Di banyak sekolah, kimia masih dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang sulit, abstrak, dan penuh rumus. Materi sering disajikan dalam bentuk teori tanpa dikaitkan dengan realitas sehari-hari siswa. Kondisi ini berkontribusi terhadap rendahnya minat belajar dan pemahaman konsep, yang tercermin dari capaian literasi sains Indonesia di berbagai asesmen internasional.
Pendekatan etnosains menawarkan solusi dengan mengaitkan konsep sains modern dengan kearifan lokal. Dalam pembelajaran kimia, etnosains berarti menjelaskan konsep kimia melalui praktik budaya seperti pengolahan pangan tradisional, kerajinan, atau aktivitas lingkungan yang sudah akrab bagi siswa. Dengan cara ini, siswa dapat melihat bahwa kimia bukan hanya ada di buku, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar yang mendorong pembelajaran kontekstual, fleksibel, dan berpusat pada siswa. Namun, sejauh mana guru siap menerapkannya di kelas masih menjadi pertanyaan. Inilah yang dieksplorasi oleh Djarwo dan Lepa melalui penelitian mereka.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggali pengalaman nyata guru dan mahasiswa terkait pembelajaran kimia berbasis etnosains.
Data dikumpulkan melalui:
- Wawancara mendalam dengan dua guru kimia SMA yang pernah menerapkan pembelajaran berbasis etnosains
- Wawancara dengan tiga mahasiswa Pendidikan Kimia Universitas Cenderawasih
- Observasi pembelajaran di kelas
Analisis dokumen berupa silabus, RPP, dan bahan ajar
Data kemudian dianalisis secara bertahap untuk menemukan pola, tema, dan makna utama dari pengalaman para responden.
Temuan Utama
Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran guru akan pentingnya etnosains dan kemampuan mereka untuk menerapkannya secara sistematis.
Beberapa temuan penting meliputi:
- Guru memahami etnosains sebagai pembelajaran yang mengaitkan konsep kimia dengan budaya lokal.
- Guru menilai pendekatan ini dapat meningkatkan minat dan keaktifan siswa.
- Sebagian besar guru belum memiliki keterampilan khusus untuk merancang perangkat pembelajaran berbasis etnosains.
- Bahan ajar yang memuat contoh lokal masih sangat terbatas.
- Kurikulum yang padat membuat guru kesulitan menyediakan waktu untuk eksplorasi konteks budaya.
Salah satu praktik yang disorot dalam penelitian adalah penggunaan proses pengolahan sagu untuk menjelaskan konsep fermentasi dan perubahan kimia. Guru mengajak siswa mengidentifikasi tahapan pengolahan sagu dan mengaitkannya dengan reaksi kimia yang terjadi. Pendekatan ini terbukti meningkatkan rasa ingin tahu dan partisipasi siswa.
Mahasiswa Pendidikan Kimia yang diwawancarai juga mengungkapkan bahwa saat masih di SMA, pembelajaran kimia jarang dikaitkan dengan budaya lokal. Mereka baru menyadari kemudian bahwa banyak aktivitas tradisional di sekitar mereka mengandung konsep kimia yang relevan.
Mengapa Etnosains Efektif
Pembelajaran berbasis etnosains bekerja karena:
- Menghubungkan konsep abstrak dengan pengalaman nyata siswa
- Memanfaatkan pengetahuan awal yang sudah dimiliki siswa
- Meningkatkan rasa memiliki terhadap proses belajar
- Menghargai budaya lokal sebagai sumber pengetahuan
Catur Fathonah Djarwo dari Universitas Cenderawasih menjelaskan bahwa ketika guru mengaitkan konsep kimia dengan praktik budaya yang familiar, siswa lebih mudah memahami makna konsep tersebut dan terdorong untuk berpikir lebih dalam. Secara etis dapat diparafrasekan bahwa integrasi kearifan lokal membuat pembelajaran kimia lebih konkret dan relevan bagi kehidupan siswa.
Implikasi dan Dampak
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi dunia pendidikan.
Bagi lembaga pendidikan guru, etnosains perlu dimasukkan dalam kurikulum perkuliahan dan pelatihan calon guru. Guru perlu dibekali keterampilan merancang modul, LKPD, dan asesmen berbasis konteks lokal.
Bagi sekolah, diperlukan dukungan manajemen untuk mendorong kolaborasi antarguru dalam menggali potensi budaya setempat sebagai sumber belajar.
Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan bahan ajar nasional yang lebih fleksibel dan kontekstual, serta memperluas pelatihan guru terkait pembelajaran berbasis etnosains.
Bagi masyarakat, pendekatan ini membantu melestarikan kearifan lokal sekaligus memperkuat pemahaman generasi muda tentang sains.
Jika diterapkan secara luas, etnosains berpotensi mengubah pembelajaran kimia dari sekadar hafalan konsep menjadi eksplorasi ilmiah yang bermakna dan dekat dengan kehidupan.
0 Komentar