Untuk Mempelajari Persepsi Generasi Z tentang Desain Kantor Ramah Lingkungan dan Motivasi Kerja di Ahmedabad dan Hyderabad



Kantor Ramah Lingkungan Lebih Disukai Gen Z, Cahaya Alami dan Material Ramah Lingkungan Tingkatkan Fokus Kerja

Kantor dengan desain ramah lingkungan—lengkap dengan pencahayaan alami, ruang hijau, dan material berkelanjutan—terbukti mampu meningkatkan fokus, kepuasan, dan motivasi kerja Generasi Z, menurut penelitian terbaru yang dilakukan oleh Akash Solanki bersama Dhara Veervani dan Jignesh Vidani dari LJ University, India, pada 2024–2025. Studi yang melibatkan 175 responden di Ahmedabad dan Hyderabad ini menunjukkan bahwa meski sebagian sikap terhadap keberlanjutan relatif sama lintas usia, beberapa aspek desain hijau—terutama cahaya alami, kemudahan berkonsentrasi, dan penggunaan eco-material—memiliki hubungan signifikan dengan faktor usia. Temuan ini penting karena Gen Z kini menjadi bagian yang semakin besar dari angkatan kerja, sementara banyak perusahaan berlomba menciptakan ruang kerja yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan karyawan.

Selama satu dekade terakhir, desain kantor tidak lagi hanya soal estetika dan efisiensi, tetapi juga kesehatan karyawan dan dampak lingkungan. Perusahaan mulai mengintegrasikan konsep biophilic design—desain yang menghadirkan unsur alam ke dalam ruang kerja—melalui tanaman indoor, ventilasi alami, dan pencahayaan matahari. Tren ini semakin relevan di kota-kota berkembang seperti Ahmedabad dan Hyderabad, yang menghadapi tantangan urbanisasi, polusi, dan kebutuhan akan ruang kerja yang lebih sehat. Di sisi lain, Generasi Z dikenal lebih peka terhadap isu lingkungan dan cenderung memilih tempat kerja yang sejalan dengan nilai-nilai keberlanjutan. Penelitian ini berangkat dari pertanyaan sederhana namun strategis: apakah desain kantor ramah lingkungan benar-benar memengaruhi motivasi dan kinerja Gen Z?

Untuk menjawabnya, tim peneliti menggunakan metode survei berbasis kuesioner daring yang disebarkan melalui Google Form. Responden dipilih dengan teknik non-probability convenient sampling dan mencakup mahasiswa, karyawan swasta dan pemerintah, profesional, pengusaha, serta ibu rumah tangga. Sebanyak 82,3 persen responden berusia 18–25 tahun, mencerminkan dominasi Gen Z dalam sampel. Kuesioner berisi 10 pernyataan yang menilai persepsi terhadap elemen kantor ramah lingkungan—mulai dari pencahayaan alami, area hijau, fasilitas daur ulang, hingga penggunaan material berkelanjutan. Data kemudian dianalisis menggunakan SPSS dan Excel, dengan uji reliabilitas Cronbach’s Alpha yang menghasilkan nilai sangat tinggi (0,914), menandakan instrumen penelitian konsisten dan dapat dipercaya.

Hasil penelitian menunjukkan pola yang jelas: mayoritas responden melihat desain kantor ramah lingkungan secara positif. Lebih dari 85 persen setuju bahwa kantor berkelanjutan meningkatkan motivasi kerja. Sebanyak 78,8 persen merasa bahwa akses cahaya alami membuat mereka lebih produktif dan lebih sejahtera secara mental. Lebih dari 82 persen mengaku lebih termotivasi bekerja di kantor yang memiliki tanaman atau ruang hijau. Selain itu, banyak responden menyatakan mereka cenderung bertahan lebih lama di perusahaan yang memprioritaskan keberlanjutan.

Namun, ketika dilihat dari perspektif usia, tidak semua aspek menunjukkan hubungan yang signifikan. Dari 10 hipotesis yang diuji, hanya tiga yang terbukti berkorelasi dengan usia: persepsi bahwa cahaya alami meningkatkan kinerja kerja, kemudahan fokus di kantor berdesain berkelanjutan, dan kepuasan terhadap penggunaan eco-material seperti furnitur daur ulang atau lantai ramah lingkungan. Ini mengindikasikan bahwa kelompok usia lebih muda cenderung lebih sensitif terhadap elemen-elemen tertentu dalam desain hijau dibandingkan kelompok usia lebih tua. Sebaliknya, sikap terhadap tanggung jawab lingkungan, keterikatan pada organisasi, dan motivasi umum relatif seragam lintas usia dalam sampel yang didominasi Gen Z.

Implikasi penelitian ini sangat relevan bagi perusahaan, arsitek, dan manajer fasilitas. Pertama, investasi pada pencahayaan alami dan ruang hijau bukan sekadar tren, tetapi strategi nyata untuk meningkatkan fokus, mengurangi stres, dan memperbaiki suasana kerja. Kedua, penggunaan material ramah lingkungan—seperti furnitur daur ulang, cat rendah emisi, atau lantai berkelanjutan—tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kepuasan karyawan. Ketiga, dari sisi manajemen sumber daya manusia, desain kantor berkelanjutan dapat menjadi alat employer branding yang efektif untuk menarik dan mempertahankan talenta muda yang peduli lingkungan.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa keberlanjutan di tempat kerja tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan manusia. Kantor hijau bukan hanya mengurangi jejak karbon, tetapi juga membangun budaya kerja yang lebih sehat, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang. Seperti yang diparafrasekan dari pandangan tim peneliti LJ University, “Desain kantor berkelanjutan seharusnya dipandang sebagai keunggulan strategis organisasi, bukan sekadar biaya tambahan.”

Ke depan, para peneliti merekomendasikan studi lanjutan dengan sampel yang lebih beragam dari sisi usia, profesi, dan latar belakang budaya. Mereka juga menyarankan penggunaan indikator kinerja objektif—misalnya data produktivitas atau tingkat absensi—untuk melengkapi data persepsi. Selain itu, penelitian masa depan dapat mengeksplorasi bagaimana desain hijau diterapkan dalam model kerja hybrid dan remote, yang semakin umum pascapandemi.

Profil Penulis

Akash Solanki, MBA — Dosen dan peneliti di LJ University, Ahmedabad; fokus riset pada perilaku organisasi, keberlanjutan tempat kerja, dan motivasi karyawan.

Dhara Veervani, PhD — Akademisi di LJ University dengan keahlian di manajemen sumber daya manusia dan psikologi organisasi.

Jignesh Vidani, PhD — Profesor di LJ University, pakar pemasaran, perilaku konsumen, dan manajemen berkelanjutan.

Sumber Penelitian
Solanki, A., Veervani, D., & Vidani, J. (2025). To Study Gen Z’s Perception of Eco-Friendly Office Designs and Workplace Motivation in Ahmedabad and Hyderabad. International Journal of Integrative Research (IJIR), 4(1), 1005–1024. DOI: https://doi.org/10.59890/ijir.v4i1.129

Posting Komentar

0 Komentar