Surabaya, Jawa Timur— Efektivitas
Implementasi Pendaftaran dan Pengelolaan Data Tanah Secara Sistematis di BPN
Surabaya II. Penelitian ini dilakukan oleh Adi Kresna Sakti, Nahdiya Sabrina,
dan Leni Dwi Nurmala dari Universitas Merdeka Malang dalam artikel ilmiah yang
terbit di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) pada tahun
2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Adi
Kresna Sakti, Nahdiya Sabrina, dan Leni Dwi Nurmala mengungkapkan bahwa penerapan
sistem digital pada Badan Pertanahan Nasional (BPN) Surabaya II berhasil
mempercepat proses administrasi tanah, meningkatkan akurasi data, serta memperkuat
transparansi layanan dibandingkan sistem manual yang sebelumnya digunakan.
Transformasi digital ini dinilai menjadi langkah strategis untuk menjawab
tuntutan pelayanan publik yang cepat, akuntabel, dan berbasis teknologi.
Sistem
manual dinilai tidak lagi efisien
Berdasarkan
hasil wawancara, observasi lapangan, dan analisis dokumen administrasi
pertanahan, tim peneliti menemukan bahwa sistem manual menghadapi berbagai
kendala operasional. Proses pengelolaan data yang masih berbasis dokumen fisik
menyebabkan waktu penyelesaian berkas relatif lama, yaitu sekitar tiga hingga
enam bulan untuk satu kasus.
Selain
itu, pencarian arsip sering memakan waktu panjang karena harus dilakukan secara
langsung di ruang penyimpanan. Risiko kesalahan manusia, kehilangan dokumen,
serta kerusakan arsip akibat faktor lingkungan menjadi masalah yang terus
berulang.
Penelitian
ini juga menunjukkan bahwa sistem manual membutuhkan sumber daya besar,
termasuk tenaga kerja tambahan untuk pengarsipan dan ruang penyimpanan yang
luas. Kondisi tersebut membuat efisiensi pelayanan menjadi rendah dan berdampak
pada kepuasan masyarakat.
Transformasi
digital melalui LAMPRIMA
Sebagai
respons terhadap berbagai tantangan tersebut, BPN Surabaya II
mengimplementasikan aplikasi LAMPRIMA sebagai sistem pengelolaan data
pertanahan berbasis digital. Sistem ini menghadirkan sejumlah fitur utama,
seperti pengisian data otomatis, validasi digital, pemetaan elektronik, serta
monitoring proses secara real-time.
LAMPRIMA
memungkinkan integrasi data dari berbagai perangkat pengukuran modern seperti
GPS geodetik dan drone. Proses pembuatan peta yang sebelumnya memakan waktu
beberapa hari kini dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar satu hari.
Peneliti
mencatat beberapa perubahan signifikan setelah penerapan sistem digital:
- Waktu penyelesaian berkas berkurang dari 3–6 bulan menjadi
sekitar 1–2 bulan.
- Kesalahan input data menurun karena adanya validasi otomatis.
- Pencarian dokumen dapat dilakukan dalam hitungan detik
melalui sistem digital.
- Transparansi meningkat melalui fitur pelacakan berkas secara
real-time.
Akurasi
data meningkat dan risiko konflik berkurang
Digitalisasi
tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga meningkatkan kualitas data
pertanahan. Sistem mampu mendeteksi ketidaksesuaian data secara otomatis serta
membantu mencegah tumpang tindih kepemilikan lahan yang berpotensi menimbulkan
konflik.
Dari sisi
keamanan, penyimpanan digital dilengkapi sistem autentikasi pengguna,
pencatatan aktivitas, serta backup data berkala. Hal ini memberikan
perlindungan yang lebih baik dibandingkan penyimpanan dokumen fisik yang rentan
rusak atau hilang.
Menurut
Adi Kresna Sakti dari Universitas Merdeka Malang, transformasi digital dalam
administrasi pertanahan bukan hanya perubahan teknologi, tetapi juga perubahan
budaya kerja menuju sistem yang lebih transparan dan berbasis data.
Tingkat
kepuasan pengguna meningkat
Penelitian
menunjukkan bahwa sekitar 80 persen pegawai internal merasa puas dengan
implementasi LAMPRIMA karena pekerjaan menjadi lebih cepat dan terstruktur.
Dari sisi masyarakat, kepuasan meningkat karena proses layanan lebih transparan
dan waktu penyelesaian lebih singkat.Fitur pelacakan digital memungkinkan
masyarakat memantau progres berkas secara langsung, sehingga meningkatkan kepercayaan
terhadap layanan pemerintah.
Tantangan
implementasi digital
Meski
memberikan banyak manfaat, penerapan LAMPRIMA juga menghadapi sejumlah
hambatan. Beberapa pegawai senior menunjukkan resistensi terhadap perubahan
dari sistem manual ke digital. Selain itu, kesenjangan kompetensi digital serta
ketergantungan pada stabilitas jaringan internet menjadi tantangan yang perlu
diatasi.Peneliti menekankan pentingnya pelatihan berkelanjutan, peningkatan
literasi digital aparatur, serta penguatan infrastruktur teknologi agar
transformasi digital berjalan optimal.
Implikasi
bagi kebijakan publik dan modernisasi layanan
Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa digitalisasi administrasi pertanahan
berpotensi meningkatkan kualitas pelayanan publik secara menyeluruh. Integrasi
sistem digital dapat memperkuat koordinasi antarinstansi, meningkatkan
transparansi birokrasi, serta memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.
Peneliti
merekomendasikan beberapa langkah strategis:
1.
Pelatihan rutin untuk meningkatkan kompetensi
digital pegawai.
2.
Penguatan infrastruktur teknologi dan keamanan
data.
3.
Integrasi sistem pertanahan dengan layanan
pemerintah lainnya.
4.
Sosialisasi layanan digital kepada masyarakat
untuk meningkatkan pemanfaatan sistem.
Profil
penulis
1.
Adi Kresna Sakti – Universitas Merdeka Malang
2.
Nahdiya Sabrina – Universitas Merdeka Malang
3.
Leni Dwi Nurmala – Universitas Merdeka Malang
Sumber
penelitian
Sakti, A.K., Sabrina, N., &
Nurmala, L.D. (2026). The Effectiveness of the Implementation of Systematic
Land Data Registration and Management at BPN Surabaya II.
East Asian
Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 2, hlm. 609–622.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i2.22
URL Resmi: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar