Degradasi Hutan Hulu Jeneberang Picu Lonjakan Risiko Banjir Bandang di Era Perubahan Iklim

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Makkasar - Perubahan tutupan lahan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang di Sulawesi Selatan terbukti meningkatkan risiko banjir bandang secara signifikan. Temuan ini diungkap oleh Asikin Muchtar dari Universitas Indonesia Timur dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di Formosa Journal of Science and Technology. Studi ini penting karena menggabungkan analisis perubahan lingkungan dan tren iklim selama dua dekade untuk menjelaskan mengapa banjir bandang kini semakin sering dan berbahaya.

Penelitian ini menyoroti bagaimana deforestasi di wilayah hulu, ditambah peningkatan curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim, mempercepat aliran air ke hilir. Dampaknya tidak hanya meningkatkan potensi banjir, tetapi juga memperluas wilayah berisiko tinggi, terutama di kawasan padat penduduk.

Tekanan Lingkungan di Hulu Semakin Kuat

Dalam dua dekade terakhir, kawasan hulu DAS Jeneberang mengalami perubahan besar. Data citra satelit menunjukkan luas hutan berkurang drastis dari sekitar 31.250 hektare pada 2003 menjadi 25.688 hektare pada 2023 penurunan sebesar 17,8%. Sebaliknya, lahan pertanian campuran dan semak meningkat tajam.

Perubahan ini berdampak langsung pada kemampuan tanah menyerap air. Hutan yang sebelumnya berfungsi sebagai “penyerap alami” kini tergantikan oleh permukaan yang lebih mudah menghasilkan limpasan air. Akibatnya, air hujan lebih cepat mengalir ke sungai tanpa sempat terserap ke dalam tanah.

Metode Analisis: Gabungan Data Satelit dan Iklim

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis data sekunder selama 20 tahun (2003–2023). Data yang dianalisis meliputi:

  • Citra satelit multitemporal untuk memetakan perubahan tutupan lahan
  • Data curah hujan harian dari stasiun meteorologi
  • Catatan kejadian banjir
  • Data kependudukan wilayah hilir

Analisis dilakukan menggunakan sistem informasi geografis (GIS) untuk memetakan perubahan lahan, serta metode statistik Mann–Kendall untuk mendeteksi tren curah hujan ekstrem. Selain itu, peneliti menghitung koefisien limpasan dan debit puncak sungai untuk mengukur respons hidrologi terhadap hujan deras.

Hasil Utama: Risiko Banjir Meningkat Signifikan

Penelitian ini menghasilkan sejumlah temuan penting:

  • Penurunan hutan 17,8% di wilayah hulu
  • Koefisien limpasan meningkat 19%, menunjukkan lebih banyak air langsung mengalir ke permukaan
  • Debit puncak sungai naik 24% saat hujan ekstrem
  • Curah hujan harian maksimum meningkat signifikan secara statistik
  • Wilayah risiko tinggi banjir bertambah 29%, terutama di daerah padat penduduk

Temuan ini menunjukkan adanya hubungan kuat antara degradasi lingkungan dan peningkatan risiko bencana. Tidak hanya faktor alam, tetapi juga aktivitas manusia memperparah kondisi ini.

Perubahan Iklim Memperkuat Ancaman

Selain perubahan lahan, penelitian ini juga menemukan tren peningkatan intensitas hujan ekstrem. Meski total curah hujan tahunan tidak berubah signifikan, kejadian hujan sangat lebat (lebih dari 100 mm per hari) semakin sering terjadi.

Artinya, risiko banjir tidak lagi ditentukan oleh jumlah hujan tahunan, melainkan oleh intensitas hujan dalam waktu singkat. Ketika hujan deras terjadi di wilayah hulu yang sudah terdegradasi, air langsung mengalir deras ke hilir dan memicu banjir bandang.

Dampak Terbesar di Wilayah Hilir

Pemetaan risiko menunjukkan bahwa daerah hilir mengalami peningkatan ancaman paling besar. Wilayah berisiko tinggi bertambah dari 4.860 hektare menjadi 6.269 hektare dalam periode studi.

Menariknya, peningkatan risiko tidak hanya dipicu oleh faktor alam, tetapi juga kepadatan penduduk. Kawasan dengan populasi tinggi memiliki tingkat kerentanan dan paparan yang lebih besar, sehingga dampak banjir menjadi lebih parah.

Penelitian ini menegaskan bahwa risiko bencana adalah hasil interaksi antara bahaya alam dan faktor sosial.

Solusi: Restorasi Hutan Hulu Terbukti Efektif

Studi ini juga menguji skenario restorasi lingkungan. Jika tutupan hutan di hulu ditingkatkan sebesar 10%, hasilnya cukup signifikan:

  • Koefisien limpasan turun 8%
  • Debit puncak berkurang 8%
  • Wilayah risiko tinggi menurun hingga 10%

Temuan ini menunjukkan bahwa rehabilitasi hutan bukan hanya solusi ekologis, tetapi juga strategi efektif untuk mengurangi risiko bencana.

Menurut Asikin Muchtar dari Universitas Indonesia Timur, hasil ini memberikan dasar ilmiah kuat bagi kebijakan pengelolaan DAS berbasis ekosistem. Restorasi hutan dan pengaturan tata ruang menjadi kunci dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Implikasi untuk Kebijakan dan Masyarakat

Penelitian ini memiliki implikasi luas, terutama bagi pemerintah daerah dan perencana pembangunan. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:

  • Restorasi hutan di wilayah hulu
  • Pembatasan alih fungsi lahan di lereng curam
  • Penguatan tata ruang berbasis daya dukung lingkungan
  • Pengembangan sistem peringatan dini di wilayah hilir
  • Pengelolaan kawasan rawan banjir secara terpadu

Pendekatan ini menekankan pentingnya integrasi antara mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim.

Profil Penulis

Asikin Muchtar, S.T., M.T. adalah peneliti di Universitas Indonesia Timur yang memiliki keahlian di bidang hidrologi, analisis spasial, dan manajemen risiko bencana. Fokus penelitiannya mencakup interaksi antara perubahan lingkungan, sistem hidrologi, dan dampak perubahan iklim di wilayah tropis.

Sumber Penelitian

Muchtar, A. (2026). Upstream Watershed Degradation and Increased Risk of Flash Floods Amid Climate Change. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5(3), 787–804.


Artikel ini menegaskan satu hal: banjir bandang bukan sekadar fenomena alam, tetapi hasil akumulasi tekanan lingkungan dan perubahan iklim. Tanpa intervensi serius di wilayah hulu, risiko di hilir akan terus meningkat.

Posting Komentar

0 Komentar