Surabaya, Jawa Timur— Hidup dalam Ketidakpastian
Advokasi Hak Asasi Manusia: Studi Kasus Berbasis Psikoedukasi tentang Burnout
Aktivis dalam Gerakan Kamisan. Penelitian ini dilakukan oleh Zita Mugen E dan
IGAA Noviekayati dari Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya,
yang dipublikasikan dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary
Research (IJSMR) Vol. 4 No. 2 Tahun 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Zita
Mugen E dan IGAA Noviekayati mengungkapkan bahwa aktivisme HAM bukan hanya soal
komitmen ideologis, tetapi juga melibatkan beban psikologis jangka panjang.
Dalam konteks ketidakpastian politik dan kekhawatiran represi, tekanan tersebut
dapat berkembang menjadi activist burnout.
Burnout
Aktivis: Dampak Paparan Ketidakadilan Berkepanjangan
Aksi Kamisan
dikenal sebagai gerakan damai yang memperjuangkan penyelesaian pelanggaran HAM
berat, termasuk tragedi 1998–1999. Simbol payung hitam dan aksi diam menjadi
bentuk perlawanan moral terhadap impunitas.
Namun di balik
konsistensi tersebut, para aktivis—mayoritas berusia 18–25 tahun—menghadapi:
- Ketidakpastian hukum dan politik
- Kekhawatiran terhadap penahanan atau intimidasi
- Kekecewaan akibat stagnasi penyelesaian kasus HAM
- Tekanan moral untuk terus hadir dalam aksi
Zita Mugen E
menjelaskan bahwa kelelahan dalam konteks ini tidak sama dengan kelelahan kerja
biasa. “Burnout aktivis berakar pada identitas moral dan rasa tanggung jawab
kolektif terhadap korban pelanggaran HAM,” tulisnya dalam artikel tersebut.
Hasil
Pengukuran: Kecemasan dan Stres Tetap Tinggi
Penelitian
menggunakan pendekatan pre-test dan post-test terhadap 10 aktivis, satu
koordinator aksi, serta interaksi dengan masyarakat sekitar lokasi demonstrasi.
Alat ukur yang digunakan meliputi DASS-42 untuk depresi, kecemasan, dan stres,
serta kuesioner burnout aktivis berbasis kerangka Maslach.
Temuan
utama:
Sebelum
intervensi:
- 70% aktivis berada pada kategori burnout rendah
- 30% kategori moderat
- 50% mengalami kecemasan berat hingga sangat berat
- 30% mengalami depresi berat hingga sangat berat
Setelah
psikoedukasi:
- 30% berada pada kategori burnout sangat rendah
- 20% kategori rendah
- 40% kategori moderat
- 10% kategori tinggi
Menariknya,
tingkat stres dan kecemasan secara umum tidak langsung menurun drastis. Hal ini
menunjukkan bahwa intervensi lebih berperan dalam meningkatkan kesadaran
psikologis dibandingkan menghilangkan tekanan struktural yang masih
berlangsung.IGAA Noviekayati menegaskan bahwa kecemasan para aktivis bersifat
kontekstual. Artinya, rasa takut dan waspada muncul sebagai respons rasional
terhadap situasi sosial-politik, bukan semata gangguan individual.
Psikoedukasi
dan Psychological First Aid
Intervensi yang
diberikan mencakup:
- Edukasi tentang gejala dan mekanisme burnout aktivis
- Diskusi kelompok untuk refleksi dan validasi
pengalaman emosional
- Panduan pengelolaan emosi dan reframing makna
istirahat
- Pelatihan Psychological First Aid (PFA) bagi
koordinator aksi
- Distribusi selebaran edukatif kepada masyarakat
sekitar Taman Apsari
Koordinator
Aksi Kamisan Surabaya yang terlibat dalam sesi tersebut mengakui sebelumnya
menganggap kelelahan aktivis hanya sebagai “capek biasa”. Setelah psikoedukasi,
ia memahami adanya pola kelelahan emosional dan tekanan moral yang lebih dalam,
terutama setelah insiden penahanan mahasiswa dan meningkatnya ketegangan
politik pada 2025.
Burnout
sebagai Pengalaman Moral, Bukan Kelemahan Individu
Penelitian ini
menegaskan bahwa burnout aktivis tidak boleh dipahami sebagai kelemahan
pribadi. Tekanan muncul dari:
- Paparan berulang terhadap kisah ketidakadilan
- Minimnya respons institusional
- Budaya pengorbanan dalam gerakan sosial
- Ketidaksesuaian antara idealisme dan realitas politik
Banyak aktivis
merasa bersalah ketika ingin beristirahat. Istirahat dianggap sebagai kegagalan
moral. Pola pikir ini memperkuat kelelahan emosional.Riset menunjukkan bahwa
tanpa ruang refleksi dan dukungan kolektif, kelelahan bisa berkembang menjadi
penarikan diri atau mati rasa emosional.
Respons
Masyarakat Sekitar
Sebagai bagian
dari intervensi, tim peneliti bersama aktivis membagikan selebaran kepada warga
dan pedagang di sekitar Taman Apsari. Respons yang muncul cenderung netral
hingga positif. Tidak ditemukan penolakan berarti, dan sebagian warga membaca
materi yang dibagikan. Langkah ini bertujuan mengurangi stigma serta membangun
pemahaman bahwa Aksi Kamisan adalah gerakan damai berbasis hak asasi manusia.
Implikasi
bagi Gerakan Sosial dan Kebijakan
Hasil
penelitian menawarkan sejumlah rekomendasi:
• Integrasi
psikoedukasi dalam kegiatan rutin gerakan sosial
• Pelatihan Psychological First Aid bagi koordinator aksi
• Pembentukan mekanisme dukungan sebaya yang terstruktur
• Pendekatan kebijakan yang mempertimbangkan dampak psikologis represi
Peneliti
menekankan bahwa menjaga kesehatan mental aktivis bukan melemahkan perjuangan,
melainkan memperkuat keberlanjutan gerakan.
Profil
Penulis
o Zita
Mugen E. –Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
o IGAA
Noviekayati–Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Sumber
Penelitian
Mugen E, Z., &
Noviekayati, IGAA. (2026). Living with Uncertainty in Human Rights Advocacy:
A Psychoeducation Based Case Study of Activist Burnout in the Kamisan Movement.
International Journal
of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 2, 2026.
DOI : https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i2.4
URL Resmi : https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar