Tekanan Proyek dan Kepuasan Kerja Menurun
Industri konstruksi dikenal memiliki ritme kerja cepat, target ketat, serta jam kerja panjang. Kondisi ini juga terjadi pada karyawan operasional PT XYZ di Bandung, yang menjadi objek penelitian. Data internal perusahaan menunjukkan tingkat turnover mencapai sekitar 13,5 persen pada 2025, melebihi batas sehat organisasi yang umumnya di bawah 10 persen. Tingginya angka keluar-masuk karyawan menjadi indikator adanya masalah kepuasan kerja.
Wawancara dalam penelitian mengungkap bahwa karyawan sering menjalankan dua peran sekaligus: pekerjaan administratif di kantor serta pengawasan proyek di lapangan. Bahkan setelah jam kerja kantor selesai, mereka masih harus memantau proyek pada malam hari.
Jam kerja mingguan tercatat mencapai 54–58 jam di luar lembur, dengan tambahan 12–15 jam lembur saat proyek mendekati tenggat. Kondisi tersebut mempersempit waktu pribadi dan keluarga, sehingga memicu ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.
Metodologi Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dan asosiatif. Sebanyak 34 karyawan operasional tetap yang telah bekerja lebih dari tiga tahun dijadikan responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, serta dokumentasi perusahaan.
Analisis dilakukan menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak statistik. Model penelitian ini bertujuan melihat pengaruh beban kerja dan work-life balance terhadap kepuasan kerja, baik secara parsial maupun simultan.
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan penting:
- Beban kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja (nilai t = 3,336).
- Work-life balance juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja (nilai t = 3,222).
- Kedua variabel secara simultan berpengaruh sangat kuat terhadap kepuasan kerja karyawan.
- Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,853 menunjukkan bahwa 85,3 persen variasi kepuasan kerja dijelaskan oleh dua faktor tersebut.
Artinya, ketika beban kerja diatur secara proporsional dan karyawan memiliki ruang untuk kehidupan pribadi, tingkat kepuasan kerja meningkat secara nyata.
Penelitian juga menemukan bahwa pengelolaan tugas yang sesuai kapasitas tidak hanya meningkatkan kepuasan, tetapi juga mencegah kelelahan, absensi tinggi, serta penurunan motivasi kerja.
Implikasi bagi Dunia Kerja
Menurut peneliti dari Universitas Jenderal Achmad Yani, hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan konstruksi perlu meninjau ulang pembagian tugas dan jam kerja karyawan operasional.
Shandy Aghnia Rachman menekankan bahwa organisasi perlu secara berkala mengevaluasi beban mental, waktu, dan tekanan psikologis yang dialami pekerja. Ia menyebut kebijakan fleksibilitas waktu, kejelasan peran, serta dukungan atasan dapat menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kepuasan kerja.
Temuan ini juga relevan bagi sektor lain dengan ritme kerja tinggi, seperti logistik, manufaktur, dan layanan publik. Pengelolaan keseimbangan kerja bukan lagi sekadar isu kesejahteraan, tetapi faktor strategis yang memengaruhi retensi karyawan dan kinerja organisasi.
Bagi pembuat kebijakan, studi ini menegaskan pentingnya pengawasan jam kerja serta perlindungan hak pekerja agar tidak melebihi batas regulasi.
Dampak bagi Pendidikan dan Penelitian
Hasil penelitian memperkuat teori person–environment fit, yang menyatakan kepuasan kerja muncul ketika tuntutan pekerjaan selaras dengan kemampuan individu.
Penelitian ini juga membuka peluang riset lanjutan dengan memasukkan variabel lain seperti lingkungan kerja, fleksibilitas organisasi, gaji, motivasi, hingga budaya perusahaan. Dengan cakupan lebih luas, pemahaman tentang kepuasan kerja dapat menjadi dasar kebijakan manajemen SDM yang lebih berkelanjutan.
0 Komentar