Kearifan Lokal Tanaman Obat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah Terungkap Lewat Riset Universitas Palangka Raya

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Kalimantan Tengah - Pengetahuan tradisional masyarakat Dayak Ngaju tentang tanaman obat di Desa Petak Puti, Kalimantan Tengah, terungkap secara sistematis melalui riset tim Universitas Palangka Raya yang dipublikasikan pada 2026. Studi ini menunjukkan bahwa puluhan spesies tumbuhan lokal tidak hanya berperan sebagai obat tradisional, tetapi juga menjadi sumber pangan, penghasilan, hingga bahan kosmetik dan bangunan, dengan potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Penelitian ini ditulis oleh Herianto Herianto, Demitra, Triyadi A, Gimson Luhan, dan Yosep dari Fakultas Pertanian serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Palangka Raya. Artikel ilmiah mereka dimuat dalam Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA) Volume 5 Nomor 1 tahun 2026. Temuan riset ini penting karena mendokumentasikan pengetahuan lokal yang selama ini diwariskan secara lisan dan berisiko hilang akibat perubahan lingkungan dan sosial.

Pengetahuan Leluhur yang Masih Hidup

Desa Petak Puti terletak di Kecamatan Katingan Tengah dan dihuni oleh masyarakat Dayak Ngaju Katingan yang hidup berdampingan dengan hutan dan Sungai Katingan. Bagi warga setempat, alam bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi bagian dari identitas dan sistem kehidupan.

Menurut Herianto dan tim, masyarakat Petak Puti masih mengandalkan tanaman hutan dan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan hingga pengobatan. “Penggunaan tanaman obat telah menjadi bagian dari budaya dan praktik kesehatan masyarakat secara turun-temurun,” tulis para peneliti dalam artikelnya.

Namun, pengetahuan ini jarang terdokumentasi secara ilmiah. Mayoritas diwariskan melalui cerita, praktik langsung, dan pengalaman leluhur, sehingga rawan hilang jika tidak dicatat dan dikaji secara sistematis.

Cara Penelitian Dilakukan

Penelitian dilakukan pada Oktober hingga Desember 2024 dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Tim peneliti melakukan observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan informan kunci, seperti kepala desa, tokoh adat, dan warga yang dianggap paling memahami penggunaan tanaman obat.

Alih-alih mengandalkan data laboratorium, riset ini menitikberatkan pada pengalaman nyata masyarakat dalam memanfaatkan tanaman. Pendekatan ini memberi gambaran utuh tentang bagaimana tanaman digunakan, bagian apa yang dimanfaatkan, serta cara pengolahannya dalam kehidupan sehari-hari.

Puluhan Tanaman untuk Kesehatan dan Kehidupan

Hasil penelitian mencatat beragam jenis tanaman yang dimanfaatkan masyarakat Dayak Ngaju, terutama untuk pengobatan tradisional. Beberapa di antaranya digunakan untuk:

  • Mengatasi penyakit dalam dan demam berdarah, seperti pasak bumi (Eurycoma longifolia)
  • Pengobatan diabetes dan kolesterol, menggunakan kulit manggis (Garcinia mangostana) dan sarang semut
  • Mengobati sakit perut, batuk, hingga tekanan darah tinggi, dengan tanaman seperti sungkai, langsat, dan jelatang
  • Perawatan pascamelahirkan, menggunakan ramuan akar dan kulit kayu tertentu

Umumnya, bagian tanaman seperti akar, kulit batang, daun, atau buah direbus, lalu airnya diminum secara rutin hingga kondisi membaik. Metode ini dianggap aman, mudah dilakukan, dan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.

Lebih dari Sekadar Obat

Menariknya, tanaman-tanaman ini tidak hanya berfungsi sebagai obat. Penelitian juga menemukan pemanfaatan tumbuhan sebagai:

  • Bahan pangan dan sayuran, seperti durian, cempedak, kuini, dan berbagai umbi
  • Bahan fermentasi, untuk minuman tradisional seperti baram
  • Bahan tonik dan penambah stamina
  • Bahan kosmetik alami, termasuk tengkawang dan gaharu
  • Material bangunan, seperti ulin, meranti, dan sungkai

Keanekaragaman fungsi ini menunjukkan bahwa hutan dan kebun warga berperan sebagai “apotek hidup” sekaligus lumbung ekonomi.

Potensi Ekonomi dan Konservasi

Menurut tim peneliti, pemanfaatan tanaman lokal secara bijak dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Banyak spesies yang berpotensi dibudidayakan sebagai tanaman obat komersial, bahan kosmetik alami, atau produk herbal bernilai jual tinggi.

Di sisi lain, dokumentasi ini juga menjadi dasar penting bagi konservasi keanekaragaman hayati. Beberapa tanaman yang digunakan masyarakat berasal dari hutan alam yang kini terancam deforestasi dan kebakaran lahan.

Herianto menekankan bahwa pengelolaan hutan berbasis pengetahuan lokal dapat menjadi solusi yang seimbang antara pelestarian alam dan kebutuhan ekonomi masyarakat.

Relevansi bagi Kebijakan Publik

Temuan ini relevan bagi pengembangan kebijakan kehutanan, kesehatan tradisional, dan ekonomi desa. Integrasi pengetahuan lokal ke dalam program konservasi dan agroforestri dinilai dapat memperkuat ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan pelestarian budaya.

Penelitian ini juga membuka peluang kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat adat dalam mengembangkan obat tradisional yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan.

Profil Singkat Penulis

  • Herianto Herianto, S.Hut., M.Si. – Dosen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya. Keahlian: kehutanan sosial dan etnobotani.
  • Demitra, S.Pd., M.Pd. – Dosen Pendidikan Matematika, FKIP Universitas Palangka Raya.
  • Triyadi A, Gimson Luhan, Yosep – Akademisi Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.

Sumber Penelitian

Herianto, H., Demitra, Triyadi A., Luhan, G., & Yosep. “Local Wisdom of Medicinal Plants in Petak Puti Village, Central Kalimantan.” Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA), Vol. 5 No. 1, 2026, hlm. 121–132.
DOI: 10.55927/ijaea.v5i1.16018

Posting Komentar

0 Komentar