Telecounseling Turunkan Intensitas Bunuh Diri Mahasiswa di Indonesia

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Layanan telecounseling berbasis aplikasi terbukti menurunkan intensitas perilaku bunuh diri dan kebiasaan self-diagnosis pada mahasiswa Indonesia. Temuan ini dipublikasikan oleh Thika Marliana dan tim dari Universitas Respati Indonesia bersama kolaborator internasional pada 2026. Studi tersebut menjadi bukti kuat bahwa intervensi kesehatan mental berbasis digital dapat menjadi solusi nyata di tengah meningkatnya risiko bunuh diri pada usia muda.

Penelitian ini dilakukan oleh Thika Marliana (Faculty of Health Sciences, Universitas Respati Indonesia), Dilara Sert Kasim (Nursing Department, Acibadem Mehmet Ali Aydinlar University, Turki), Desmiwati, Ramadhani Ulansari, F. Asisi Ricky Bayu Styanto (Faculty of Information Technology, Universitas Respati Indonesia), serta Dewi Nawang Sari (Faculty of Health Sciences, Universitas Respati Indonesia). Hasilnya diterbitkan dalam Formosa Journal of Science and Technology Volume 5 Nomor 2 Tahun 2026.

Krisis Literasi Kesehatan Mental Mahasiswa

Masalah kesehatan mental mahasiswa bukan fenomena baru. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization mencatat bunuh diri sebagai salah satu penyebab utama kematian pada kelompok usia muda secara global. Di Indonesia, tekanan akademik, tuntutan sosial, serta stigma terhadap gangguan mental membuat mahasiswa kerap memilih memendam masalahnya sendiri.

Rendahnya literasi kesehatan mental mendorong mahasiswa mencari informasi secara mandiri melalui media sosial atau situs kesehatan daring. Namun, tanpa pendampingan profesional, proses ini sering berujung pada self-diagnosis yang keliru. Mahasiswa mencocokkan gejala yang dirasakan dengan informasi internet, lalu meyakini dirinya mengalami gangguan tertentu. Pola ini berisiko memperburuk kondisi psikologis dan meningkatkan kecenderungan menyakiti diri.

Thika Marliana menegaskan bahwa perilaku self-diagnosis bukan sekadar mencari tahu, tetapi sudah masuk tahap keyakinan personal tanpa validasi klinis. “Ketika mahasiswa membangun kesimpulan sendiri tentang kondisi mentalnya, risiko kesalahan persepsi menjadi sangat tinggi,” tulis tim peneliti.

Menguji Telecounseling pada 174 Mahasiswa

Penelitian ini melibatkan 174 mahasiswa aktif berusia 19–24 tahun di Indonesia. Desain yang digunakan adalah quasi-eksperimental dengan kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

Sebanyak 87 mahasiswa masuk kelompok intervensi yang mendapatkan layanan telecounseling berbasis aplikasi “teman curhat” melalui ponsel. Layanan ini dirancang dengan pendekatan keperawatan jiwa yang menekankan hubungan terapeutik, dukungan reflektif, dan komunikasi non-judgmental.

Sementara itu, 87 mahasiswa dalam kelompok kontrol hanya menerima edukasi kesehatan mental melalui media cetak tanpa akses telecounseling.

Peneliti mengukur tiga variabel utama:

  • Perilaku self-diagnosis
  • Kecenderungan self-harm
  • Intensitas perilaku bunuh diri

Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah intervensi, lalu dianalisis secara komparatif.

Self-Diagnosis dan Self-Harm Cukup Tinggi

Hasil awal menunjukkan pola self-diagnosis yang dominan pada mahasiswa:

  • Mencari informasi gangguan mental di media sosial
  • Mengakses situs kesehatan untuk mencocokkan gejala
  • Meyakini kecocokan gejala dengan gangguan tertentu

Perilaku “mencocokkan gejala” menjadi pola paling dominan. Ini menunjukkan mahasiswa tidak hanya mencari informasi, tetapi juga membangun keyakinan diagnosis secara mandiri.

Dalam aspek self-harm, peneliti menemukan berbagai bentuk perilaku menyakiti diri. Bentuk yang paling banyak dilaporkan adalah tindakan yang relatif mudah dilakukan dan bisa disembunyikan, menunjukkan adanya mekanisme koping maladaptif yang tidak terlihat secara kasat mata.

