Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Pulau Mambor, Kecamatan Mora, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua


Survei UNIPA Ungkap Kesehatan Terumbu Karang Pulau Mambor Paling Baik di Sisi Barat Papua

Nabire, Papua — Tim peneliti dari Universitas Papua (UNIPA) bersama Yayasan Meos Papua Lestari (YMPL) menemukan bahwa kondisi terumbu karang di perairan Pulau Mambor, Distrik Moora, Kabupaten Nabire, masih tergolong baik secara keseluruhan, dengan kualitas terbaik berada di sisi barat pulau. Survei lapangan yang dipimpin oleh Dr. Selvi Tebaiy (UNIPA) dilakukan pada Agustus–September 2022 dan menunjukkan perbedaan mencolok antara tiga lokasi pengamatan, yang memiliki implikasi langsung bagi perikanan lokal, perlindungan pantai, dan potensi wisata bahari.

Pulau Mambor berada di gugusan Kepulauan Moora yang hanya dapat diakses melalui laut. Wilayah ini dikelilingi ekosistem pesisir penting—terumbu karang, lamun, dan mangrove—yang menjadi penopang kehidupan masyarakat pesisir. Terumbu karang di kawasan ini bukan sekadar “pemandangan bawah laut”, tetapi habitat ikan, tempat bertelur, area pembesaran biota laut, sekaligus pelindung alami pantai dari gelombang. Kerusakan karang berarti berkurangnya ikan tangkapan, meningkatnya abrasi, dan hilangnya peluang wisata.

Bagaimana penelitian dilakukan?

Alih-alih metode rumit, tim menggunakan pendekatan yang lazim dalam pemantauan terumbu karang: Point Intercept Transect (PIT). Di tiga lokasi—selatan (Stasiun I), barat (Stasiun II), dan timur (Stasiun III) Pulau Mambor—peneliti membentangkan pita ukur sepanjang 50 meter di dasar laut pada kedalaman 3, 7, dan 10 meter. Setiap 50 sentimeter, mereka mencatat apa yang berada tepat di bawah garis transek: karang keras (Acropora dan non-Acropora), karang lunak, karang mati, karang mati beralga, pecahan karang (rubble), pasir, dan biota lain.

Data lapangan kemudian diolah untuk menghitung persentase tutupan karang hidup—indikator utama kesehatan terumbu karang yang diakui secara internasional.

Temuan utama: Barat paling sehat, timur paling rentan

Hasilnya memperlihatkan pola yang jelas:

1. Stasiun II (Barat Mambor)

-Tutupan karang hidup mencapai 84% — kategori “sangat baik”.

-Didominasi karang Acropora (72%), jenis bercabang yang tumbuh cepat dan menandakan perairan relatif bersih serta minim gangguan.

2. Stasiun I (Selatan Mambor)

-Tutupan karang hidup 50% — kategori “baik”.

-Didominasi karang non-Acropora (30%), tetapi ditemukan cukup banyak pecahan karang dan karang mati beralga, indikasi adanya tekanan aktivitas manusia.

3. Stasiun III (Timur Mambor)

-Tutupan karang hidup hanya 40% — kategori “sedang”.

-Banyak substrat non-karang seperti pasir dan karang mati beralga, serta pengaruh arus dan aktivitas dekat pelabuhan desa.

Jika dirata-ratakan, tutupan karang hidup di seluruh lokasi mencapai 58%, menempatkan kondisi terumbu Pulau Mambor dalam kategori baik secara umum, namun dengan variasi spasial yang signifikan.

Mengapa sisi barat lebih baik?

Menurut tim peneliti, perbedaan kondisi ini sangat terkait dengan aktivitas manusia dan karakteristik lingkungan. Sisi selatan (Stasiun I) berada dekat permukiman, sehingga lebih terpapar aktivitas nelayan, pemasangan jangkar, dan lalu lintas perahu. Pecahan karang (rubble) yang ditemukan di lokasi ini menjadi sinyal kerusakan fisik.

Sisi timur (Stasiun III) dekat pelabuhan dan area berarus, sehingga banyak sedimen dan biota non-karang yang menutupi substrat, menghambat pertumbuhan karang hidup.

Sebaliknya, sisi barat (Stasiun II) relatif lebih terlindung, memiliki topografi lereng yang mendukung keanekaragaman karang, serta minim gangguan langsung. Di sinilah karang tumbuh paling subur.

“Data kami menunjukkan bahwa perbedaan kesehatan terumbu bukan kebetulan alam semata, tetapi sangat dipengaruhi oleh pola aktivitas manusia di sekitar pulau,” ujar Selvi Tebaiy (UNIPA). “Jika ingin menjaga perikanan dan pariwisata Mambor, perlindungan harus difokuskan pada area-area yang rentan.”

Dampak bagi masyarakat dan pembangunan

Temuan ini memiliki beberapa implikasi penting:

1. Perikanan berkelanjutan

Terumbu yang sehat berarti stok ikan lebih stabil. Jika kerusakan berlanjut di selatan dan timur, nelayan berisiko kehilangan sumber penghidupan.

2. Perlindungan pantai alami

Karang hidup berfungsi sebagai pemecah gelombang. Jika rusak, risiko abrasi meningkat, terutama bagi permukiman pesisir.

3. Arah pengembangan wisata selam

Tim merekomendasikan sisi barat Pulau Mambor sebagai lokasi prioritas pengembangan wisata selam dan snorkeling karena memiliki tutupan karang tertinggi dan kondisi bawah laut paling menarik.

4. Pengelolaan berbasis bukti

Data spasial ini dapat menjadi dasar zonasi kawasan—mana yang perlu dilindungi ketat, mana yang bisa dimanfaatkan terbatas, dan mana yang perlu rehabilitasi.

Apa yang perlu dilakukan selanjutnya?

Peneliti menekankan perlunya pemantauan berkala, pembatasan jangkar di area sensitif, edukasi nelayan, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan terumbu. Tanpa langkah ini, kondisi baik hari ini bisa memburuk dalam beberapa tahun ke depan.


Profil Singkat Penulis

Dr. Selvi Tebaiy

-Afiliasi: Universitas Papua (UNIPA)

-Bidang keahlian: Ekologi Terumbu Karang dan Pengelolaan Pesisir

-Peran dalam penelitian: Peneliti utama dan koordinator lapangan

Tim penulis lain:

-Sampari S. Suruan (UNIPA)

-Yeri D. Blegur (UNIPA)

-Agnestesya Manuputty (UNIPA)

-Deni C. Mampioper (Yayasan Meos Papua Lestari)

-Philipus Musyeri (YMPL)

-Dodi Sawaki (YMPL)

-Hana Aronggear (YMPL)


Sumber Penelitian

Judul artikel jurnal: “Coral Reef Ecosystem Conditions on Mambor Island, Moora District, Nabire Regency, Papua Province”
Jurnal: International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS)
Tahun: 2026, Vol. 4 No. 1
DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i1.161

Posting Komentar

0 Komentar