Latar Belakang: Iman Formal dan Ketimpangan Sosial
Metode: Sintesis Teologi, Sosiologi, dan Pedagogi
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-konseptual berbasis studi literatur. Simamora menggabungkan tiga kerangka teori utama:
- Teologi pendidikan Kristen Thomas Groome.
- Teori habitus Pierre Bourdieu.
- Pedagogi pengalaman John Dewey.
Analisis dilakukan melalui tiga tahap:
pemetaan masalah Pendidikan Agama Kristen kontemporer, dialog lintas disiplin
antara teologi dan ilmu sosial, serta perumusan konsep faith habitus sebagai
kerangka pendidikan iman transformatif. Pendekatan ini tidak menguji data
lapangan, tetapi menyusun sintesis konseptual yang koheren untuk menjelaskan
hubungan iman, pendidikan, dan realitas sosial.
Temuan Utama: Konsep Faith Habitus
Penelitian menemukan bahwa iman perlu
dipahami bukan hanya sebagai keyakinan pribadi, tetapi sebagai disposisi
sosial-spiritual yang terbentuk melalui praktik pendidikan berulang dalam
komunitas.
Konsep faith habitus memiliki beberapa
ciri utama:
- Iman sebagai pola berpikir, merasakan, dan bertindak.
- Terbentuk melalui pengalaman sosial dan pendidikan.
- Diinternalisasi lewat praktik komunitas gereja dan sekolah.
- Menghasilkan perilaku inklusif dan adil.
Dengan perspektif ini, kesenjangan
antara ajaran iman dan praktik sosial dapat dijelaskan. Pendidikan yang hanya
menekankan doktrin cenderung melahirkan formalisme dan eksklusivisme.
Sebaliknya, pendidikan yang membentuk habitus iman dapat mendorong transformasi
sosial. Peneliti menegaskan bahwa iman harus
dipahami sebagai disposisi spiritual-sosial yang dibentuk melalui pendidikan
reflektif dan praksis komunitas.
Dampak di Sekolah Kristen: Dari
Hierarki ke Inklusivitas
Studi ini menyoroti bukti ketimpangan
dalam sekolah Kristen. Survei terhadap guru Pendidikan Agama Kristen di wilayah
Jabodetabek menunjukkan hampir separuh responden melihat praktik diskriminasi
antar siswa, terutama terkait status ekonomi, prestasi akademik, dan latar
belakang sosial. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa
lingkungan pendidikan iman dapat mereproduksi ketidakadilan sosial jika tidak
disadari secara kritis.
Oleh karena itu, peneliti mengusulkan perubahan
paradigma pendidikan di sekolah Kristen:
- Kurikulum yang menghubungkan iman dengan kesadaran sosial.
- Pembelajaran berbasis pengalaman dan pelayanan sosial.
- Budaya kelas yang egaliter dan inklusif.
- Guru sebagai pembentuk relasi kasih dan empati.
Pendekatan ini menempatkan sekolah
sebagai arena pembentukan habitus iman, bukan hanya tempat transfer doktrin.
Profil Penulis
Rocky Agustry Vernando Simamora, M.Pd. Dosen dan peneliti Pendidikan Agama Kristen di Universitas Kristen Indonesia,
Jakarta.
Bidang keahlian: teologi pendidikan, pedagogi iman, dan
integrasi iman dengan realitas sosial dalam pendidikan Kristen.
Sumber Penelitian
Simamora, Rocky Agustry Vernando.
2026. Faith Habitus as a Multidisciplinary Approach in the Critical Analysis
of Christian Religious Education. Indonesian Journal of Christian Education
and Theology (IJCET), Vol. 5 No. 1 2026 hlm. 11-20.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijcet.v5i1.2
URL: https://journalijcet.my.id/index.php/ijcet

0 Komentar