Operasi caesar merupakan salah satu tindakan bedah paling sering dilakukan dalam pelayanan kebidanan. Meskipun bermanfaat untuk mencegah komplikasi pada ibu dan bayi, prosedur ini kerap dipersepsikan sebagai pengalaman yang menakutkan. Banyak ibu merasa cemas terhadap proses operasi, anestesi, rasa nyeri, hingga keselamatan dirinya dan bayi. Jika tidak ditangani, kecemasan dapat memicu peningkatan tekanan darah, denyut jantung, ketegangan otot, gangguan tidur, serta memperlambat pemulihan setelah operasi.
Selama ini, penanganan kecemasan praoperasi sering mengandalkan obat-obatan. Namun, penggunaan farmakologis memiliki keterbatasan karena potensi efek samping dan pertimbangan keamanan bagi ibu hamil. Oleh sebab itu, intervensi nonfarmakologis yang aman, sederhana, dan mudah diterapkan menjadi semakin penting dalam praktik keperawatan.
Salah satu pendekatan yang berkembang adalah Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). Teknik ini menggabungkan unsur spiritual, kesadaran emosi, dan stimulasi titik-titik energi tubuh melalui ketukan ringan (tapping). SEFT dirancang untuk membantu melepaskan emosi negatif, menenangkan pikiran, serta memunculkan respons relaksasi.
Latar Belakang Penelitian
Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menyediakan layanan kesehatan maternal yang holistik, termasuk aspek kesehatan mental ibu. Kecemasan menjelang persalinan, terutama pada ibu yang akan menjalani operasi caesar, sering kali kurang mendapatkan perhatian serius.
Di wilayah Maluku, penelitian terkait intervensi nonfarmakologis untuk menurunkan kecemasan praoperasi masih terbatas. Kondisi ini mendorong Sukardi, Lombonaung, dan Sabban untuk mengevaluasi efektivitas SEFT sebagai intervensi keperawatan komplementer yang dapat diterapkan di rumah sakit.
Metode Penelitian Singkat
Penelitian dilakukan pada tahun 2025 di ruang kebidanan Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Ambon. Desain yang digunakan adalah one-group pretest–posttest, yaitu mengukur tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi SEFT pada kelompok yang sama.
Sebanyak 15 ibu preoperasi caesar dipilih secara accidental sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Intervensi SEFT diberikan selama kurang lebih 10 menit mengikuti prosedur standar. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon karena distribusi data tidak normal.
Karakteristik Responden
Mayoritas responden berada pada usia reproduktif sehat 20–35 tahun (93,3%). Sebagian besar berpendidikan SMA (53,3%) dan berstatus sebagai ibu rumah tangga (93,3%). Dari sisi paritas, responden terbagi menjadi nullipara, primipara, dan multipara, dengan proporsi tertinggi pada multipara (40%).
Karakteristik ini menunjukkan bahwa kecemasan praoperasi dapat dialami oleh ibu dengan latar belakang usia, pendidikan, dan pengalaman melahirkan yang beragam.
Temuan Utama
Hasil penelitian menunjukkan perubahan yang sangat jelas setelah pemberian SEFT.
Sebelum intervensi SEFT:
- 60% ibu mengalami kecemasan sedang
- 40% ibu mengalami kecemasan berat
Setelah intervensi SEFT:
- 86,7% ibu mengalami kecemasan ringan
- 13,3% ibu tidak mengalami kecemasan
- Tidak ada lagi ibu dengan kecemasan sedang atau berat
Analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi p = 0,001, yang menandakan terdapat perbedaan bermakna antara tingkat kecemasan sebelum dan sesudah terapi SEFT.
Dengan kata lain, seluruh responden mengalami penurunan tingkat kecemasan setelah mendapatkan intervensi.
Mengapa SEFT Efektif
SEFT bekerja melalui kombinasi beberapa mekanisme:
- Spiritual affirmation, membantu individu menyerahkan kekhawatiran dan membangun ketenangan batin
- Fokus pada emosi, memungkinkan ibu menyadari dan menerima perasaan cemas
- Tapping pada titik energi, memicu respons relaksasi tubuh
Menurut Fany Sabban dari STIKes Maluku Husada, integrasi aspek spiritual dan psikologis dalam SEFT membantu pasien merasa lebih tenang, lebih menerima kondisi yang dihadapi, dan lebih siap menjalani tindakan medis. Secara etis dapat diparafrasekan, Sabban menjelaskan bahwa SEFT membantu menyeimbangkan emosi dan meningkatkan ketenangan batin sehingga kecemasan berkurang secara signifikan.
Dampak bagi Praktik Keperawatan
Temuan ini memperkuat peran perawat sebagai pemberi asuhan holistik, tidak hanya fokus pada aspek fisik, tetapi juga psikologis dan spiritual.
Beberapa implikasi penting dari penelitian ini:
- Bagi perawat: SEFT dapat digunakan sebagai intervensi mandiri yang mudah dipelajari dan diterapkan.
- Bagi rumah sakit: SEFT dapat dimasukkan ke dalam standar prosedur pendampingan praoperasi.
- Bagi ibu hamil: SEFT memberikan pilihan aman untuk mengelola kecemasan tanpa obat.
- Bagi pembuat kebijakan: hasil ini mendukung penguatan intervensi nonfarmakologis dalam layanan maternal.
Dengan durasi intervensi yang singkat dan tanpa peralatan khusus, SEFT berpotensi diterapkan secara luas di berbagai fasilitas kesehatan.
Keterbatasan dan Arah Lanjutan
Penelitian ini melibatkan jumlah responden yang relatif kecil dan tidak menggunakan kelompok kontrol. Oleh karena itu, penulis merekomendasikan penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar, desain eksperimen terkontrol, serta evaluasi efek jangka panjang SEFT.
Meski demikian, temuan ini memberikan bukti awal yang kuat bahwa SEFT merupakan intervensi komplementer yang menjanjikan.
0 Komentar