Untuk kecenderungan bunuh diri, indikator “ancaman bunuh diri” dan “isyarat bunuh diri” muncul lebih tinggi dibanding tindakan aktual. Artinya, banyak mahasiswa berada pada fase “cry for help” yang sebenarnya masih bisa dicegah dengan intervensi tepat waktu.

Telecounseling Turunkan Risiko Secara Signifikan

Perubahan paling mencolok terlihat pada kelompok yang menggunakan telecounseling.

Pada variabel intensitas kecenderungan bunuh diri:

  • Kelompok telecounseling mengalami penurunan skor jauh lebih besar dibanding kelompok kontrol.
  • Perbedaan penurunan antar kelompok signifikan secara statistik (p < 0,05).

Artinya, mahasiswa yang mendapatkan pendampingan digital menunjukkan pengurangan risiko bunuh diri yang lebih kuat dibanding mereka yang hanya menerima edukasi satu arah.

Hal serupa terjadi pada perilaku self-diagnosis. Kelompok telecounseling mengalami penurunan perilaku self-diagnosis yang lebih besar dibanding kelompok kontrol.

Temuan ini menunjukkan bahwa interaksi dua arah, klarifikasi psikologis, dan validasi emosional melalui telecounseling lebih efektif dibanding penyampaian informasi melalui media cetak.

Menurut tim peneliti, telecounseling memberi ruang aman bagi mahasiswa untuk mengungkapkan tekanan tanpa takut stigma. Hubungan terapeutik yang terbentuk menjadi faktor protektif terhadap impuls bunuh diri.

Implikasi bagi Kampus dan Kebijakan Publik

Studi ini membawa implikasi penting bagi perguruan tinggi dan pembuat kebijakan.

Pertama, layanan konseling digital perlu diintegrasikan dalam sistem layanan kemahasiswaan. Telecounseling terbukti lebih adaptif terhadap karakter generasi muda yang akrab dengan teknologi.

Kedua, kampus perlu memperkuat literasi kesehatan mental sejak awal masa studi untuk mencegah self-diagnosis yang tidak terarah.

Ketiga, pendekatan keperawatan jiwa berbasis teknologi dapat menjadi strategi preventif nasional dalam menekan angka bunuh diri mahasiswa.

Secara praktis, model ini juga lebih mudah diakses mahasiswa yang enggan datang ke layanan tatap muka karena stigma atau keterbatasan waktu.

Keterbatasan dan Rekomendasi

Peneliti mengakui desain quasi-eksperimental tanpa randomisasi penuh masih membuka kemungkinan faktor luar memengaruhi hasil. Selain itu, penggunaan kuesioner self-report berpotensi dipengaruhi bias persepsi responden.

Karena itu, penelitian lanjutan disarankan menggunakan desain longitudinal dan randomized controlled trial, serta mengeksplorasi peran peer support dalam telecounseling.

Meski demikian, studi ini memberikan bukti empiris kuat bahwa telecounseling bukan sekadar alternatif, melainkan strategi efektif dalam pencegahan risiko bunuh diri mahasiswa di era digital.

Profil Penulis

Ns. Thika Marliana, M.Kep
Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Respati Indonesia. Bidang keahlian: keperawatan jiwa dan intervensi kesehatan mental berbasis digital.

Dilara Sert Kasim, Ph.D., RN
Dosen Departemen Keperawatan, Acibadem Mehmet Ali Aydinlar University, Turki. Bidang keahlian: keperawatan kesehatan mental dan layanan telehealth.

Desmiwati, M.Kom, Ramadhani Ulansari, M.Kom, dan F. Asisi Ricky Bayu Styanto, M.Kom
Dosen Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Respati Indonesia. Fokus pada pengembangan aplikasi kesehatan digital.

Dewi Nawang Sari, M.Kep
Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Respati Indonesia. Bidang keahlian: promosi kesehatan dan keperawatan komunitas.

Sumber Penelitian

Marliana, T., Kasim, D. S., Desmiwati, Ulansari, R., Styanto, F. A. R. B., & Sari, D. N. (2026). Addressing Suicidal Ideation in the Digital Era: The Influence of Telecounseling Services Among University Students in Indonesia. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5(2), 515–528.

Artikel ini dipublikasikan dalam Formosa Journal of Science and Technology tahun 2026.

Posting Komentar

0 Komentar