Iklim Emosional Kelas Tingkatkan Motivasi Mahasiswa EFL di Bangladesh

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Bangladesh - Penelitian terbaru yang dipimpin oleh Rashed Mahmud Shakil dari Uttara University mengungkap bahwa iklim emosional di kelas berperan besar dalam meningkatkan motivasi mahasiswa yang belajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL). Studi yang terbit tahun 2026 ini menunjukkan bahwa suasana kelas yang hangat dan suportif tidak hanya berdampak langsung, tetapi juga memperkuat hubungan dosen–mahasiswa dan persepsi dukungan otonomi, yang pada akhirnya mendorong motivasi belajar.

Riset ini dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Advanced Research (Vol. 5, No. 2, 2026) dan menyoroti konteks pendidikan tinggi di Bangladesh, di mana Bahasa Inggris menjadi kunci akses akademik, mobilitas karier, dan komunikasi global.

Mengapa Motivasi Mahasiswa EFL Masih Rapuh?

Di banyak kelas EFL tingkat universitas, motivasi mahasiswa kerap terganggu oleh kecemasan berbicara, takut salah, dan persepsi bahwa Bahasa Inggris akademik terlalu sulit. Padahal, kemampuan berbahasa Inggris menjadi prasyarat penting dalam pendidikan tinggi dan dunia kerja.

Tim peneliti menilai bahwa persoalan motivasi tidak cukup dijelaskan oleh metode pengajaran semata. Suasana emosional kelas apakah mahasiswa merasa aman, dihargai, dan didukung—ternyata menjadi faktor kunci yang sering luput dari perhatian kebijakan pendidikan.

Survei 250 Mahasiswa, Uji Model Mediasi

Penelitian ini melibatkan 250 mahasiswa S1 dan S2 jurusan Bahasa Inggris di berbagai universitas swasta Bangladesh. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur empat variabel utama:

  1. Classroom Emotional Climate (Iklim Emosional Kelas/CEC)
  2. Teacher–Student Relationship (Hubungan Dosen–Mahasiswa/TSR)
  3. Perceived Teacher Autonomy Support (Persepsi Dukungan Otonomi Dosen/PTAS)
  4. Learners’ Motivation (Motivasi Mahasiswa/LM)

Analisis dilakukan menggunakan pendekatan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM).

Hasilnya menunjukkan seluruh hipotesis penelitian terbukti signifikan secara statistik.

Temuan Utama Penelitian

  1. Iklim emosional kelas berpengaruh positif terhadap hubungan dosen–mahasiswa: Semakin hangat dan suportif suasana kelas, semakin kuat rasa percaya dan kedekatan antara mahasiswa dan dosen (β = 0,248).
  2. Iklim emosional kelas meningkatkan persepsi dukungan otonomi: Mahasiswa lebih merasa diberi pilihan, didengar pendapatnya, dan didorong belajar mandiri ketika atmosfer kelas positif (β = 0,337).
  3. Hubungan dosen–mahasiswa mendorong motivasi belajar: Kedekatan relasional berkontribusi kuat terhadap motivasi mahasiswa (β = 0,372).
  4. Dukungan otonomi dosen meningkatkan motivasi: Ketika dosen memberi ruang pilihan dan rasionalitas tugas, motivasi mahasiswa ikut naik (β = 0,269).
  5. Hubungan dosen–mahasiswa menjadi mediator penting: Iklim emosional kelas meningkatkan motivasi melalui perbaikan kualitas relasi (efek mediasi β = 0,136).
  6. Dukungan otonomi juga menjadi mediator signifikan: Suasana kelas yang positif memperkuat motivasi melalui persepsi otonomi (efek mediasi β = 0,184).
Dengan kata lain, suasana kelas yang baik tidak langsung “menciptakan” motivasi, tetapi bekerja melalui dua jalur utama: kualitas relasi dan dukungan otonomi.

Relevan dengan Self-Determination Theory
Penelitian ini memperluas penerapan Self-Determination Theory (SDT) dalam konteks EFL. Teori tersebut menyatakan bahwa motivasi meningkat ketika tiga kebutuhan psikologis terpenuhi: otonomi, keterhubungan (relatedness), dan kompetensi.
  1. Dalam studi ini:

  • Iklim emosional kelas memenuhi kebutuhan keterhubungan melalui hubungan dosen–mahasiswa.
  • Iklim emosional juga mendukung otonomi melalui praktik pengajaran yang memberi pilihan dan menghargai perspektif mahasiswa.

Menurut Shakil dan timnya, temuan ini menunjukkan bahwa motivasi bahasa tidak hanya soal strategi pengajaran, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa “merasakan” kelas mereka.

Dampak bagi Pendidikan Tinggi

Implikasi penelitian ini cukup luas bagi pengelola pendidikan tinggi, khususnya di negara berkembang.

Beberapa rekomendasi utama:

  1. Program EFL perlu memprioritaskan pembentukan suasana kelas yang aman secara psikologis.
  2. Pelatihan dosen harus memasukkan pendekatan empatik, komunikasi suportif, dan teknik pemberian otonomi.
  3. Sistem evaluasi dosen sebaiknya mempertimbangkan aspek relasional dan emosional, bukan hanya capaian akademik.
  4. Kelas dengan ukuran yang lebih terkendali memungkinkan interaksi yang lebih personal.

Peneliti menegaskan bahwa motivasi mahasiswa berkaitan langsung dengan persistensi, keterlibatan, dan capaian akademik yang pada akhirnya berdampak pada kesiapan kerja lulusan.

Keterbatasan dan Arah Riset Lanjutan

Studi ini berfokus pada universitas swasta di Bangladesh dan menggunakan desain potong lintang (cross-sectional). Penelitian lanjutan disarankan menggunakan desain longitudinal untuk melihat dampak jangka panjang, serta melibatkan perspektif dosen dan manajemen kampus.

Perbandingan lintas budaya antara konteks Barat dan non-Barat juga direkomendasikan untuk melihat apakah pola hubungan serupa berlaku secara universal.

Profil Penulis

Rashed Mahmud Shakil, M.A.
Dosen dan peneliti di Uttara University.
Bidang keahlian: motivasi belajar, pendidikan EFL, dan psikologi pendidikan.

Penelitian ini ditulis bersama:

  • Jannat-E-Ridowana Liana
  • Emtiaz Ahmed Efty
  • Naimur Rahman Rafi
  • Nazifa Tasnim

Seluruh penulis berafiliasi dengan Uttara University, Dhaka, Bangladesh.

Sumber Penelitian

Shakil, R. M., Liana, J.-E.-R., Efty, E. A., Rafi, N. R., & Tasnim, N. (2026). How Classroom Emotional Climate Shapes Motivation in University EFL Contexts: A Mediation Model of Teacher–Student Relationship and Perceived Teacher Autonomy Support. Indonesian Journal of Advanced Research, 5(2), 255–272.

Posting Komentar

0 Komentar