Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Bandung - Evaluasi Lebar Jalan di Kawasan Cagar Budaya Bandung Dinilai Penting untuk
Menjaga Mobilitas dan Pelestarian Sejarah. Temuan
ini diungkapkan dalam riset Ina Revayanti dari Universitas Winaya
Mukti dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 2 Tahun 2026 menyoroti bahwa bagaimana perkembangan kota yang pesat
memengaruhi tata ruang dan infrastruktur jalan di kawasan bersejarah Bandung.
Penelitian yang dilakukan oleh Ina Revayanti dari Universitas Winaya Mukti menyoroti bahwa Banyak ruas jalan di kawasan cagar budaya
memiliki dimensi yang berbeda dengan rencana garis sempadan jalan dalam dokumen
perencanaan kota, sehingga diperlukan evaluasi agar kebijakan pembangunan tetap
selaras dengan perlindungan bangunan bersejarah.
Latar Belakang: Pertumbuhan Kota dan Tantangan Pelestarian Cagar Budaya
Pertumbuhan penduduk dan meningkatnya daya tarik kota sebagai pusat ekonomi dan wisata mendorong perubahan besar dalam penggunaan lahan di wilayah perkotaan. Di banyak kota besar, termasuk Bandung, perubahan ini sering kali menyebabkan tekanan terhadap ruang kota dan infrastruktur yang ada. Bandung dikenal sebagai salah satu kota dengan kekayaan kawasan cagar budaya yang cukup besar, terutama di area seperti Jalan Braga dan Jalan Asia-Afrika. Kawasan ini memiliki karakter jalan yang relatif sempit dan dirancang pada masa kolonial Belanda, sehingga menghadirkan tantangan tersendiri dalam pengembangan transportasi modern. Di satu sisi, kota membutuhkan jalan yang cukup lebar untuk mendukung kelancaran lalu lintas. Namun di sisi lain, pelebaran jalan tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena banyak bangunan bersejarah yang dilindungi oleh undang-undang dan tidak boleh dibongkar. Oleh karena itu, evaluasi terhadap rencana lebar jalan menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa pembangunan kota tetap memperhatikan aspek pelestarian sejarah dan identitas kota.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis kondisi ruas jalan di kawasan cagar budaya Kota Bandung.
Pengumpulan data dilakukan melalui dua jenis
survei, yaitu:
- Survei primer, melalui observasi langsung di lapangan untuk melihat kondisi fisik jalan dan bangunan di sekitarnya.
- Survei sekunder, melalui studi dokumen perencanaan kota, regulasi, serta literatur terkait tata ruang dan pelestarian cagar budaya.
Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan teknologi
sistem informasi geografis (GIS) untuk menganalisis kesesuaian antara
kondisi lapangan dengan rencana garis sempadan jalan dalam dokumen perencanaan
kota.
Metode analisis yang digunakan meliputi:
- Analisis plan line untuk mengevaluasi rencana pelebaran jalan.
- Metode superimpose untuk membandingkan berbagai peta tata ruang.
- Analisis topologi pemetaan dalam sistem informasi geografis.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti
mengidentifikasi secara lebih akurat hubungan antara dimensi jalan, lokasi
bangunan cagar budaya, serta rencana tata ruang kota.
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan
penting terkait kondisi ruas jalan di kawasan cagar budaya Bandung.
Sejumlah lokasi cagar budaya tidak sesuai
dengan rencana garis jalan
Penelitian menemukan bahwa beberapa bangunan
cagar budaya berada pada lokasi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan rencana
garis sempadan jalan dalam dokumen tata ruang Kota Bandung.
Ketidaksesuaian ini terutama terjadi pada:
- Rencana lebar jalan (rumija).
- Garis sempadan bangunan (GSB).
Hal ini menunjukkan bahwa rencana tata ruang
yang ada perlu dievaluasi agar lebih sesuai dengan kondisi bangunan bersejarah
yang sudah ada.
Banyak bangunan cagar budaya tidak dapat dipindahkan atau dibongkar
Sebagian besar bangunan cagar budaya di
Bandung termasuk dalam kelompok A, yaitu kategori bangunan yang tidak
boleh dibongkar karena memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bangunan dalam kategori ini harus dilestarikan
secara utuh, termasuk struktur utama dan karakter arsitekturnya. Jika bangunan
mengalami kerusakan berat, rekonstruksi harus dilakukan dengan mempertahankan
bentuk aslinya. Kondisi ini membuat rencana pelebaran jalan di
beberapa ruas tidak dapat dilakukan tanpa menimbulkan konflik dengan kebijakan
pelestarian cagar budaya.
Kawasan cagar budaya membutuhkan
penyesuaian kebijakan tata ruang
Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa ruas
jalan di kawasan cagar budaya Bandung memerlukan penyesuaian dalam rencana tata
ruang kota.
Penyesuaian ini bertujuan untuk:
- Mempertahankan bangunan bersejarah.
- menjaga kelancaran mobilitas kendaraan.
- Meningkatkan kualitas fasilitas pejalan kaki.
- Mendukung kawasan wisata sejarah kota.
Dengan pendekatan ini, pembangunan kota dapat
tetap berjalan tanpa mengorbankan nilai sejarah yang dimiliki kawasan tersebut.
Implikasi bagi Perencanaan Kota
Implikasi bagi Perencanaan Kota
Penelitian ini memberikan sejumlah rekomendasi
penting bagi perencanaan tata ruang Kota Bandung.
Pertama, pemerintah
kota perlu meninjau kembali rencana garis jalan di kawasan cagar budaya
agar lebih sesuai dengan kondisi bangunan bersejarah yang dilindungi.
Kedua,
kebijakan pembangunan harus mempertimbangkan keseimbangan antara mobilitas
transportasi dan pelestarian warisan budaya.
Ketiga,
pengembangan kawasan cagar budaya dapat diarahkan untuk mendukung pariwisata
sejarah dan aktivitas ekonomi kreatif, sehingga kawasan tetap hidup tanpa
merusak nilai historisnya.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa
pelestarian bangunan bersejarah tidak hanya berkaitan dengan aspek budaya,
tetapi juga menjadi bagian penting dari strategi pembangunan kota
berkelanjutan.
Profil Penulis
Ina Revayanti merupakan akademisi dari Universitas Winaya Mukti yang memiliki fokus penelitian pada bidang perencanaan wilayah dan kota, tata ruang perkotaan, serta pelestarian kawasan bersejarah.
Sumber Penelitian
Ina Revayanti. The Evaluation of Roads Width on Cultural Heritage Area's Street Sections in Bandung City. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS), Vol. 5 No. 2, hlm. 717-736. 2026.

0 Komentar