Hubungan Antara Penggunaan Tiktok dan Kecemasan Sosial di Kalangan Generasi Z

Gambar Ilustrasi AI

Penggunaan TikTok Berkorelasi dengan Kecemasan Sosial Gen Z Indonesia, Studi Universitas Dr. Soetomo

Penggunaan aplikasi TikTok yang semakin intens di kalangan Generasi Z Indonesia terbukti berkaitan dengan meningkatnya kecemasan sosial. Temuan ini diungkap dalam riset terbaru yang ditulis Pinkan Putri Ferdiani, Zulaikha, dan Didik Sugeng Widiarto dari Universitas Dr. Soetomo, dan dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research (MODERN). Penelitian ini penting karena memberi bukti empiris tentang dampak psikologis media sosial yang selama ini banyak dirasakan, tetapi jarang diukur secara kuantitatif di konteks Indonesia.

Studi tersebut menunjukkan bahwa semakin sering dan lama Gen Z menggunakan TikTok—baik untuk menonton, berinteraksi, maupun membuat konten—semakin tinggi pula tingkat kecemasan sosial yang mereka alami. Kecemasan ini mencakup rasa gugup saat berinteraksi, takut dinilai orang lain, hingga cemas dalam hubungan pertemanan dekat.

Media sosial dan tekanan sosial digital

TikTok telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak muda. Platform video pendek ini menawarkan hiburan instan, ruang ekspresi diri, serta peluang mendapatkan pengakuan sosial melalui jumlah penonton, suka, dan komentar. Di Indonesia saja, jumlah pengguna aktif TikTok telah mencapai puluhan juta, dengan mayoritas berasal dari kelompok usia muda.

Namun, di balik popularitas tersebut, muncul tekanan sosial baru. Konten yang menampilkan gaya hidup ideal, tubuh “sempurna”, atau pencapaian tertentu kerap memicu perbandingan sosial. Bagi Generasi Z—kelompok usia yang masih membangun identitas diri—paparan semacam ini bisa berdampak pada kesehatan mental.

“Media sosial memberi ruang ekspresi, tetapi juga menciptakan standar sosial yang tidak selalu realistis,” tulis para peneliti dalam artikelnya. Ketika validasi digital menjadi ukuran nilai diri, rasa tidak aman dan kecemasan pun mudah muncul.

Survei pada pengguna TikTok usia 18–24 tahun

Penelitian ini melibatkan 71 responden Generasi Z berusia 18–24 tahun yang aktif menggunakan TikTok. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang dirancang untuk mengukur dua hal utama: pola penggunaan TikTok dan tingkat kecemasan sosial.

Penggunaan TikTok diukur dari frekuensi akses harian, durasi waktu penggunaan, jenis aktivitas (aktif membuat konten atau pasif menonton), serta tujuan penggunaan—apakah untuk hiburan, mengisi waktu luang, atau mencari pengakuan sosial. Sementara itu, kecemasan sosial dinilai dari rasa takut berinteraksi, kekhawatiran saat menjadi pusat perhatian, kecemasan dalam hubungan dekat, serta reaksi fisik seperti jantung berdebar atau rasa tidak nyaman di situasi sosial.

Mayoritas responden adalah perempuan (sekitar 75 persen), dengan rentang usia terbanyak 20–22 tahun. Sebagian besar mengaku menggunakan TikTok selama satu hingga dua jam per hari, menunjukkan intensitas penggunaan yang cukup tinggi.

Hubungan positif dan signifikan

Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara penggunaan TikTok dan kecemasan sosial. Nilai korelasi berada pada tingkat sedang, yang berarti peningkatan intensitas penggunaan TikTok cenderung diikuti peningkatan kecemasan sosial.

Secara lebih rinci, penggunaan TikTok menjelaskan sekitar 15,4 persen variasi tingkat kecemasan sosial pada responden. Angka ini menunjukkan bahwa TikTok bukan satu-satunya faktor, tetapi merupakan salah satu kontribusi penting. Sisanya dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kepribadian, kontrol diri, lingkungan sosial, dan kondisi psikologis individu.

“Semakin tinggi intensitas penggunaan TikTok, semakin tinggi pula kecenderungan kecemasan sosial yang dirasakan,” tulis tim peneliti. Temuan ini sejalan dengan teori uses and gratifications dan social comparison, yang menjelaskan bagaimana media digunakan untuk memenuhi kebutuhan psikologis, tetapi juga dapat memicu stres ketika ekspektasi dan perbandingan sosial tidak terpenuhi.

Dampak bagi kesehatan mental dan produktivitas

Kecemasan sosial bukan sekadar rasa malu sesaat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kepercayaan diri, kualitas hubungan sosial, bahkan produktivitas akademik dan kerja. Individu yang cemas secara sosial cenderung menghindari interaksi, merasa tidak nyaman di ruang publik, dan mudah tertekan oleh penilaian orang lain.

Bagi dunia pendidikan dan keluarga, temuan ini menjadi peringatan penting. Penggunaan media sosial perlu diimbangi dengan literasi digital dan kesadaran kesehatan mental. Anak muda perlu dibekali kemampuan mengelola waktu layar, memahami bahwa konten di media sosial sering kali tidak merepresentasikan realitas, serta mengembangkan kepercayaan diri di luar validasi digital.

Para peneliti juga menekankan pentingnya peran institusi pendidikan dan pembuat kebijakan dalam merancang program edukasi digital yang sehat. Pendekatan ini tidak bertujuan melarang penggunaan TikTok, melainkan membantu Gen Z menggunakan media sosial secara lebih sadar dan seimbang.

Ruang ekspresi yang perlu dikelola

Penelitian ini tidak menempatkan TikTok semata-mata sebagai ancaman. Platform ini tetap diakui sebagai ruang kreatif dan sarana koneksi sosial yang bernilai. Namun, tanpa pengelolaan diri yang baik, intensitas penggunaan yang berlebihan dapat membawa konsekuensi psikologis.

Ke depan, peneliti merekomendasikan studi lanjutan dengan jumlah responden lebih besar dan pendekatan jangka panjang untuk memahami dinamika kecemasan sosial dari waktu ke waktu. Faktor lain seperti fear of missing out (FOMO), kontrol diri, dan dukungan sosial juga perlu diteliti lebih mendalam.

Profil singkat penulis

1. Pinkan Putri Ferdiani, S.I.Kom., M.I.Kom.
Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Dr. Soetomo. Keahlian: komunikasi digital, media sosial, dan perilaku generasi muda.
2. Zulaikha, S.I.Kom., M.I.Kom.
Akademisi di Universitas Dr. Soetomo dengan minat riset pada komunikasi interpersonal dan media baru.
3. Didik Sugeng Widiarto, S.Sos., M.I.Kom.
Dosen dan peneliti komunikasi, fokus pada komunikasi pemasaran digital dan perilaku audiens.

Sumber penelitian


Posting Komentar

0 Komentar