Hubungan Antara Gaya Hidup Sehat dan Risiko Hipertensi di Kalangan Karyawan PT X di Jakarta

Ilustrasi by AI


Gaya Hidup Sehat Terkait Penurunan Risiko Hipertensi pada Karyawan PT X Jakarta

Penelitian yang dilakukan Bona Dwiramajaya Hartoyo, S.Kep., Ns., M.Kes., bersama Margarita Dewi Lelasari, S.Kep., Ns., M.Kes., dan Hairawati, S.Kep., Ns., M.Kes. dari Universitas Borobudur menemukan hubungan kuat antara gaya hidup sehat dan rendahnya risiko hipertensi pada karyawan PT X di Jakarta. Studi ini dilakukan pada Februari 2025 dan dipublikasikan dalam Multitech Journal of Science and Technology tahun 2026. Hasilnya menegaskan bahwa pola hidup sehat berperan signifikan dalam menekan potensi tekanan darah tinggi di lingkungan kerja perkotaan.

Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 22 persen populasi dunia mengalami tekanan darah tinggi. Di Asia Tenggara, prevalensinya mencapai 25 persen. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat hipertensi sebagai penyakit tidak menular paling umum dengan ratusan ribu kasus setiap tahun. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, tetapi juga berdampak pada produktivitas kerja.

Lingkungan kerja dengan jam panjang, kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi lemak dan garam, serta kebiasaan merokok menjadi faktor yang memperbesar risiko hipertensi. Karyawan perkantoran di kota besar seperti Jakarta rentan terhadap gaya hidup sedentari atau kurang bergerak. Situasi ini mendorong tim peneliti dari Universitas Borobudur untuk mengkaji kondisi nyata di salah satu perusahaan swasta, PT X.

Metode Penelitian Sederhana dan Terukur

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 25 karyawan PT X di Jakarta menjadi responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup:

  • Data demografi (usia, jenis kelamin, pendidikan)
  • Pengetahuan dan perilaku terkait gaya hidup sehat (37 pernyataan)
  • Risiko hipertensi

Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara gaya hidup dan risiko hipertensi.

Mayoritas responden merupakan dewasa akhir (52 persen), laki-laki (56 persen), dan berpendidikan perguruan tinggi (68 persen).

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan:

  • 60 persen karyawan memiliki gaya hidup tergolong baik.
  • 52 persen responden berada pada kategori risiko hipertensi rendah.
  • Dari karyawan yang menerapkan gaya hidup sehat, 76,5 persen memiliki risiko hipertensi rendah.
  • Uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 (lebih kecil dari 0,05), yang berarti hubungan tersebut signifikan secara statistik.
  • Nilai Odds Ratio (OR) berada pada rentang 2,064–27,252, menunjukkan bahwa gaya hidup berperan kuat dalam memengaruhi risiko hipertensi.

Data ini memperlihatkan bahwa karyawan dengan gaya hidup sehat memiliki kemungkinan jauh lebih rendah mengalami risiko hipertensi dibandingkan mereka yang menjalani gaya hidup kurang sehat.

Bona Dwiramajaya Hartoyo dari Universitas Borobudur menjelaskan bahwa kebiasaan seperti mengatur pola makan, membatasi konsumsi garam dan lemak, rutin berolahraga, serta menjaga waktu istirahat terbukti berkontribusi pada stabilitas tekanan darah. Ia menekankan bahwa perubahan perilaku sederhana dapat memberikan dampak kesehatan jangka panjang.

Mengapa Gaya Hidup Berpengaruh?

Secara fisiologis, konsumsi makanan tinggi garam dan lemak dapat meningkatkan tekanan darah karena memengaruhi kerja pembuluh darah dan ginjal. Kurangnya aktivitas fisik juga menyebabkan penumpukan lemak dan menurunkan elastisitas pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu aterosklerosis dan hipertensi.

Penelitian ini sejalan dengan berbagai studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa aktivitas fisik minimal 300 menit per minggu dapat menurunkan risiko hipertensi dan gangguan metabolik lainnya. Sebaliknya, kebiasaan duduk terlalu lama, konsumsi makanan cepat saji, dan kurang tidur meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

Dampak bagi Dunia Kerja dan Kebijakan Perusahaan

Temuan ini relevan bagi perusahaan yang ingin menjaga produktivitas karyawan. Hipertensi sering kali tidak bergejala pada tahap awal, namun dapat menyebabkan komplikasi serius seperti stroke dan serangan jantung. Biaya pengobatan dan absensi akibat penyakit kronis tentu berdampak pada perusahaan.

Peneliti merekomendasikan agar perusahaan:

  • Mengadakan program edukasi kesehatan rutin.
  • Menyediakan fasilitas olahraga atau senam bersama.
  • Mendorong pola makan sehat di kantin perusahaan.
  • Mengatur jam kerja agar karyawan memiliki waktu istirahat cukup.

Intervensi sederhana di tempat kerja berpotensi menekan risiko penyakit tidak menular secara signifikan.

Implikasi bagi Masyarakat

Studi ini memperkuat pesan bahwa pencegahan hipertensi dimulai dari perubahan perilaku sehari-hari. Gaya hidup sehat bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga lingkungan kerja dan komunitas.

Bagi masyarakat umum, hasil ini menegaskan pentingnya:

  • Mengurangi konsumsi makanan tinggi garam dan lemak.
  • Rutin berolahraga.
  • Menghindari rokok dan alkohol.
  • Mengelola stres.
  • Menjaga berat badan ideal.

Langkah-langkah tersebut terbukti secara ilmiah berkaitan dengan penurunan risiko hipertensi.

Profil Penulis

Bona Dwiramajaya Hartoyo, S.Kep., Ns., M.Kes. adalah dosen di Universitas Borobudur dengan keahlian di bidang keperawatan komunitas dan kesehatan masyarakat.
Margarita Dewi Lelasari, S.Kep., Ns., M.Kes. merupakan akademisi Universitas Borobudur yang fokus pada promosi kesehatan dan perilaku hidup sehat.
Hairawati, S.Kep., Ns., M.Kes. adalah peneliti dan pengajar di Universitas Borobudur dengan minat pada pencegahan penyakit tidak menular.

Sumber Penelitian

Hartoyo, B. D., Lelasari, M. D., & Hairawati. (2026). The Relationship Between a Healthy Lifestyle and the Risk of Hypertension Among Employees of PT X in Jakarta. Multitech Journal of Science and Technology (MJST), Vol. 3 No. 2, 235–240.

URL Resmi : https://slamultitechpublisher.my.id/index.php/mjst/index

Posting Komentar

0 Komentar