frictions, and Impacts on SME Transaction Costs. Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA), Vol. 6 No. 1, hlm. 95–106.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijba.v6i1.16182
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijba

0 Komentar